Mama adalah kesayangan, Mama adalah makhluk paling lembut yang sangat penyayang. Mama membentukku menjadi pengasih, penyayang pada siapapun. Bahkan seisi rumah tahu bahwa aku identik dengan mama yang selalu berpembawaan lembut.
Kepergian Mama membuat hatiku hancur, menangis dan terpuruk. Tepat di saat usiaku baru sehari genap tujuh belas tahun, mama pergi meninggalkanku dan papa. Aku limbung. Hatiku bertambah hancur mengetahui kepergian Mama menyimpan luka di dalam hati.
Ini semua karena papa. Papa menikahi kekasihnya di masa lalu dan menyimpan rapat rahasia itu hingga terkuak dengan sendirinya. Perasaan dan pikiran mama sangat dalam. Kegelisahan dan mimpi buruk mama mendapatkan jawaban. Seseorang membongkar semua rahasia papa. Mama terhenyak. Lemas dan meringkuk tak berdaya di sudut kamar. Air matanya mengalir tanpa henti.
Aku tak bisa berbuat apa-apa selain protes pada papa. Akhirnya mama dan papa bertengkar hebat malam itu. Aku menangis menyaksikan itu. Kupeluk mama. Kuhibur mama tapi sia-sia. Mama terus menangisi takdirnya. Air mata mama luber membasahi pipi. Papa begitu tega. Malam itu benar-benar menyayat hati.
Mama yang lembut dan tengah terluka menjadi singa tidur yang dibangunkan. Amarahnya meledak.Tiba suatu saat mama mendatangi istri siri papa dan saat itu pula mama pergi dari kehidupanku untuk selamanya. Aku meraung menangisi kepergian mama. Mama pergi membawa luka hati. Lukanya tak pernah terobati. Kecelakaan tunggal meregut nyawa mama. Sekalipun tanah merah makam mama telah mengering, semua tragedi itu masih lekat dalam ingatanku.
Aku menyalahkan papa atas kepergian mama. Kekesalanku selalu datang. Aku bukan lagi anak mama yang manis dan lembut. Aku frustasi.
Aku benci papa. Aku benci istri baru papa. Aku kehilangan kasih sayang mama. Aku sering melampiaskan kekesalan pada bi Inah. Bibi yang merawatku sejak mama tiada.
"Bi masaknya yang enak dong seperti mama! Bibi mau kupecat?!" Teriakku suatu waktu.
"Iya non. Non Sheila mau makan apa tinggal bilang ke bibi ya."
"Terserah bibi. Kalau nggak enak aku nggak mau makan!!"
"Nanti non sakit nggak makan. Bibi kena marah Tuan non."
"Biarin!! Biar tahu rasa. Urus saja perempuan itu!"
Aku pergi dari ruangan itu. Tidak perduli pada perasaan bibi. Malam hari perutku terasa perih.Tadi sang tidak makan. Malam ini aku belum makan.
Bi Inah datang membawakan makanan ke kamarku.
"Aku tidak mau itu bi. Bibi siapa yang suruh bikin itu?" Tanyaku jutek dan ketus.
"Ini kesukaan non Sheila. Non makan ya."
"Tidak mau. Aku tidak minta itu. Aku mau bakso bi!"
"Non mau bakso? Baiklah bibi suruh mang Ecus beli."
Bibi pun berlalu keluar. Satu jam kemudian bibi datang membawa pesananku.
"Ini non."
"Tuangkan!"
Bibi menuangkan bakso ke mangkok.
"Jangan kebanyakan sambalnya bi. Kalau nggak bibi aja yang makan!" Suaraku selalu tinggi. Tetapi heran bibi tak bosan menghadapi prilaku itu.
"Aah kok pedas sih! Uuuh nggak becus."
"Maafkan bibi non."
Bi Inah menungguku makan. Selalu setiap malam. Sering tanpa sengaja kulihat pandangan bi Inah penuh kasih padaku.
"Mulai besok bibi nggak usah temani aku makan. Aku bukan anak kecil!"
"Iya non Sheila. Ini papa non yang suruh bibi."
" Aku bilang aku tidak mau!"
"Ya sudah non. Maafkan bibi."
Tak ada rasa belas kasihan buat bibi. Aku kesal pada papa. Hari-hari papa dihabiskan di rumah istri barunya. Aku kesepian. Mama aku ikut.
"Non bangun non. Sudah pagi. Non Sheila."
