Aku mengusap poster ‘suami masa depan’ku itu dengan lembut, seakan-akan aku sedang menyentuh wajahnya. Aku memanjukan sedikit kepalaku dan mencium pipinya. Sungguh menyenangkan jika poster itu berubah menjadi sosok yang nyata berdiri di hadapanku.
“Selamat pagi, sayang.” ucapku kemudian tersenyum lebar.
Apa kalian pikir aku ini gila? Aku tidak gila, oke. Aku hanya terlalu berlebihan memperlakukan idolaku. Setidaknya begitulah kata teman-temanku dan aku tidak peduli apa kata mereka. Hei, ini hidupku dan aku yang menjalani semuanya.
Baiklah, akan kuperkenalkan diriku. Namaku Heldi dan aku gadis tulen, oke. Aku seorang mahasiswa di salah satu universitas suwasta. Cita-citaku ingin menjadi seorang istri dari idolaku sendiri. Oke, ini terlalu berlebihan, anggap saja kalimat terakhir itu hilang. Ke inginanku adalah mengunjungi atau setidaknya ‘suami masa depan’ku itu mengunjungiku suatu saat ini. Mungkin mimpiku terlalu tinggi, tapi tidak ada salahnya bukan? Hei, untuk menjadi sukses itu berawal dari mimpi bukan? Hahahaha
Aku berasal dari keluarga yang sederhana dengan dua orang saudara perempuan. Sayangnya aku anak pertama jadi sulit bagiku untuk meminta uang tambahan kepada saudaraku. Aku berharap setidaknya aku memiliki seorang kakak, yang bisa memberiku uang pastinya. Hahahaha aku hanya bercanda xD
Cukup bukan perkenalannya? Aku harus buru-buru karena sebentar lagi akan ada jam mata kuliah yang entah kenapa dosennya galak sekali. Aku tidak ingin terlambat masuk kuliah hanya karena perkenalan ini.
Aku sampai ke kampus dengan selamat tanpa cacat sedikitpun dan yang lebih menyenangkan aku tidak terlambat. Maklum saja aku termasuk mahasiswa teladan di kelasku. Aku mendaratkan bokongku ke kursi samping Ida dan sepertinya dia tidak terganggu dengan kedatanganku. I don’t care about it. Dia memang seperti itu tapi percayalah dia sahabat yang paling setia untukku. Setidaknya dia merelakan dirinya menjadi bulan-bulananku ketika aku sedang berada pada fase galau tingkat akut.
Ponselku berdering tanda ada yang menelpon dengan ringtone lagu yang dinyanyikan oleh ‘suami masa depan’ku The Answer. Aku meliriknya sekilas ketika membaca nama Rara tertera di layar ponselku.
“Ha...”
“Heldi bebeb!!!!” teriaknya membuatku menjauhkan ponselku dari telinga.
“Kenapa beb? Tenang, tenang, jangan emosi beb.” Ucapku mencoba menenangkannya.
“Beb, aku sedih.” Aku mengerutkan keningku bingung. “Myungsoo huuweee” dan aku tertawa terbahak-bahak setelah mendengarnya menyebut nama visual dari BB idolaku desertai rengekannya.
“Beb nanti cerita lagi ya, dosennya mau masuk nih.” Ucapku disela-sela tawaku dan setelahnya sambungan pun mati.
“Kumat gilanya.” Ucap Ida yang menatapku datar dan aku tersenyum geli.
Setelah melewati dua mata kuliah yang hampir bersamaan dan disinilah aku sekarang. Berada dengan damai di kamarku. Ooh, aku lupa menceritakan bagaimana kamarku saat ini. Tidak ada yang istimewa dari kamarku, hanya ada poster-poster yang menutupi setiap celah dinding kamarku dan lainnya yang berbau dengan idolaku. Dulu aku pernah diomelin Ibu gara-gara hal ini tapi lama kelamaan Ibu jadi bosan mengomeliku. Hehehe, aku minta maaf soal ini Ibu.
Aku berbaring di kasurku yang berseprai hamtaro, dan kedua telingaku telah kusumbat dengan earphone mendengar celotehan sahabatku yang lain –Rara- tentang patah hatinya karena idolanya.
“Udah Ra, ikhlasin aja. Lagian Myungsoo main drama itu juga untuk mencari nafkah, mengumpulkan uang untuk melamarmu.” Biasanya perkataanku yang seperti itu akan membuatnya lebih tenang tapi kali ini aku sepertinya harus kecewa karena nyatanya dia tidak mau menghentikan aksi ‘Mari menangisi kissing scene Myungsoo’.
Akhirnya pembicaraan kami berakhir setelah satu setengah jam lamanya, telingaku serasa panas. Aku mencharger ponselku dan berjalan keluar kamar untuk membantu Ibu memasak di dapur.
Apa yang ada dibenak kalian mendengar kata ‘malam minggu’? pacaran? Jalan-jalan? Atau nyabe? Coret yang terakhir itu. Aku tidak melakukan semuanya, hanya bermodalkan kouta yang banyak dan aku mulai berselancar di sosmed, mencari hal-hal baru yang berhubungan dengan ‘suami masa depan’ku dan grupnya. Di dunia fangirl ini adalah hal yang lumrah. Sedikit bocoran untuk kalian, kami para Kpoper –sebutan untuk pecinta hallyu star- lebih memilih jomblo dan bersenang-senang dengan teman sesama Kpopers daripada menghabiskan malam minggu dengan berpacaran.
Dulu pernah seorang teman bernama Reza bertanya padaku perihal pacar dan dengan entengnya aku selalu menjawab “Pacarku sedang berada jauh denganku, tapi percayalah suatu saat nanti dia akan menjemputku.” Kataku memasang wajah seserius mungkin dan dia hanya menatapku datar. Sungguh, aku ingin tertawa menatap ekspresinya. Dia benar-benar lucu sekali.
Itu baru ceritaku, belum lagi cerita teman sesama Kpopers, akan lebih lucu dan menghebohkan lagi. Ada yang mengatakan “Aku akan menikah dengan seseorang yang mirip dengan Kyuhyun.” “Jodohku itu Yesung, sedangkan yang lain hanya sebagai selingan sambil menunggu lamarannya.” “Kalaupun aku tidak menjadi istri dari seorang Oh Sehun, tapi setidaknya aku akan menjadi Ibu dari anak-anaknya kelak.” dan masih banyak lagi kalimat yang menurut orang menggelikan dan gila keluar dari mulut fangirl.
Ini hanya sedikit kisahku tentang kehidupan fangirl yang kadang-kadang mendapat cemoohan dari orang-rang hanya karena kami ‘berbeda’ dari mereka. Aku tidak berniat sama sekali untuk menceritakan cemoohan apa saja yang kami dapatkan, tapi percayalah hanya kami yang mengetahui sisi baik dan sisi buruk kehidupan kami. Bahkan kami tidak pernah mengusik orang lain dan orang lain tidak diharapkan mengusik kehidupan kami.
END