Asik, akhirnya bisa lanjut cerita ini disini hahaha. Ini karakter favoritku di Housamo. Karena lucu juga mempesona, terutama suaranya itu :3
Walau ucapan dialognya di game, suka bikin ku merinding bacanya...
Yuk! Mulai cerita selanjutnya.
***
Pagi itu di gedung asrama Roppongi Academy, Aizen sudah meniupkan peluit, berjalan menelusuri lorong asrama membangunkan semua murid. Tidak lupa juga, ia menendang setiap pintu kamar asrama.
Keito yang barus saja terbangun mendengar suara dobrakan pintu kamar asramanya. Dengan kaget, sudah mendapati ujaran kemarahan dari Aizen, "Bangun!!! Pemalas! Pembawa masalah dan tidak berguna!" Ujarnya.
Keito yang masih belum sadar seratus persen, membuatnya berdiri seakan tak bernyawa, segera bersiap-siap ke kamar mandi, menyikat gigi dan berganti seragam sekolah.
Cait Sith terlihat masih dapat tertidur nyenyak, dengan kondisi gila yang baru saja Aizen buat. Ia seperti bayi, nyenyak berbaring di kasur, tempat sebelumnya Keito tidur.
Keito merasa, bahwa Roppongi Academy bagai sekolah militer, membuatnya bertanya-tanya di dalam hati, "Apa sih, yang sekolah ini ajarkan? menjadi prajurit dalam perang?"
Tak lama, Aizen mengatakan di ujung lorong asrama dengan suara lantang, bahwa setiap murid harus sigap dengan setiap kondisi.Pentingnya, teratur dan disiplin diri untuk menghadapi serangan. Baiklah, sekarang Keito berfikir, bahwa Roppongi Academy adalah sekolah militer sungguhan.
Sarapan pagi di gedung kantin sekolah Roppongi Academy, terlihat begitu megah dan mewah. Keito sekarang dapat melihat bangunan sekolah yang luar biasa hebat, semalam ia tidak terlalu memperhatikan, karena di seret oleh Aizen.
Cukup tenang, juga bisa menikmati sarapan pagi dengan nyaman. Aizen tidak berada disana sekarang. Anak-anak murid lain juga saling berbincang dengan antusias satu sama lain.
Cait Sith baru saja tiba. Terlihat sangat menikmati tidur sebelumnya. Ia membawa sepiring penuh muffin dengan berbagai macam rasa lalu makan di meja tempat Keito berada.
"Disini, apa yang akan aku pelajari?" Tanya Keito, kepada Cait Sith yang asik makan muffinnya.
"Menjadi seorang Summoner tentu saja, tuan muda. Agar dapat mengsinkronasikan kekuatan dengan pelayan mereka, tentunya dalam pertarungan." Jelas Cait Sith.
Usai sarapan seorang pelayan wanita dengan rambut berwarna biru pendek, memiliki ekor naga, berjalan dengan seorang pria paruh bayah, dengan penampilan yang cukup berantakan. Pria itu mengenakan kemeja putih, dengan kancing yang terbuka 3, memperlihatkan dadanya. Dasi yang ia kenakan tidak di pakaikan dengan benar, terlepas adalah kata yang tepat. Rambutnya coklat, dengan uban pada helai rambut poni sebelah kirinya.
Pelayan wanita dan pria itu mendekati Keito.
"Kamu pasti datang semalam, maaf aku terlambat menjemputmu." Jelas pria itu kepada Keito.
Pelayang yang mengantar pria itu kepada Keito sekarang pamit, meninggalkan mereka berdua.
Keito bingung dengan penjelasan pria itu. Membuatnya bertanya, "Anda siapa pak?"
"Ayahmu, penjagamu dan pelindungmu." Jelasnya singkat.
Keito yang terkejut, segera menjawab, "Tunggu! ayah? tidak mugkin! Dan aku tidak mengenal siapa anda..."
