Suatu ketika saat dunia baru mencapai tahun 3333, cairan hijau yang entah datang dari mana menghujani seluruh dunia. Bersamaan dengan itu muncullah sebuah suara yang menggema di seluruh penjuru langit dunia. Suara yang awalnya tak dimengerti karena bahasanya yang teramat asing, perlahan menjadi jelas ketika telapak tangan semua orang bermunculan angka satu.
"Dewa kalian telah tiada, tiba saatnya kalian menggantikan posisinya. Tapi ... hanya ada satu Dewa yang boleh mengatur satu dunia. Karena itu ... jadilah orang terakhir yang berhasil bertahan hidup!"
Awalnya semua orang mengabaikan suara itu hingga saat angka satu berubah menjadi 0:23:59 dan terus berkurang. Mereka pun mulai bimbang.
Darrr!!! seorang penjahat dengan pistol di tangannya menembak seorang wanita tua demi untuk menghilangkan rasa penasarannya. Dan benar saja, angka nol di baris terdepan seketika berubah menjadi satu. Tak hanya itu, tubuhnya pun tiba tiba saja berubah menguat. Yang awalnya bertubuh kurus berubah menjadi berisi dan ketika dia membunuh korban ke dua, otot otonya menjadi semakin terbentuk hingga membuatnya ketagihan.
"Kyaaa!!"
"Pembunuh!" para penduduk di langit Tokyo berlarian menjauhi penjahat itu. Tentunya sang pembunuh tak hanya diam dan terus menembaki orang orang yang dia jangkau. Hingga akhirnya sebuah peluru mengenai kepalanya. Tetapi ...
Trang!! peluru itu terpental seakan baru saja menabrak logam yang teramat keras.
"A ... apa dia manusia!?" para polisi terkejut saat melihat hal aneh itu, dan perlahan menembak kembali sembari mundur dengan perasaan waspada.
"Hhahhah! bahkan peluru sudah tak mempan padaku?"
"Aku suka permainan ini! Tunggu aku suara asing! Aku pasti akan menjadi Dewa di dunia ini!" penjahat itu berteriak kencang sembari menatap langit. Mengabaikan peluru yang terus ditembakkan ke arahnya. Di punggung tangannya tersemat angka 50:23:40 pertanda bahwa dia telah menghabisi lima puluh nyawa dengan pistol di tangannya. Kejadian serupa juga terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia yang kala itu juga sedang dihujani oleh cairan hijau yang perlahan berhenti saat pembunuhan sudah mulai meraja lela.
"Apa yang sedang kau lakukan Andre!"
"Berhenti mendorongku ke sudut jurang!"
"Kita kan seorang teman!" Budi mencoba menahan dorongan Andre yang memperlihatkan kebencian besar di wajahnya.
"Ki ... kita sedang ada di dekat tebing loh?"
"Bisakah kalian hentikan hal konyol ini!" Liana berteriak sembari mencoba menarik mundur Andre.
"Apa kalian gak denger suara tadi ha!"
"Suaranya persis seperti yang ada di mimpiku belakangan ini!"
"Aku harus membunuh seseorang untuk bertahan hidup!" teriak Andre sembari mendorong mundur Budi.
"Sadar Ndre!"
"Gue temen Lo!" Budi mencoba menahan dorongan Andre tetapi ... pijakan mereka tiba tiba saja runtuh hingga terjatuh ke dalam jurang. Beruntungnya Budi tersangkut di atas cabang pohon yang memanjang dari dinding tebing. Sementara Liana dan Andre harus berjuang untuk hidup dengan menggapai ranting pohon yang tak jauh dari tempat Budi tersangkut.
"Ambil tanganku Li ... Ndre ... ," Budi yang saat itu meringkuk di atas batang pohon menyodorkan tangan ke kedua temannya dan berhasil membuat keduanya berpegangan tangan. Tetapi ... karena habis terjatuh dari ketinggian, Budi kesulitan menahan bobot kedua temannya itu. Dimana akhirnya dia harus memilih untuk menyelamatkan salah satunya. Dan Andre yang malang berakhir dilepaskan karena Budi lebih menginginkan keselamatan Liana.
