Di perkembangan dunia yang semakin maju, banyak ilmuan yang selalu menemukan hal baru di alam semesta ini. Meskipun begitu, jauh di kedalaman alam semesta. Ada sebuah planet yang sangat mirip dengan bumi, dan bisa di ibaratkan seperti miniatur Bumi.
Di sana lah planet untuk para manusia dengan darah setengah binatang tinggal. Siluman? Bukan!! Mereka sangat identik dengan manusia. Yang membedakannya hanyalah darah di tubuh mereka yang tercampur dengan darah binatang. Dan tidak akan aneh lagi, jika mereka memiliki beberapa sifat seperti hewan yang tercampur dengan darahnya.Seperti gadis dengan campuran darah Kelelawar di cerita ini.
Gadis Kelelawar ini bernama Cerry. Penampilan seperti gadis pada umumnya, dengan sifat yang lebih ceria. Saat ini Cerry telah sampai di mana ia akan masuk ke Sekolah. Jangan salah mengira mereka tidak perlu sekolah karena mempunyai sihir. Selain asal mula darah hewan di tubuh mereka, mereka berfikiran logis seperti hal nya manusia biasa.
Hari ini adalah hari pertama Cerry masuk ke SMA. Semua murid baru di kumpulkan di tengah lapangan. Cerry yang memiliki setengah darah kelelawar di tubuhnya, hanya bisa memakai kacamata hitam untuk menutup matanya dari sinar matahari.
Cerry masih beruntung di bandingkan dengan sahabatnya,yaitu Revy yang memiliki setengah darah katak. Di tengah terik matahari, Revy hanya bisa memakai pakaian berlapis agar kulitnya tidak kering dan jadi keriput.
Di samping itu, banyak murid-murid lain yang memiliki keunikan mereka sendiri. Hingga akhirnya guru telah membagi kelas mereka. Sangat di sayangkan Cerry berada di kelas yang berbeda dengan Revy. Namun di sudut kecil lubuk hati Cerry juga merasa senang. Saingannya yang selalu menjadi peringkat pertama di kelas, akhirnya tidak sekelas denganya. Namun dengan begitu Cerry juga berpisah dengan sahabatnya itu.
Beruntung nya Cerry, walaupun tak bersama sahabatnya. Setidaknya dia masih sekelas dengan temanya yang sejak sekolah dasar sudah sekelas denganya. Dialah Vivi, gadis dengan campuran darah Burung Walet. Dan dia sangat identik dengan suaranya yang nyaring, serta dapat berbicara selama 1 menit tanpa mengambil nafas.
Hanya ada 24 murid di dalam satu kelas, dan saat ini wali kelas mereka telah datang untuk menyambut mereka.
"Hallo semuanya!! Perkenalkan nama Ibu, Wangsih! Ibu memiliki campuran darah kancil. Jadi jangan heran jika ibu sangat cerdik, jangan coba sesekali buat bodohin ibuk!! Karena itu enggak akan mempan! Hahaha" ucap Bu Wangsih memperkenalkan diri dengan logat Jawa yang sangat kental.
Memang sudah adat mereka untuk menyebutkan darah campuran mereka saat memperkenalkan diri. Dan kini saatnya Cerry untuk memperkenalkan dirinya.
"Hai teman-teman, Namaku Cerry. Aku campuran darah dari Kelelawar" ucap Cerry memperkenalkan diri dan kemudian di lanjutkan oleh Vivi.
"Hallo, aku Vivi campuran darah dari Burung walet" ucap Vivi memperkenalkan diri.
Satu persatu murid memperkenalkan diri. Hingga tiba-tiba
Bruakk!!! Pintu kelas tiba-tiba tertutup karena tertiup angin.
"Haduh... Itu penyangga pintu nya udah rusak, nanti beberapa anak laki-laki bantu benerin ya... " ucap Bu Wangsih dengan lembut.
Bruak!!!