Pria itu tertawa sebentar, lalu memperkenalkan dirinya, "Kyoma Mononobe... Jangan begitu, kamu melupakan ayahmu. Apa karena ayahmu mengajar sebagai guru di Shinjuku Academy, yang adalah rival sekolahmu?" Ia membuat ekspresi sedih yang jelas dibuat-buat.
"Hmmm... Begini pak, maaf membuatmu kecewa. Namaku Keito, hanya Keito... Aku tidak memiliki nama marga Mononobe di belakang namaku, jadi... sepertinya anda salah mengira seseorang, pak." Jelas Keito, mencoba meyakinkan Kyoma.
Kyoma tertawa, segera mengusap kepala Keito, mengacak-acak rambutnya, berkata, "Dasar anak ini... Baiklah jika kamu merasa tidak nyaman denganku, aku akan segera pergi. Aku hanya ingin memberi tahumu, jika kamu membutuhkanku, datanglah ke tempatku di Shinjuku." Kyoma, memberikan surat kepada Keito, yang berisikan alamat dimana ia tinggal.
Segera Kyoma pergi meninggalkan, Roppongi Academy.
Keito mengingat-ingat, apakah benar ia memiliki seorang ayah seperti Kyoma. Tetapi, Keito tak mendapati ingatan tentangnya, bahkan ia lupa wajah kedua orangtuanya. Sekali lagi ia mempertanyakannya keberadaannya, kenapa bisa ia berada di sini. Cait Sith sudah menyadarkan lamunan Keito dari banyak hal yang ia fikirkan. Memintanya segera mengikuti kelas pertamanya di Roppongi Academy, karena bel jam pertama sudah berbunyi.
Di dalam ruangan kelas, seorang guru wanita mengajar pelajaran sejarah. Keito berusaha memperhatikannya, walau di sekitarnya, banyak murid yang tertidur.
Hal mengejutkan adalah dimana saat jam pelajaran praktek latihan sebagai Summoner dimulai. Di gymnasium indoor Roppongi Academy, Keito terkejut, bahwa seekor humaniod naga berwarna emas, memberikan penjelasan, bahwa di ruang kelas kali ini, Naga bernama Ophion akan memberikan bimbingan pertarungan bagi semua murid. Ophion mengenakan seragam Roppongi Academy dengan semua kancing baju terbuka, memamerkan dada dan otot-ototnya. Ia menjadikan almamaternya sebagai jubah yang tergantung di pundaknya. Terlihat Aizen berada di kiri belakangnya. Sementara di samping kanannya, ada humanoid rubah betina, mengenakan pakaian fancy, bernama Hakumen dan pelayannya yang seorang humanoid anjing jenis mexican hairless, bernama Xolotl, menhenakan jas berwarna hijau tua. Terlihat juga seseorang pria paruh baya duduk di belakang mereka. Seperti seorang pemimpin. Ia mengenakan pakaian nyentrik berwarna ungu, memiliki tanduk melingkar seperti domba, bernama Lucifuge.
"Baiklah! Semua murid Roppongi Academy. Sebelum kita turun pada pertarungan yang sesungguhnya! Aku akan melakukan tes, kepada kalian!" Jelas Ophion tegas, yang lalu maju bersama Aizen di tengah lapangan Gymnasium.
Ophion menunjuk Keito, berkata, "Anak baru! kemarilah!"
Keito berjalan maju dengan ragu dan gugup. Sementara Aizen berteriak, "Berjalanlah dengan benar dan tegap!"
Membuat Keito berjalan tegap yang di paksakan, seperti anggota pengibar bendera baru.
Sekarang Keito dapat jelas melihat wajah naga Ophion, terlihat taring bagian gigi bawah sebelah kanannya sudah patah, mungkin karena pertarungan. Ia berkata kepada Keito, "Kamu anak baru, aku ingin melihat kemampuanmu. Ku dengar, semalam kamu dapat menghabisi Ogre dan memanggil pelayanmu dengan baik."
Keito dengan tatapan curiga melihat kearah Cait Sith di baliknya, melayang diantara murid-murid lain. Cait Sith membuang tatapannya malu, sambil bersiul seakan tidak tahu apa-apa.
