"Dimana ini?"
Kepalaku terasa sedikit pusing. Namun anehnya aku terbangun di sebuah kamar yang sangat mewah. Aku tak tau dimana aku berada.
"Nona.. waktunya sarapan." ucap seorang pelayan yang masuk dan membereskan seluruh ruangan.
"Dimana aku?" tanyaku pada pelayan itu.
"Apa maksud nona? nona habis bermimpi apa? bagaimana bisa nona lupa dengan kamar nona." jawab pelayan itu.
"Kamarku?"
Merasa ada yang aneh, aku langsung beranjak dan melihat ke sebuah cermin di dekat meja.
"AARRRGGGHHHH..!!!" teriakanku yang begitu keras membuat beberapa pelayan dan kepala pelayan masuk ke dalam kamar.
Aku terpaku melihat wajahku sendiri. Wajah yang terlihat di cermin bukanlah wajahku. Wajah itu terlihat sangat cantik dengan kulitnya terasa halus.
"Nona Charlotte ada apa? ada yang salah?" tanya kepala pelayan padaku.
'Charlotte? nama yang tak asing. Bukankah itu nama pemeran antagonis novel 'Happines with you'? Novel yang pernah ku baca sekali. Namun aku tak terlalu menyukai novel itu.' ucapku dalam hati.
••••••
Dalam cerita, Charlotte sang pemeran antagonis memang sangat cantik. Ia sangat menyukai Richard si tokoh utama pria. Richard berwatak dingin dan sangat tampan. Charlotte selalu berpikir bahwa dengan kecantikan dan uang, ia bisa memenangkan hati Richard. Dengan sombongnya ia selalu memberikan barang mewah pada Richard di depan semua orang di sekolahannya.
Yang ternyata Richard sama sekali tak goyah dengan kecantikan Charlotte. Malah ia diam-diam menyukai Agatha si tokoh utama wanita yang berwajah biasa. Agatha sering dirundung oleh Charlotte bersama teman-temannya.
Kian lama, Richard kian membenci Charlotte karena kelakuannya yang semena-mena. Hingga terjadilah hari itu, hari dimana Charlotte meninggal di sebuah gedung karena kecelakaan. Penyebabnya ialah ulahnya sendiri dan tertimpa besi-besi yang berjatuhan.
••••••
"Haishh cerita yang menjengkelkan. Bagaimana bisa aku berakhir dengan tragis. Harusnya aku jadi tokoh utama. Bagaimana bisa aku malah menjadi seorang tokoh antagonis." ucapku pada diriku sendiri.
"Nona baik-baik saja?" tanya kepala pelayan.
"Y.. ya aku baik-baik saja. Aku akan bersiap-siap berangkat sekolah." ucapku pada pelayan itu.
"Baik nona kami akan menyiapkannya. Sarapan juga sudah siap nona." balas kepala pelayan.
Aku yang telah selesai bersiap-siap langsung menuju ke tempat makan. Makanan yang sangat banyak dan mewah di persiapkan untukku seorang.
Saat menikmati makanan, tatapanku kosong. Pikiranku berantakan. Aku terus memikirkan menyusun rencana apa agar selamat dari malapetaka itu.
Tak terasa, makananku telah habis. Siap atau tidak siap aku harus tetap berangkat sekolah dan bertemu dengan Richard dan Agatha.
••••••
"Hey lihatlah.. princess Charlotte sudah datang..!!!" teriak temanku atau teman si Charlotte bernama Teresa.
Disampingnya berdiri Kenneth yang juga bagian dari geng kami.
Dua orang itu berteriak memanggilku terus menerus. Ternyata, dari kejauhan Richard tengah berjalan ke arah mereka dengan membawa beberapa buku di tangannya.
"Tampan sekali.. tak heran dia jadi si tokoh utama." aku yang baru saja melihatnya pun bahkan mengakui ketampanannya itu.
Aku berjalan menghampiri temanku itu. Tak sadar, aku tersenyum dan mengulurkan tanganku pada Richard.
"Uwowww...apa kau ingin mengajaknya ke bioskop pribadimu?" sahut Teresa.
"Atau..atau pergi ke restoran mewah milik chef Michael?" sahut Kenneth.
"Hei Richard. Kau sangat beruntung bisa disukai Charlotte. Aku sangat iri... " sahut seorang lelaki yang lewat di jalan itu.
Richard hanya terdiam sambil memberikan tatapan yang dingin. Dia beranjak pergi dan mengabaikan aku yang tengah mengulurkan tangan.