"Ja ... Jangan lepas Bud ... ! Gue minta maaf ... sungguh!" Andre merengek meminta maaf, tapi Budi tak dapat mengubah keputusannya. Dia hanya bisa berkata, "Maafkan aku Ndre ... , Aku gak sanggup menahan tubuh kalian berdua bersamaan ...."
Woooshh!!! Andre yang dilepaskan tangannya oleh Budi, segera terjun bebas hingga menabrak bebatuan yang tajam. Zrashh!!! Suara tubuh Andre yang menghantam bebatuan runcing di dasar tebing dapat didengar jelas oleh Liana dan Budi. Tak lama setelah itu, Angka nol di kedua punggung tangan Budi segera berubah menjadi angka satu. Sementara angka di baris terbelakang terus berkurang tiap menitnya.
Setelah berhasil lolos dari maut, Liana dan Budi memutuskan untuk berhenti dari kegiatan olah raga ekstrim panjat tebing mereka. Lalu mengubur tubuh Andre selayak mungkin.
Ketika penguburan selesai, keduanya memutuskan untuk berkemah sementara waktu sembari berusaha bersikap tenang. Memikirkan apa yang akan mereka katakan pada ibu Andre saat pulang nanti.
Hari esok pun tiba, tapi ... Liana yang awalnya baik baik saja, tiba tiba saja tak mau terbangun meski Budi berteriak sekencang apapun. Saat melihat punggung tangan Liana yang bertuliskan 0:00:00, barulah budi sadari bahwa permainan Dewa bukanlah sebuah candaan. Angka angka itu benar benar mewakili kehidupan semua orang.
"Li ... , bangun Li!"
"Jangan bercanda dong!"
"Ayo bangun!"
"Aku harus bilang apa sama orang tuamu kalau Lo gak mau bangun kaya gini!" Air mata menetes deras membasahi pipi Budi. Sementara punggung tangan yang disentuh oleh Budi perlahan lenyap dan mengubah angka nol di telapak tangan Budi.
"Angkanya bertambah lagi?"
"Aku kan gak bunuh orang!" Budi merasa bingung di awal, dan hanya menganggapnya sebagai sebuah keberuntungan karena diberi hidup sehari lebih lama lagi.
Tak seperti Andre yang tubuhnya hancur hingga langsung dia kubur, Budi membawa tubuh Liana menuju ke rumahnya untuk mengabari kedua orang tua Liana. Sayangnya ... saat sampai di kediaman Liana. Terlihat banyak mayat yang tergeletak dengan angka kosong yang mendominasi punggung tangan mereka. Dengan kata lain, saat ini selain orang yang pernah membunuh kemarin tak ada lagi yang bertahan hidup.
Budi yang khawatir akan keadaan orang tuanya, segera membawa kembali tubuh Liana ke mobilnya dan segera pergi menuju ke rumah orang tuanya. Dan benar saja, sesampainya di sana ... Budi mendapati seluruh keluarganya tewas dengan punggung tangan yang didominasi angka nol.
"Beh ... Nyak ... Bangun Oi! Jangan bercanda! Budi udah pulang nih! Cepet bangun!" Budi menguncang guncang tubuh seluruh keluarganya, dari Ayah, Ibu, adik, paman, bibi hingga bahkan pembantu dan tukang kebun di rumahnya. Dia coba bangunkan satu demi satu dengan hati yang frustrasi dan air mata yang tak dapat dia tahan lagi.
"Nyak .... ! Babeh ... ! Kenapa kalian tinggalin Budi!"
Singkat cerita setelah tak sengaja menyentuh punggung tangan orang orang yang telah tiada, Budi menyadari bahwa angka di punggung tangannya terus bertambah. Dan tak lama seteah itu tubuhnya berevolusi menjadi lebih keras dan dapat melihat objek yang lebih jauh. Budi yang saat itu tak ada teman atau keluarga lagi untuk dijadikan tempat bersandar, dikejutkan oleh panel sistem yang tiba tiba saja muncul dan menyelamatinya.