"Aku ingin kamu menunjukan semua kemampuanmu. Kita akan bertarung dua lawan dua. Aku bersama Aizen dan kau! bersama palayanmu, panggilah." Perintah Ophion.
Keito dengan ragu, memanggil Ose. Yang lalu muncul dengan cepat berada di samping Keito. Humanoid cheetah, yang masih anak-anak, menyapa, "Selamat siang, Bos." Ose melihat Ophion dan Aizen di hadapannya, dengan tatapan mengejek, kembali ia melanjutkan, "Hmm... Naga tua, Ophion dan si bodoh Aizen. Jadi kalian memaksa Bosku, untuk melawan kalian... Baiklah, kalian hanya lalat bagiku." Ose terkekeh.
Mendengar Ose mengatakan hal yang menyinggung, membuat Ophion dan Aizen terlihat kesal. Ophion berkata, "Kucing sialan... Tunjukan saja kehebatanmu bersama dengan majikanmu."
Ophion dan Aizen berjalan menjauh, lalu kembali menghadap Keito dan Ose.
Lucifuge, mulai memberikan penjelasan, Tetapi sebelum itu, Ose mengangkat tangan kanannya. Membuat Lucifuge berhenti berbicara.
Ose, mengatakan, "Aku tidak suka pertarungan tanpa ada taruhan... Sangat membosankan dan tidak menguntungkan... Aku ingin ada taruhan, bagaimana?"
Lucifuge, menyetujui keinginan Ose. Ophion berkata, "Apa yang akan kamu pertaruhkan?"
Suara lucu Ose yang seperti anak-anak, imej itu hilang dengan cara bicaranya yang tidak seperti anak kecil seharusnya, ia mengatakan, "Bos ku, tidak menyukai Aizen memperlakukannya sepertinya seorang tahanan, aku juga tidak menyukai seseorang melakukan hal yang membuat Bosku, tidak merasa nyaman. Taruhanku adalah. Jika kalian berdua menang, aku akan menjadi pelayanmu, Ophion." Ucapannya membuat semua orang terkejut, terutama bagi Keito.
Ophion, begitu terlihat senang sebelum mengetahui hasil pertarungan. Taruhan Ose, membuatnya terenyum lalu berubah menjadi tawa keras. Ophion berkata, "Baiklah, kucing kecil... Aku pasti akan memenangkan pertarungan ini... Tidak hanya menjadi pelayanku, aku akan membuatmu menjadi budakku." Lalu, kembali Ophion tertawa.
Keito mendekati Ose berbisik, "Ose, apa yang kamu katakan... Aku tidak mungkin menang melawan mereka." Keito, terlihat putus asa dan merasa kalah sebelum bertarung.
Ose menepuk pundak Keito, berkata dengan ucapan yang meyakinkan, "Aku tidak akan menjadi pelayannya dan yang harus bos lakukan adalah, berikan keduanya kepadaku saat bertarung nanti. Kita adalah pasangan yang hebat. Ingatlah Bos, percayalah dengan kemampuanmu sendiri, meski terkadang itu terasa tidak mungkin." Segera Ose menghadap Ophion, memberitahu taruhan yang ia ingin kan dari Ophion, "Ophion! Pertama, aku ingin kamu memegang janjimu sebagai seorang pria sejati! Ini akan mengejutkanmu... Jika aku dan Bosku menang," Ose menatap Ophion begitu tajam ditambah senyum menyeringai, "Aizen akan menjadi pelayan, Bosku."
Aizen terkejut. Ophion merasa percaya diri, bahwa tidak mungkin. Ia akan kalah.
Lucifuge, lalu memulai kembali penjelasannya, "Baiklah, pertarungan harus di lakukan dengan jujur dan adil, tidak ada kecurangan seperti menggunakan kempuan lain dari pelayan kedua, dan jika di dapati melakukan kecurangan tersebut. Aku akan menganggapnya sebagai kekalahan. Bagi pemenang dan yang kalah, harus menepati taruhan yang telah di janjikan, oleh kedua belah tim. Pertarungan, DIMULAI!!!"
