Ospek memang sesuatu yang menyebalkan untuk diikuti. Setidaknya begitulah pemikiran Diana. Tugasnya yang selalu aneh dan entah apa kegunaan lain dari tugas yang diberikan kakak kelas itu selalu tidak jelas. Karena biasanya hal seperti ini lebih sering mengedepankan balas dendam para kakak kelas itu dibandingkan fungsi lain dari kegiatan yang dilakukan oleh mereka.
Ah tapi karena dia sudah masuk ke sekolah ini, mau tidak mau dia memang harus mengikuti bagian ini. Ini sudah hari kedua dan mereka para siswa yang baru masuk itu sudah dikumpulkan begitu saja di tengah lapang sejak pagi. Katanya hari ini khusus hari dimana acara akan dilakukan full di lapangan.
"Baiklah sekarang kita akan memulai sebuah games. Games apa coba itu?" Tanya salah seorang kakak kelas yang menjadi panitia acara ini.
Sayang sekali tidak ada yang berminat untuk menjawab dengan semangat. 'Memangnga kami ini anak tk masih pake nanya kaya gituan pula!' batin mereka.
Kakak kelas itu tidak menghiraukan mereka dan melanjutkan begitu saja kalimatnya, "Iya kita akan melakukan games 'Menyembunyikan Pekerjaan Rumah Pihak Lain'! Ayo, games ini adalah sebuah games dimana setiap anak harus menyembunyikan pekerjaan rumah atau biasa disingkat PR milik anak lainnya tanpa ketahuan siapapun. Apakah ada yang ingin ditanyakan?"
"Kalau ketahuan gimana kak?"
"Maka dia akan dianggap gugur."
"Kalau kita udah bisa mencuri tanpa ketahuan apa yang harus kita lakukan?"
"Terus jaga PR milik orang lain itu sampai waktu yang diberikan oleh kami selesai. Jika orang itu bisa menemukan PR nya di kamu maka kamu yang akan dianggap kalah dan nanti akan dihukum. Sementara dia yang paling banyak mengumpulkan buku PR milik yang lainnya akan menang dan mendapatkan hadiah. Baiklah sudah cukup penjelasannya dalam hitungan ketiga kita akan mulai ya."
Satu...
Dua...
Tiga...
Setiap anak mulai berlari-lari sambil menggendong tasnya. Beberapa bahkan ada yang tidak sadar bahwa buku PR-nya sudah jatuh dan diambil ke tangan orang lain. Sementara Diana malah berjalan santai dan menepi di salah satu pohon yang ada di lapangan. Ia memilih istirahat dan matanya pun terlelap begitu saja. Ia sungguh tidak peduli dengan games konyol seperti ini. 'Sungguh membuang-buang waktu' pikirnya.
Ia bahkan tak peduli ketika ada seorang anak yang mengambil bukunya dan membuat ia menjadi salah satu yang akan mendapatkan hukuman. Ia tetap memilih memejamkan matanya dan terlelap begitu saja.
Ia terbangun ketika ada yang menepuk bahunya. Ketika matanya terbuka, ia bisa melihat sesosok wajah tampan di hadapannya membuatnya tersentak kaget dan refleks mendorong lelaki itu hingga jatuh.
"Ah maafkan aku, habisnya kau mengagetkanku sih. Ah iya, siapa kamu?"
"Tak apa, aku juga salah karena tak memperhitungkan itu. Hahaha. Baiklah Perkenalkan namaku Angga. Salam kenal." Katanya sambil mengulurkan tangan setelah bangun dari posisi jatuhnya.
"Aku Diana. Salam kenal. Apa kau juga siswa baru?" sambut Diana.
"Yah begitulah. Ini, tadi aku tadi mengambil buku PR-mu. Tapi kau sepertinya tak peduli ya. Mengapa?" Tanyanya lagi seraya mengembalikan buku PR milik Diana.
"Aku memang tak tertarik dengan hal-hal konyol seperti ini." Jawabnya mengambil buku PR miliknya.
"Ah begitu, aku juga lebih tertarik pada dirimu daripada mengikuti games konyol itu. Jadi bagaimana kalau kita menghabiskan waktu bersama?"
"Boleh saja, kurasa itu lebih menyenangkan dan tak membosankan. Hahaha."
Dan begitulah. Mereka lebih memilih menyingkir dari kegiatan yang menurut mereka membosankan. Mereka lebih memilih untuk membangun kisah bersama daripada bermain games ayo sembunyikan pekerjaan rumah pihak lain.
FIN~~