Selamat karena telah berhasil bertahan hidup di hari kedua! Teruslah perpanjang umurmu dan raihlah singgasana Dewa dengan menjadi yang terakhir hidup! Dengan menjadi Dewa kau dapat melakukan apapun termasuk membangkitkan orang mati!
"Membangkitkan orang mati?"
"Syukurlah, masih ada jalan untukku melihat kalian lagi. Apapun yang terjadi, aku harus menjadi Dewa!" Budi membulatkan tekadnya lalu menyentuh punggung mayat yang masih menunjukkan angka nol. Dia terus menambah masa hidup dan kekuatannya tanpa membunuh sedikitpun. Berkeliling menjamah punggung tangan para mayat sebelum menguburkan mayat mereka yang tergeletak di sembarang tempat.
Sementara di sisi lain, ada para penjahat yang terus bertahan hidup dengan saling membunuh karena tak tahu aturan mayat yang mati karena waktu.
Budi perlahan menjadi kuat, tapi tetap menghindari pertikaian antar pembunuh. Meski akhirnya dia pasti harus membunuh seseorang, tapi sebisa mungkin dia ingin mengurangi korban yang mati di tangannya. Karena itu dia kerap kali hanya membuat pingsan lawan yang berpapasan dengannya. Meski begitu, tak ada yang berani meragukan kemampuan membunuh Budi, semua karena jumlah barisan awalnya tidak tertulis angka lagi, melainkan angka dengan huruf yang bertuliskan 9KC yang bermakna 9000 Century, yang mana satu century mewakilkan 100 tahun. Terbayang sudah berapa mayat yang Budi lewati hingga mencapai angka tersebut. Karena keberadaan Budi cukup mengancam cita cita semua orang untuk menjadi Dewa, akhirnya dia pun menjadi target utama di seluruh penjuru dunia. Payahnya meski sudah cukup kuat, Budi yang naif tak membunuh musuh yang dia kalahkan. Hingga akhirnya dia dihadapkan oleh sosok lain yang mencapai angka hidup seperti Budi, namun menggunakan cara umum dengan menghabisi.
"Wooshh!" Keduanya beradu tinju satu sama lain. Pertarungan yang sangat intens diantara kedua sosok terkuat itu menarik perhatian para pembunuh yang berada di sekitar lokasi. Dari tinju ke tendangan, dari tendangan ke semburan api, semuanya berakhir dengan seri.
"Hosh hosh hosh!"
"Kau juga pengguna api ternyata!" Budi menghela napas sembari menyeka darah di wajahnya.
"Aku tak mengerti bagaimana caramu menjadi kuat, yang jelas aku tak mencium bau darah dari tubuhmu!"
"Kau benar benar meremehkanku ya!" Pria itu seketika terselumut api hitam. Tubuh dan matanya memancarkan tekanan seorang pembunuh. Tekanan yang tak bisa dimiliki oleh orang naif seperti Budi. Sejak tekanan itu muncul, pertarungan berakhir berat sebelah. Budi dipukul habis habisan hingga hampir meregang nyawa. Beruntungnya pijakan dimana mereka berkelahi saat itu runtuh hingga menebarkan asap putih yang menghalangi pandangan. Budi yang sadar akan kekalahannya, segera lari memanfaatkan asap tersebut.
"Huahh!!" Blood King marah saat kehilangan keberadaan Budi. Dan melampiaskan kemarahan tersebut ke para target hidup yang menonton pertarungan mereka dari jauh.
Sratt sratt sratt, Cakar Blood King yang tajam mencabik habis semua pembunuh yang berada dalam jarak pandangnya.
"Padahal dia habis bertarung habis habisan, apa apaan serangannya itu!" para pembunuh kocar kacir kesana kemari, namun tak ada yang selamat dari amukan Blood King.