'Astaga malu sekali,, aku terlalu mudah terpesona oleh pria tampan. Bodohnya aku, aku terlalu gugup dan hanya ingin berkenalan dengannya.' Ucapku dalam hati menahan malu.
Kami bertiga berjalan menuju ruang kelas. Sesampainya di dalam kelas, aku melihat Agatha terdiam di pojokan. Agatha sebenarnya terlihat cantik hanya saja terlihat tak merawat diri. Aku yang melihatnya merasa kasihan. Bagaimana bisa Charlotte sangat jahat padanya.
••••••
Bel istirahat berbunyi. Semua orang beranjak menuju keluar kelas.
"Hey jelek. belikan princess Charlotte makan siang. Ingat tempat biasa." suruh Kenneth pada Agatha.
Agatha hanya mengangguk dan keluar kelas. Seketika aku berlari menghampirinya. Di koridor sekolah, Agatha langsung berhenti ketika namanya ku panggil.
"He-hey.. apa kau sudah makan?" tanyaku padanya.
Agatha hanya menggeleng. Aku langsung memberikan kartu black card padanya.
"Ba-baik a-aku akan berpuasa." Agatha berbicara dengan nada ketakutan dan berlari meninggalkanku.
"HEEIII..!!!"
Agatha tak menoleh sedikitpun dan berlari menuju kantin sekolah.
Aku hanya bermaksud baik ingin mentraktirnya makan siang. Tapi ia malah terlihat ketakutan bersamaku.
"Apa aku seseram itu? Seharusnya dia mendengarkanku sampai selesai..Lalu jawaban apa itu. Pertanyaanku berbeda dengan jawabannya" ucapku tak mengerti.
Tempat biasa yang Kenneth maksud adalah atap sekolah. Agatha terlihat terengah-engah membawa bungkusan plastik besar berisi makanan.
"Pintar sekali si jelek. Makanan ini yang mentraktir Charlotte, jadi kau harus puasa. Harusnya kau yang mentraktir kami. Setidaknya kau bisa makan siang. Hahahaaaaa" ucap Kenneth sambil tertawa licik.
'Astaga menyedihkan sekali bagaimana bisa aku jadi tukang palak dan tukang bully? Ini sangat jauh berbeda dengan kehidupanku dulu.' batinku
••••••
Aku berencana memberikan penyemangat untuk Agatha. Setiap hari, aku diam-diam memberikan camilan atau cokelat di lacinya.
Meja Agatha juga terlihat sangat berantakan. Banyak coretan-coretan yang berisi hinaan pada dirinya. Kuubah saja coretan itu menjadi karya seni yang indah dan tulisan berisi motivasi untuknya.
Setiap melihat camilan di bawah meja, Agatha tersenyum sangat cerah. Hatiku juga terasa sangat senang melihat ia tersenyum.
••••••
"Pssttt.. Hei Charlotte hari ini si jelek ulang tahun kita harus menyiapkan hadiah untuknya." bisik Teresa padaku.
"Hadiah?" seketika aku memikirkan hadiah yang berkilau untuk seorang teman. Aku ingin mengaku bahwa aku ingin berteman dengannya.
Aku langsung beranjak pergi dari kelas. Aku pergi ke sebuah toko perhiasan terdekat. Terlihat sebuah gelang cantik dan imut dengan bandul berbentuk bintang.
Hadiah yang cantik itu dibungkus dengan pita berwarna merah.
Namun, saat aku hendak menuju ke kelas terlihat Agatha sedang berjalan sambil menangis dengan seluruh tubuhnya yang basah. Bau amis menyengat berasal dari tubuhnya itu.
Ia menghampiriku dengan mata penuh amarah.
"Charlotte,, kau sangat keterlaluan. Kenapa kau sangat senang sekali menghancurkan hidupku." ucap Agatha sambil menangis sesenggukan.
Sesampainya di kelas, aku langsung tahu bahwa itu ulah Teresa dan Kenneth. Semua usahaku sia-sia. Hadiah yang ingin kuberikan tak lagi berharga. Dan kubuang hadiah itu ke dalam tempat sampah. Aku serasa dipenuhi dengan rasa bersalah.
Saat bel pulang berbunyi, hujan tiba-tiba sangat lebat dengan langit-langit yang menghitam. Supir yang biasa menjemputku pun telah datang.
Aku berada di dalam mobil sambil melihat rintik-rintik hujan. Saat di sebuah lampu merah, terlihat seseorang yang tak asing sedang berjalan di tengah guyuran hujan. Dia adalah Agatha.