Tiba-tiba sekali lagi terdengar suara gubrakan, semua orang menatap ke arah pintu. Namun pintu kelas masih tertutup, lantas dari mana asal suara itu?
"Ibuk!!! Tolongin Santi!!" teriak Mimi yang salah satu manusia dengan campuran darah Kadal.
Semua orang menoleh ke belakang, terlihat Mimi yang menangkap Santi yang merupakan manusia dengan setengah darah kelinci. Ternyata suara gebrakan barusan berasal dari kursi Santi di saat Santi tiba-tiba pingsan.
"Ada apa?!!" seru Bu Wangsih yang langsung berjalan kebelakang.
"Santi sejak kecil memang punya tubuh yang lemah, gara-gara pintu barusan dia jadi kaget" ucap Mimi yang menjelaskan dengan cepat.
"Tunggu apa lagi?!! Anak laki-laki!! Cepat bantu angkat ke UKS!!" seru Bu Wangsih.
Santi dengan cepat di bawa ke ruang UKS, Bu Wangsih dan Mimi juga ikut ke UKS. Semua orang kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Namun Cerry tak bisa lepas dari rasa penasaran, di tambah dengan Vivi yang suka dengan gosip. 2 sejoli itu berjalan ke belakang dan menghampiri 2 gadis yang duduk di depan Santi dan Mimi.
"Hei...Gimana sih tadi cerita nya?Masa cuma gara-gara suara pintu langsung pingsan?" tanya Cerry yang penasaran.
"Apa mungkin dia cuma caper?" tanya Vivi yang suka mencari keseruan.
"Enggak tahu juga.Tiba-tiba aja pingsan, coba tanya Qesy" ucap Vita yang merupakan salah satu manusia dengan campuran darah Panda yang langka.
"Kalian jangan mengada-ngada!! Santi memang dari dulu sakit-sakitan" ucap Qesy yang merupakan manusia dengan setengah darah Koala.
"Kalian berempat udah kenal lama?" tanya Cerry yang penasaran kenapa Qesy bisa begitu yakin.
"Enggak juga. Kalau aku kenal Mimi waktu kemah peserta didik baru kemarin itu" ucap Vita menjelaskan.
"Ahh!! Aku inget!! Aku juga sekelompok dengan kalian berdua!!" seru Vivi yang akhirnya mengingat Vita.
"Kalian kenapa mudah lupa sih. Pasti kamu juga lupa kalau kita juga sekelompok!" ucap Qesy yang merujuk pada Cerry.
Cerry sejenak mengingat kembali, dan akhirnya ia bisa mengingat kalau memang benar Qesy satu kelompok dengannya.
"Iya ya!! Kita sekelompok, kenapa aku bisa lupa?!!hahaha!!" seru Cerry sembari memukul bahu Qesy.
Mereka akhirnya beralih membicarakan saat-saat mereka kemah dan jadi satu kelompok. Seketika Cerry dan Vivi telah melupakan tujuan awal mereka yang ingin mengetahui kronologi kejadian tentang Santi.
***
Beberapa hari kemudian, tiba saatnya di hari pertama pelajaran Seni. Cerry bersemangat menunggu seperti apa pelajaran Seni di SMA. Hingga seorang guru masuk ke dalam ruangan sembari membawa beberapa peralatan. Mulai dari pengeras musik, Keyboard, gitar dan juga alat lukis.
"Baiklah anak-anak. Perkenalkan nama Ibu, Tia. Ibu memiliki campuran darah burung Merpati. Dan hari ini, karena hari pertama pelajaran di kelas Seni. Ibu memutuskan agar kalian memperkenalkan diri di depan kelas. Bukan hanya menyebutkan nama, tapi juga memperkenalkan bakat yang kalian miliki" ucap Bu Tia yang langsung tanpa basa basi memberikan ujian kepada para muridnya.