Ose melemparkan mahkota emas yang mengalungi tangan kirinya ke atas, lalu terjatuh kembali di tangan kirinya. Cahaya putih melumuri Ose yang lenyap, merubah Ose kecil, menjadi humanoid cheetah dewasa. Keito melihatnya heran. Ose yang sadar bahwa Keito terkejut, ia mengatakan dengan suara berbeda, lebih berat dan berwibawa, "Jangan terkejut, Bos. Sekarang waktunya membasmi lalat. Ingat rencana kita."
Ose berlari mendekati Ophion, menembakan tembakan dari senjata api berwarna emas yang ia pegang di tangan kanannya bertubi, menghindari semburan api yang di hembsukan Ophion kepadanya. Ophion masih dapat menghindari serangan Ose dengan mudah. Sementara Aizen melompat, berada di atas Ophion, mengeluarkan kemampuannya, "Terimalah hukuman dariku! Laser yang dapat menembus baja! Ragaraja!!!"
Empat bunga teratai muncul di balik punggung Aizen, menembakan laser merah, tidak hanya itu. Laser juga tertembakan dari mata merah mudah di dahinya yang sekarang berubah merah, mengarah pada Ose. Segera ia menghindari serangan itu dan serangan dadakan yang Ophion luncurkan.
Ose melihat bahwa Aizen tidak ada bersama Ophion lagi, dengan cambuk kuda berwarna hitam yang dibawa oleh Aizen. Ia berlari pergi menuju Keito.
Keito malah berlari dengan panik, menghindari Aizen yang berusaha mengejarnya. Lari Aizen begitu cepat, terutama tembakan laser yang ia tembakan kearah Keito, membuatnya semakin gemetar dan gugup dalam larinya.
Keito melupakan sesuatu, bahwa ia dapat melakukan telekinesi, dan memahami apa yang Ose ucapkan tentang, "Yang perlu Bos kalukan, adalah membawa mereka berdua kepadaku." Segera Keito berbalik menghadap Aizen, Lalu mengeluarkan kedua tangannya menghadap Aizen. Melemparkan Aizen dengan kemampuannya.
"Bagus, Bos!" Ucap Ose.
Segera Keito berlari menjauh dari Aizen dan mencoba berada diantara jarak yang sama dengan Ophion dan Aizen. Ophion sadar akan serangan selanjutnya yang Keito rencanakan. Segera ia, menembakan bola api di waktu bersamaan, Keito menarik Aizen dan Ophion bersamaan hingga membuat keduanya saling menempel. Api yang Ophion tembakan sebelumnya, mengenai lengan kiri Keito yang membuat lengan almamater dan kemeja seragamnya terbakar dan membuatnya terkena luka bakar.
"Bos!!!" Ucap Ose, khawatir.
Keito masih mengunci Ophion dan Aizen dengan telekinesisnya, lalu menjawab Ose, "Aku tidak apa-apa. Sekarang Ose!"
Ose segera melemparkan mahkota emasnya, yang berubah menjadi lingkaran cahaya hitam mengarah kepada Ophion dan Aizen. lingkaran itu mengikat Ophion dan Aizen, lalu menjadi ledakan api berwarna hitam.
Keito merasakan tekanan telekinesisnya meringan, membuktikan bahwa, Ophion dan Aizen sudah tidak memberikan perlawanan.
Api hitam yang berubah menjadi asap lenyap, memperlihatkan Ophion dan Aizen, sudah tak berdaya dan tidak sadarkan diri.
Lucifugde mengumumkan, bahwa pemenang pertarungan adalah Ose dan Keito.
Keito terjatuh duduk di lantai, melihat lengannya yang terkena luka bakar, dan mengusapnya kesakitan. Ia berkeringat. Ose mendekatinya, begitu juga Cait Sith.
Tak lama, luka itu lenyap. Keito bertanya-tanya.
Ose mengatakan, "Syukurlah, jika pertarungan selesai, maka luka akan kembali pulih... Ini adalah sebuah game." Jelasnya. Lalu berdiri mengarah kearah Cait Sith mengatakan dengan tegas, "Tidak bisakah kau! lebih berguna untuk bos! tugasmu hanya makan dan tidur, dasar tidak berguna!"
