Berdasarkan kisah nyata. Nama disamarkan.
Namaku Ri.
Aku adalah gadis dengan kepribadian sulit dipahami banyak orang. Aku punya kekasih. Namanya Dani. Aku punya sahabat namanya Fidya.
Mereka berdua salah satu alasanku untuk masih ada.
Keluarga? Hm..Haha.. Bicara soal keluarga mungkin bukan apa apa lagi buatku.
Pernah ketika...
Fidya dan Dani menasehatiku perihal diriku yang `tertutup`
"Ri. Aku mau kamu itu bisa terbuka akan perasaan kamu, ungkapin apa yang kamu rasa. Dengan ketertutupan kamu begitu, membuat Aku dan Fidya khawatir. Kami sayang sama kamu. Tolong pikirkan perasaan kami, orang yang sayang sama kamu" ujar Dani.
"Maaf.. Aku salah."
Hanya kata maaf yang bisa aku utarakan. Sebab apa? Aku malas menjelaskan, karena apa yang aku rasakan sepertinya tak akan mudah diterima oleh akal sehat Dani dan Fidya.
Hm.. Haha tapi kalau dipikir pikir `lucu` juga perkataan Dani. Aku tidak kesal... Melainkan ingin tertawa saja.
Bagaimana tidak? Lagi lagi secara tidak langsung kalimat darinya mengandung sedikit titah, supaya `aku bisa memikirkan dengan baik bagaimana perasaan mereka tentang kepribadianku yang cenderung sangat tertutup`
Apa aku harus memikirkan perasaan orang lain lagi? Jadi kapan untukku dipahami oleh orang orang yang menyatakan sayang kepadaku. Kenapa mereka tidak bisa memahami bahwa emosi dalam diriku memang telah mati.
Sungguh, aku tak peduli soal `nafsu`, soal emosi, soal perasaan sensitif. Kalau semua bisa ku kubur dalam diam aku akan lakukan itu. Sampai kapanpun. Hingga aku tak harus merasakan semua hal dalam hidupku.
Aku cinta sunyi. Aku cinta damai dalam hati. Karena aku lelah. Cukup. Sangat lelah dengan sebuah pertengkaran, ungkapan emosi, hancurnya keluarga.
Cacian mana yang belum aku dapat? Semua sudah kudapat. Pertengkaran paling buruk mana yang belum aku saksikan kecuali pertengkaran keluarga tempatku berpulang. Kepedihan mana yang terlewatkan dalam diriku selain kepedihan mempunyai ayah depresi.
Pertengkaran, permasalahan, pacuan emosi dalam hal `ASMARA dengan DANI` itu tidak ada apa apanya dibanding hancurnya perasaanku, hatiku, remuknya pikiranku ketika tau bahwa ikatan cinta dalam keluarga sudah pupus.
Kepedihan karena sikap manja yang kebanyakan dirasa oleh gadis yang memiliki kekasih pun tak dapat aku rasakan lagi... Karena jujur aku tidak mau membuang emosiku untuk hal menyedihkan begitu.
Aku... Tak mau merasakan apapun supaya luka juga menjauh dariku. Supaya kepedihan enggan bersamaku.
Sumpah. Demi apapun. Emosi, ungkapan perasaan, adalah hal yang paling melelahkan bagiku dibanding berlari.
Demi apapun juga... Aku tak peduli. Suka atau tidaknya seseorang dengan kepribadian ku ini. Aku ingin mereka mencoba mengerti terlebih dahulu. Jika mereka benar benar bisa menganalisis diriku.