"Haa?? Jam berapa ini?" Aku mengintip jam di dinding dan terlonjak. Bangun dengan cepat. Waktu ku setengah jam saja untuk sampai di sekolah.
"Kenapa baru dibangunkan?" Hardikku pada bibi.
Tidak perlu mandi. Memakan waktu saja. Aku mengambil tas dan keluar mencari sepatu.
"Biiii!!! Kaos kaki mana?! Biii!!." Teriakku.
Aku hanya memikirkan diriku. Jika telat aku bisa berdiri di depan tiang bendera karena tidak mengikuti upacara. Peraturan di sekolah sangat tegas.
"Bibiii!!" Aku ingin nangis. Mana sih bi Inah.
"Iya..Iya non. Ada apa?" Bibi tergopoh-gopoh datang.
"Kaos kaki mana. Kemarin di sini?" Bentakku."
"Pakai yang baru saja non."
"Cepat ambilkan.!Huuuhh!!"
"Sudah belum non?" Itu suara mang Ecus.
"Belum. Nggak lihat apa??!"
Mang Ecus diam. Bibi datang lagi membawa kaos kaki.
"Lain kali jangan disingkirkan kaos kakinya!".
Aku anak perempuan yang jahat. Para ART menjadi sasaran kekesalanku pada papa.
Siang yang panas. Rumah terasa lengang. Biasanya sosok mama yang keibuan akan menyambut kepulanganku dari sekolah. Kini tidak. Mama tidak ada lagi. Aku kesepian. Ini semua karena perempuan itu. Papa juga. Hhhh. Mama..
Aku mendatangi meja makan. Perutku minta diisi. Kubuka penutup makanan di atas meja. Makanan apa ini.
"Bibi!!!" Panggilku dengan lantang.
"Ada apa non?"
"Kok masaknya ayam lagi. Kemarin ayam sekarang ayam. Gimana sih??"
"Non kan sukanya ayam daripada daging."
"Aku bosan! Semuanya mengesalkan!! Semuanya sama seperti papa!"
"Ya sudah kalau non nggak mau makan. Nanti beli saja ya non."
"Bibi tuh kalau masak nanya dulu. Bibi kan dibayar huuhh."
"Iya non. Maafkan bibi." Cuma kata itu yang sering diucapkan bi Inah.
Bibi tetap sabar atas prilakuku. Aku kehilangan tempat bersandar. Mama. Mama aku ikut. Aku kangen mama. Mataku melihat kaos kaki yang kucari pagi tadi tergeletak di ruang tivi. Aku lupa tidak meletakkan pada tempatnya.
Kulangkahkan kaki ke motor yang terparkir. Lupa kuncinya. Kuambil kunci. Kutekan gas berapa kali. Motor meraung-raung. Seorang ibu lewat di depan rumahku, melirik tidak suka. Aku masa bodoh.
Breeeemm.
Di taman ini aku duduk. Di bawah pohon. Memikirkan nasibku. Tak kuhiraukan panas terik. Beberapa penjaja makanan ngetem di beberapa titik di taman. Taman terbuka yang belum terlalu ramai. Seorang anak menawarkan dagangannya. Tisu dan minuman kotak.
"Kak beli kak."
"Apaan?!"
"Ini dua ribuan aja kak. Tolong beli kak. Aku lapar." Kata anak itu. Aku tidak tahu beberapa umurnya.
"Kau belum makan?!" Suaraku tak pernah pelan.
"Belum kak."
"Mengapa kau jualan. Kemana ibumu?"
"Aku jualan untuk beli telor. Telornya mau dimasak ibu. Kakak beli ya. Kakak pilih yang mana?" Dia memaksaku.
Ya Tuhan. Aku terhenyak. Untuk makan saja anak ini harus berjualan dulu. Katanya tadi uangnya untuk membeli telor? Di rumahku masakan ayam saja tidak kumakan
Aku mengambil uang dari saku rok. Memberikan pada si anak dengan tergesa. Ampuni aku Tuhan.
"Ini ambil buat kamu. Tidak usah kembali!"
"Pilih yang mana kak. Kakak!!!"
"Ambil saja semua!"
"Kakak ini kebanyakan uangnya!!!"
Aku berlalu cepat meninggalkan si anak penjual tisu. Aku ingin segera pulang menemui bibi.
~~~tamat~~~
Lope..lope..❤️💕