Semua orang terkejut mendengar perkataan Bu Tia. Walaupun setiap dari mereka memiliki bakat seni, namun sedikit dari mereka yang memiliki keberanian untuk tampil di depan umum.
"Ayo!! Siapa yang mau tampil duluan?" tanya Bu Tia, namun tak seorang pun berani menjawab.
"Oiya, yang mau melukis juga boleh ya. Ibu beri waktu sampai jam mata pelajaran berakhir. Semua peralatan sudah ada di sini, tinggal kalian gunakan saja!" ucap Bu Tia sembari menunjuk ke arah barang-barang yang tadi ia bawa.
Mendengar ucapan Bu Tia, banyak murid yang memilih mengambil alat lukis. Setidaknya mereka tidak perlu tampil di depan banyak orang. Hingga akhirnya seorang murid laki-laki maju ke depan dan mengambil Gitar siap untuk perfom.
"Perkenalkan nama saya Jaka, saya memiliki campuran darah dari Cicak. Kali ini saya ingin menampilkan sebuah lagu yang berjudul Cicak-cicak di dinding😂" ucap Jaka yang langsung mulai memetik senar gitarnya.
Semua orang tertawa mendengar perkenalan Jaka, akan tetapi setelah mendengar permainan gitarnya. Hanya rasa kagum yang bisa di tunjukkan semua orang.
"Terima kasih" ucap Jaka yang telah menyelesaikan lagunya dan kembali ke tempat duduknya.
"Selanjutnya!! Siapa lagi yang mau maju?!" tanya Bu Tia setelah Jaka kembali duduk.
Cerry yang usil mulai mengganggu Vivi.
"Saya Bu!!" seru Cerry sembari mengangkat tangan Vivi namun ia malah menutup wajahnya dengan buku.
"Ehh!! Jangan gitu?!!" seru Vivi ke Cerry dan langsung menurunkan tangan nya.
"Baik!! Kamu yang suaranya nyaring, maju kesini!!" ucap Bu Tia menunjuk Vivi.
"Di panggil tuh!!" cetus Cerry meledek Vivi.
"Awas kamu ya!!" ancam Vivi yang dengan terpaksa harus maju karena di tunjuk oleh Bu Tia.
"Perkenalkan nama saya Vivi, saya campuran darah dari Burung Walet. Kali ini akan menampilkan sebuah tarian" ucap Vivi memperkenalkan diri.
Seketika musik hip hop di putar dari pengeras suara. Tarian yang tegas dan energik di lakoni dengan sempurna oleh Vivi.
"Terimakasih" ucap Vivi setelah menampilkan tariannya.
Namun, sebelum Vivi kembali ke tempat duduknya. Vivi berbisik kepada Bu Tia, entah apa yang mereka bicarakan. Hanya Vivi dan Bu Tia yang tahu.
"Baiklah...Cerry, katanya kamu bisa Menarikan tarian Phoenix? Coba tunjukkan pada kami" ucap Bu Tia yang tiba-tiba menunjuk Cerry.
Akhirnya Cerry mengetahui apa yang di bisikan oleh Vivi. Cerry menoleh dan menatap Vivi, namun justru di balas dengan senyuman sinis dari Vivi.
"Baik, Bu" ucap Cerry yang dengan terpaksa maju ke depan.
Cerry mulai memperkenalkan dirinya, dan mulai menari. Bukanya Cerry tak bisa menarikan tarian itu, melainkan Vivi tahu kalau Cerry sudah bosan dengan tarian ini. Karena selama 3 tahun berturut-turut Cerry di SMP selalu di minta oleh guru untuk membawakan tarian ini.
Lagu yang sangat lembut, ayunan tangan Cerry yang lincah namun lembut. Serta jari-jari Cerry yang terlihat lentik dalam tarian itu. Membuat mata yang melihat terkagum-kagum. Hingga akhirnya Cerry telah menyelesaikan tariannya.
"Terima kasih" ucap Cerry setelah selesai menari dan hendak kembali duduk.