"Nyaaaan! Aku sudah melakukan tugasku dengan baik untuk Tuan Muda." Jelas Cait Sith tidak terima.
Mereka berdua saling melontarkan komentar, membuat Keito bising dengan ucapan mereka. Keito melerai keduanya, "SUDAHLAH!!! Kita sudah menang..." Segera mereka berdua berhenti untuk diam.
Ophion dan Aizen, mendekati Keito.
"Taruhan adalah taruhan, berikan tangan kananmu, Junior." Pinta Ophion.
Keito tidak bisa mempercayai Ophion. Hingga Ose meminta Keito menuruti apa yang Ophion pinta kepadanya.
Saat Ophion menggenggam tangan kanan Keito, muncul sebuah lambang di tangan Keito. Bercahaya lalu lenyap.
Ophion, berkata, "Jagalah Aizen dengan baik." Jelasnya lalu pergi meninggalkan Gymnasium. Aizen memanggil Ophion agar tidak pergi, walau Ophion terus berjalan.
Keito mengejar, Ophion, lalu berkata, "Bisakah kita batalkan saja taruhannya... Aku kembalikan Aizen kepadamu!"
Ose dan Cait Sith terkejut, Aizen hanya menatap Keito dengan mengerutkan alisnya.
Ophion berbalik dan memukul wajah Keito dengan keras. Membuat Keito terlempar kebelakang. Ophion berkata, "Dengar junior! Aku adalah pria yang tidak pernah mau menerima rasa simpati dari orang lain, juga aku tidak pernah mengingkari janjiku." Ophion lalu lenyap dari pandangan, pergi.
Ose membantu Keito berdiri. Keito merasa tidak enak melihat Aizen yang wajahnya memerah dengan ekspresi akan segera menangis, masih saja melihat pintu keluar Gymnasium tempat Ophion pergi.
"Ose, bisakah kita batalkan saja..." Pinta Keito.
Ose, melihat Keito dengan tatapan yang serius, "Bos, pria tidak boleh menarik kata-katanya, segala hal memerlukan tanggung jawab dan konsekuensi. Aku hanya bisa mengatakan itu. Ku harap Bos, dapat memahaminya."
Keito tidak lagi bisa berkata-kata. Saat meninggalkan Gymnasium. Keito melihat Aizen masih berdiri disana, menatap pintu keluar.
...
Saat makan malam, kali ini Keito makan bersama dengan Cait Sith dan Ose. Ose masih tidak berubah menjadi wujud kecilnya, ia masih dalam wujud dewasa.
Aizen muncul membawakan hidangan pencuci mulut di meja tempat Keito duduk.
"Ini adalah hidangan penutup, silahkan di nikmati... Tu... Tu... Argh..." Jelas Aizen terbata.
"Tuan muda~" Ucap Ose dengan nada yang khas, "Sesulit itukah, Aizen?"
Aizen menatap Ose yang sedang meminum secangkir kopinya dengan elegannya, menghiraukan Aizen.
Keito masih merasa menyesal soal Ophion dan Aizen. Hingga akhirnya ide muncul di kepalanya. Menatap Aizen, berkata, "Aizen! Aku tidak akan memanggilmu jika aku tidak membutuhkannya, kamu dapat melakukan apapun sesuka hatimu, dan pergi bersama dengan siapa yang kamu mau... Aku tidak ingin terlalu mengekang hal yang kamu inginkan, juga, kamu dapat menggilku dengan sebutan apapun."
Aizen menatap Keito dengan serius, segera Keito buru-buru menjelaskan, "Aku tidak memberikan simpati atau kemudahan untukmu. Aku hanya tidak merasa nyaman, kamu berada di dekatku saat ini. Bukankah, seharusnya kamu melakukan tugasmu sebagai kepala petugas disiplin Roppongi Academy?"
"Terima kasih." Ucap Aizen, yang Keito lihat matanya berkaca-kaca. Segera Aizen pergi.
