Permainan dilakukan tujuannya adalah untuk mengisi waktu luang dan menjadi sebuah sarana hiburan. Namun jika permainan yang dilakukan sudah menuju ke hal-hal di luar batas kewajaran, maka yang di peroleh hanyalah....
Suara musik terdengar begitu memekikkan telinga, di sebuah villa milik keluarga James, salah seorang pemuda tampan yang orang tuanya sangat kaya raya sedang dalam keadaan yang sangat ramai.
Dia mengundang semua teman kuliahnya untuk menghadiri pesta perayaan pertambahan usianya yang ke 21 tahun. Selain beberapa teman dekat dia juga mengajak pacarnya Jesslyn. Gadis itu baru saja di pacarinya dua bulan yang lalu. Salah satu primadona di kampus tempatnya kuliah.
Karena hari ini James adalah Raja nya maka para gadis gadis lain pun berusaha mendekatinya dan menarik perhatian nya. Hal itu membuat Jesslyn merasa cemburu hingga memilih keluar ruangan musik itu. Dia memilih pergi ke sebuah taman. Berdiri cukup lama disana, seorang pemuda pun menghampiri nya.
"Hai Jes, kenapa malah sendirian disini?" tanya Ramon.
Jesslyn menoleh, Ramon juga adalah mantan pacar dari Jesslyn. Dia adalah ketua tim basket di kampus. Mereka putus karena Jesslyn tidak suka Ramon terlalu dekat dengan Vivian ketua tim pemandu sorak.
"Hai, Ramon. Tidak apa-apa, musik di dalam terlalu kencang, aku tidak terlalu suka!" jawab Jesslyn seadanya.
Ramon pun memutuskan untuk menemani Jesslyn, mereka mengobrol ringan hanya seputar kampus dan perayaan pesta yang begitu mewah ini.
Namun dari jauh, James melihat pacarnya yang berdiri dan berbincang sangat akrab dengan mantan pacarnya. Sahabatnya yang lain membuat telinga James makin panas dengan menambahkan bumbu-bumbu kemungkinan kemungkinan, dan jangan jangan.
James berjalan dengan cepat ke arah Ramon dan memukulnya hingga Ramon jatuh ke tanah. Perkelahian pun tak dapat di elakkan, Jesslyn berusaha melerai namun sia-sia. Hingga datanglah Edgar dengan menembakkan peluru dari senjata apinya ke udara.
Dorrr!!!
Mata semua orang tertuju pada Edgar dan senjata api yang di bawanya.
"Bukan jamannya lagi adu jotos brother! sekarang saatnya adu nyali!" ucap Edgar sambil mengulurkan tangannya pada James.
James bangun dan tak lama Ramon juga bangun, mereka masih saling pandang tak suka.
"Aku keluarkan semua peluru di pistol ini, dan aku sisakan satu. Berani menerima tantangan ini?" tantang Edgar.
Ramon dan James masih diam, Edgar yang memang terkenal jumawa menarik lengan Jesslyn.
"Lihat Jesslyn, mereka berdua tidak punya nyali. Lebih baik kamu jadi pacarku saja!" ucap Edgar dengan entengnya.
Merasa tak terima, James menarik tangan Jesslyn dan membawanya ke dekatnya.
"Jangan sembarang, aku James Lucky tidak takut pada apapun, aku selalu memiliki keberuntungan karena keberuntungan ada dalam namaku!" tutur James sombong.
Jesslyn bahkan sudah berkali-kali meminta James untuk tidak melakukan permainan yang diusulkan oleh Edgar itu tapi usahanya percuma.
Saat ini James dan Ramon sudah duduk dengan posisi saling berhadapan. Dan Edgar meletakkan pistol berisi satu peluru itu di tengah meja di hadapan keduanya.
"Kepala atau ekor?" tanya Edgar pada James.
"Kepala!" jawab James tanpa menoleh kearah Edgar dan malah fokus menatap Ramon dengan tatapan mata yang tajam.
Edgar melempar koin itu ke udara lalu menangkapnya.
"Kepala! James mulai duluan!" ucap Edgar.
Semua yang melihat permainan itu bersorak. Mereka belum menyadari seberapa bahaya permainan ini.
James mulai mengangkat pistol dan mengarahkannya ke pelipisnya dan kemudian dalam hitungan ketiga yang di ucapkan oleh Edgar, James menarik pelatuknya.
Dan...