Di sisi lain, Budi mulai menyadari kekurangannya. Dia mulai meragukan kemampuan dan keputusan naifnya selama ini. Pikirannya pun terbuka sejak Blood King terus menyinggung apa tujuannya bertarung. Sejak saat itu, Budi mulai dihantui mimpi yang memojokkannya untuk membunuh. Mimpi tentang keluarga serta teman temannya yang memohon agar Budi mau membunuh demi untuk menjadi Dewa. Dalam mimpi itu juga muncul sosok Blood King yang digambarkan sedang menghabisi teman serta keluarganya hingga membuat Budi marah dan kesa. Sejak mimpi itu terus menghantui Budi, dia mulai menggila setiap kali ada yang mengganggu waktu istirahatnya. Hingga akhirnya tak sengaja menghabisi nyawa seseorang untuk pertama kalinya.
"Aku ... Membunuh?" ucap Budi gemetar. Pikirannya kacau hingga mulai berdelusi tentang munculnya sosok Andre yang bersimbah darah. Sosok itu menatap Budi dengan berkata, "Ini bukan pertama kalinya kau membunuh, kenapa kau baru merasa bersalah sekarang? Apakah baik baik saja membunuhku saat itu?"
"Ti ... tidak! Waktu itu aku tak berniat membunuhmu! Sungguh!" Budi berteriak kencang sembari menutup mata dan telinganya.
"Dasar bohong, jelas jelas kau sadar bahwa melepas tanganku akan memutus hidupku. Pada akhirnya kau membunuhku hanya agar bertahan hidup sepertiku kan? pembunuh!" Andre terus menghantui Budi hingga membuatnya gila dan mengamuk tanpa arah.
Nyawa demi nyawa pun perlahan jatuh di tangan Budi saat dia dikendalikan oleh sebuah delusi. Hingga akhirnya dia pun dipertemukan kembali dengan Blood King yang kala itu menjadi musuh sekaligus target terakhirnya. Orang terakhir yang berhasil bertahan hidup hingga akhir selain Budi.
"Kau ... sudah berubah menjadi pembunuh ya, Budi?" Blood King bertanya dengan hawa membunuh.
"Kau salah! Sejak awal aku adalah pembunuh yang tega menghabisi temanku sendiri. Sejak awal ... aku bukanlah orang baik! Jadi ... tolong berhenti melawan, dan jadilah korban terakhirku agar bisa menjadi Dewa!" Budi mengamuk dengan aura membunuhnya.
"Sayangnya bukan kau saja yang menginginkan tahta itu!" Blood King mengamuk dengan aura membunuhnya. Dia melesat maju kemudian mengeluarkan serangan berupa cakran kilat, semburan api, hingga ledakan energi yang dilawan budi dengan gerakan kilat dan serangan balik yang kurang lebih sama.
Duartt!!! Blood King terpental mundur hingga menabrak reruntuhan. Tak hanya sampai situ, Budi yang sudah kehilangan rasa simpatinya menginjakkan kaki ke tubuh Blood King dengan melompat terjun dari ketinggian ribuan kaki.
Krakkk!!! daratan dimana tubuh Blood King berada hancur hingga membentuk kawah. Sementara Blood King yang saat itu didesak perlahan kehilangan kesadarannya. Dengan napas terakhir yang dia miliki, Blood King tersenyum tipis sembari berkata, "Selamat karena bisa menjadi Dewa, Budi!"
"Terimakasih karena telah menuntunku hingga menjadi seperti sekarang, Blood King!" Budi tersenyum dingin saat melihat Blood King menutup pelan matanya dengan senyuman.
Selamat karena telah menjadi yang terakhir!
Kini kau bisa menjadi Dewa Dunia ini!
Apa yang kau ingin lakukan terhadap dunia ini?
Sebuah panel game muncul di hadapan Budi dengan tiga pilihan jawaban yang ada di sana.
Jawaban yang yang Budi pilih ialah membuat ulang dunia dengan mengembalikan hidup semua orang yang tiada saat God Game berlangsung.
Singkat cerita Budi berhasil bertemu dengan orang orang terdekatnya, namun karena telah menjadi Dewa, dia hanya bisa berbincang sebentar lalu pergi ke alam lain dan membiarkan dunia mencabut keberadaannya di alam fana.
Tamat .