"Pak aku mau turun bentar. Bapak mampir dulu ke cafe atau tempat makan. Nanti aku telfon." ucapku
Aku segera keluar dari mobil dan mengejar Agatha.
Di sebuah gang, terdapat sebuah bangunan perusahaan yang telah porak poranda.
"Agatha..!!" panggilku.
Agatha menoleh dan terlihat matanya yang merah sembab karena menangis.
"Charlotte, apa kau tau ini dimana?" tanya Agatha sambil menangis.
"Ti.. tidak"
"Ini perusahaan ayahku. Tiba-tiba perusahaan ini di akuisisi oleh ayahmu. Karena tak menguntungkan, perusahaan ini langsung dihancurkan begitu saja oleh ayahmu. Apa kau tau betapa menderitanya keluarga kami saat itu?!"
"Ma.. maaf aku tak tau."
"Tentu saja kau tak tau. Kau hanya bisa menikmati kekayaan itu."
Aku menjadi semakin merasa bersalah.
'Trraaakkk'
Suara dari atas bangunan itu. Terlihat besi yang tampak goyah dan hampir terjatuh karena terkena hujan.
"Agatha cepatlah pergi, tempat ini berbahaya."
Agatha hanya terdiam.
Dalam hitungan detik, Besi itu mulai terjatuh ke bawah.
"Aarrgghhhh!!" teriak Agatha
Secepatnya aku langsung menahan besi yang akan menimpa Agatha dengan tubuhku.
"Ce.. cepat pergilah."
Agatha langsung menghindar.
'Traakkk'
Besi berjatuhan lagi hingga menimpa kepalaku. Tubuhku yang tak kuat menahan besi sebanyak itu langsung ambruk dan terjatuh ke tanah.
Kepalaku terasa berat. Terlihat darah mengalir dari kepalaku.
"A..Agatha tolong..."
Dari kejauhan, terlihat Agatha hanya berdiam diri. Kemudian, ia malah beranjak pergi meninggalkanku sambil tersenyum sinis.
"A.. apa aku benar-benar akan mati? aku takut.. sangat dingin dan gelap"
Penglihatanku mulai buyar. Terlihat bayangan mendekatiku. Namun aku tak tau apa itu. Kesadaranku juga mulai menghilang.
"Kumohon bertahanlah.. " terdengar suara samar-samar itu dalam kepalaku.
••••••
Saat mataku terbuka, aku berada di sebuah ruangan. Rasanya ada seseorang yang sedang menggenggam tanganku.
Seketika mataku terbelalak saat melihat Richard yang ada di sampingku. Richard tengah tertidur. Wajahnya yang menawan masih tetap saja terlihat tampan saat tertidur.
"Kau sudah sadar?" tanya Richard yang baru saja terbangun dari tidurnya.
"Y.. ya"
"Apa kau bodoh? Kenapa kau mengikutinya sendirian?" ucap Richard dengan sangat kesal.
"A.. apa maksudmu?"
"Kau pikir siapa yang menyelamatkanmu? itu aku. Untung saja waktu itu aku melihatmu keluar dari mobil. Kau benar-benar bodoh."
"Ma.. maaf"
"Berhentilah minta maaf. Kau tak bersalah." ucap Richard.
"Baik"
"A.. aku menyukaimu." ucap Richard dengan nada malu-malu.
"Apa?"
"Mungkin sudah lama namun aku baru bisa mengatakannya sekarang. Dari dulu aku selalu memperhatikanmu. Meski berawal dari benci tiba-tiba aku melihat sisi manismu."
"Ta.. tapi bukankah kau menyukai Agatha?"
"Gadis itu? tidak.. aku bahkan tak mengenalnya. Semenjak memperhatikanmu aku baru tau namanya. Aku tau kau yang memberikan makanan untuk dia. Kau juga membelikan hadiah untuknya saat ulang tahun. Gelang yang sangat cantik. Tapi dia terlalu dipenuhi amarah."
"Kenapa kau tau semuanya?"
"Tentu saja.. dia bahkan mengira aku yang memberikan makanan itu." jawab Richard
"Oh ya? lalu apa maksudmu sisi manisku?"
"Emm.. saat perutmu sakit karena diare, saat kau menari dengan sangat lucu, saat kau memberi makan kucing, sepertinya masih banyak."
"Apa kau penguntit?"
"Tidak.. itu hanya kebetulan. Mungkin bisa di bilang takdir."
"Pfffttt"
"Apa kau mau berkencan denganku?" tanya Richard sambil tersenyum.
"Tentu" jawabku yang sambil tersenyum pada Richard.
~TAMAT~