Ose menaruh secangkir kopinya diatas meja, mengatakan dengan nada datar, "Aku melakukan hal yang tidak baik, maafkan aku Bos."
"Tidak! kamu melakukan dengan hebat, hanya saja... Lain kali jangan melakukan taruhan lagi. Kumohon." Jelas Keito, berhati-hati dengan Ose.
"Bos... Kamu terlau, baik untukku. Jika itu kemauanmu, maka aku akan melakukannya, kamu boleh membenciku." Jelas Ose.
"Jangan berfikir begitu, aku tidak pernah membencimu... Sungguh. Lihatlah, karenamu. Aku berada disini sekarang. Karena tanpamu aku mungkin tidak disini. Maaf, karena aku membuatmu terlihat buruk Ose. Hanya saja, aku takut saat kamu mengatakan taruhan itu. Aku takut kehilanganmu, meski itu hanya sekedar kata-kata." Ucap Keito, menatap mangkuk gelas es krimnya dan mengaduk-aduknya.
Ose tersenyum senang, karena merasa di perhatikan, ia menceritakan sesuatu, "Beberapa tahun yang lalu, seorang anak datang ke sebuah kebun binatang di tengah kota. Ia selalu datang setiap hari minggu, duduk dan menatap seekor anak cheetah di balik dinding kaca kandangnya. Seakan keduanya dapat berinteraksi hanya dengan saling menatap satu sama lain. Selama bertahun-tahun, anak cheetah itu melihat anak manusia yang datang selalu mengunjunginya tumbuh, begitu juga sebaliknya. Hingga saat dimana anak itu kembali, Cheetah yang selalu ia temui sudah tidak berada disana lagi..." Ose menghela nafasnya, kembali meminum kopinya lalu menaruhnya, menatap wajah Keito melanjutkan, "Apakah, Bos percaya, bahwa pertemuan itu adalah takdir?"
Keito merasa Ose menceritakan sesuatu yang tidak asing baginya, menjawab, "Tentu, jika tidak... Pertemuan kita, dan aku yang datang kesini. Tidak akan pernah terjadi, bukan?"
Ose tertawa kecil, mengatakan, "Benar."
...
Saat malam hari, Keito kembali ke ruang kamar asramanya, bersama Ose dan Cait Sith. Ose sgera pamit setelah beberapa saat Keito dan Cait Sith akan tidur.
Cait Sith sudah tertidur dengan lelapnya di samping Keito, seperti layaknya kucing sungguhan. Hari ini, adalah hari yang begitu rumit bagi Keito, Menyenangkan, indah juga memiliki penyesalan, sangat sulit dijelaskan. fikiran yang hilir mudik di dalam pejaman matanya, menghantarkan Keito, tertidur lelap.
Pagi hari itu terlihat seperti kemarin, Aizen seperti biasa, meniupkan peluit dan mendobrak setiap pintu kamar asrama untuk membangunkan semua murid. Keito kali ini bangun lebih awal dan memulai paginya.
Selesai.
***
Best moment in my life, Ose. Jujur saat pertama kali ngegacha dan dapat Ose, itu aku lompat-lompat. seperti, "Lho! ada karakter cheetah kecil di game? lucu banget!" Saat ku bawa ke team party battle, dan lihat setingan skinnya dan baca latar belakang deskripsinya, ternyata dia bisa berubah menjadi dewasa juga menyesuaikan kemampuannya saat berubah. Semisal, Ose kecil ingin berubah dewasa dan menjadi dokter, maka ia memiliki kemampuan sebagai dokter, atau juga jika ia berubah menjadi seorang telematika, maka ia akan punya kemampuan untuk berhitung layaknya seorang telematika. Ose adalah karakter favoritku di game.
Next karakter favoritku itu, sebenarnya Aizen. Memang sih awalnya aku kurang suka. Perasaanku berubah pas ikutin strorynya, pada Past Event edisi Valentine. Aku auto suka Aizen, karena dia menjelaskan sesuatu yang bisa ku terima, walau sisanya agak... Hmm... Terlalu berlebihan.