"Tunggu dulu!!" seru Bu Tia menghentikan Cerry.
Sontak Cerry berhenti dan menoleh ke arah Bu Tia.
"Apa kita pernah ketemu?" tanya Bu Tia ke Cerry.
Cerry bingung dengan pertanyaan Bu Tia, Cerry mencoba berfikir apakah pernah bertemu dengan Bu Tia.
"Hmm, sepertinya enggak deh buk" ucap Cerry yang tak bisa mengingat.
"Enggak kok!! Beneran kita pernah ketemu!! Gerakan kamu saat tangan di atas barusan sangat identik sekali dengan kamu!! Lomba memperingati hari guru di tahun 2005!!" ucap Bu Tia mengingatkan Cerry.
Akhirnya Cerry teringat di lomba yang pernah ia ikuti saat masih kelas 6 di Sekolah Dasar.
"Ahh!! Lomba itu! Aku ikut menari di final, melawan Sekolah di Cendani!!" ucap Cerry yang baru ingat namun tiba-tiba terhenti.
"Itu waktu aku masih SD kelas 6,kita ketemu di mana Bu?" tanya Cerry yang masih belum mengingat Bu Tia.
"Kamu mungkin gak ingat, Ibu jadi salah satu juri di lomba itu. Kamu sama teman kamu itu menari dengan sangat bagus lo. Sayang sekali kalian salah mengambil tema lomba. Pialanya di bawa Cia deh" ucap Bu Tia yang berujung menunjuk Cia yang merupakan manusia dengan darah campuran Burung Camar.
Cerry mencoba mengingat kembali dan akhirnya mendapat sedikit ingatan.
"Ahh!! Kamu dari tim yang waktu itu melawanku?Kebetulan macam apa ini?!!" ucap Cerry yang tak menyangka bisa bertemu dengan lawan main dan juga Jurinya dulu.
"Kamu gak ingat aku, tapi aku ingat kamu. Tarian kamu sama teman kamu waktu itu sangat menyiksa batin. Biarpun gerakannya anggun dan elegant, enggak tahu kenapa bisa bikin bulu kuduk merinding" ucap Cia memuji tarian yang pernah di bawakan Cerry.
"Sebenarnya orang yang menari dengan ku juga ada di sini kok" ucap Cerry sembari menunjuk Vivi dengan tatapannya.
Bu Tia dan Cia menoleh ke arah Vivi, dan Vivi tersenyum kecil karena malu.
"Beneran kamu?!! Kebetulan sekali?!! Ibu jadi penasaran waktu itu kalian nari tarian apa sih?" tanya Bu Tia ke Cerry dan Vivi.
Cerry kembali duduk di kursinya sedangkan Vivi mulai menjawab pertanyaan Bu Tia.
"Itu tarian dari Bali. Sebenarnya bukan asli Bali sih, tarian itu sudah di rubah oleh para tetua" ucap Vivi yang tak tahu bagaimana menjelaskan nya.
"Sebenarnya Kakek dan Nenekku punya sebuah kelompok pertunjukan Kelelawar malam. Aku dan Vivi salah satu anggota nya juga. Tarian itu juga tarian yang biasa kami tarikan. Jadi, kami yang waktu itu terlihat kompak sampai bikin merinding. Sebenarnya karena sudah biasa tampil bersama bertahun-tahun" ucap Cerry menjelaskan.
"Wah...Ternyata memang kalian penari sungguhan. Jadi sudah biasa tampil di panggung? Gimana kalau gabung dengan Eskul tari yang ibu Bina?" tanya Bu Tia ke Cerry dan Vivi.
Cerry dan Vivi yang sedari awal memang ingin mendaftarkan diri, dengan senang hati menerima tawaran Bu Tia. Tanpa perlu melakukan tes lagi, Cerry dan Vivi sudah di masukan ke daftar anggota Eskul Tari.
***