Dilan pemuda tampan berperawakan tinggi dan atletis. Kulit putih bersih bak buah pualam. Tapi, nasibnya tak sebagus penampilannya. Ia seorang berandalan jatuh cinta kepada gadis berdarah biru. Hubungan mereka terjalin secara diam-diam.
"A--aku hamil," ucap gadis cantik itu. Ia menyeka air matanya.
"Apa?! Mana mungkin!" bentak Dilan.
"Apa kau lupa? Sesering apa kita melakukannya." Cantika menatap tajam manik pria-nya.
Huft!
"Baiklah. Kau tak usah khawatir. Aku akan menikahi mu." Dilan memeluk Cantika. Mengusap punggungnya.
"Lalu?"
"Ehm. Aku akan bertemu dengan papamu," ucap Dilan ragu-ragu. Ia tahu papa Cantika akan menolaknya. Sudah pasti karena perbedaan kasta.
"Benarkah?"
"Tentu."
"Terima kasih, Sayang." Cantika menatap dengan mata berbinar-binar.
*
*
*
Besok paginya Dilan dan Cantika menghadapi sang papa. Degup jantung tak karuan. Digenggam erat jari jemari kekasihnya itu.
Roger menatap sinis lelaki muda yang berani menyentuh putrinya itu.
"Ada apa datang ke mari bersama laki-laki miskin ini, Sayang?" tanya Roger kepada Cantika. Kemudian ia menatap angkuh Dilan.
"Dengar kan kami dulu, Pa. Bolehkah, kami duduk?" Cantika memohon.
"Tentu. Asalkan laki-laki mis--,"
"Namanya Dilan, Pa!" Cantika memotong kalimat Roger.
"Ya, ya, ya." Roger duduk di atas sofa size king dengan menaikkan satu kakinya ke atas meja kaca.
"Ada perlu apa,"
"Om. Saya ingin menikahi putri anda,"
"Apa!" Roger menurunkan kakinya. Matanya mendelik hampir ke luar. "Aku tak salah dengarkan? Hahaha!"
"Papa ...," ucap Cantika lirih.
"Kau tahu? Laki-laki seperti apa dirimu. Mana pantas bersanding dengan putriku!" Sindir Roger.
Cantika berjalan ke arah Roger. Dan bersimpuh.
"Pa, nikahkan kami."
"Kamu terlalu dibutakan cinta," ujarnya.
"Tapi, Pa. Aku h---hamil."
"Apa?!!" Roger menendang Cantika. Dan berjalan ke arah Dilan.
Bugh!
Bogem mentah melayang di pipi Dilan.
Bugh!
Bugh!
"Hentikan, Pa! Aku mohon." Cantika mengiba.
Roger menarik kerah baju Dilan.
"Baiklah. Akan aku nikahkan kalian. Asalkan Dilan menyanggupi satu syarat dari papa." Roger melepaskan cengkraman tangannya.
"Apa itu?" tanya Cantika.
"Papa ingin Dilan menyerahkan uang sebanyak 5 triliun. Papa tunggu sampai 4 hari. Jika gagal, jangan harap bersanding dengan putriku!" Roger mengancam.
"Apa? Papa gila! Mana mungkin bisa, Pa,"
"Up to you!"
"Bawa dia ke luar dari sini!" perintah Roger pada pengawalnya.
"Pa! Aku mohon ..."
Dilan ditarik dan dilemparkan ke luar.
*
*
*
Dengan langkah gontai Dilan terus saja berjalan kaki sepanjang jalan. Tanpa sengaja ia menabrak seseorang.
Bruk!
"Maaf." Dilan berucap dengan tertunduk lesu.
"It's oke."
"Kau tampak kacau, Bung!" Pria itu menepuk pundaknya.
"Aku butuh pekerjaan. Di mana aku bisa mendapatkan 5 triliun?" Dilan tak sungkan mengutarakan maksudnya.
"Kebetulan sekali. Ini ambilah." Pria itu menyodorkan sebuah kartu nama beserta nomor teleponnya yang ia ambil dari saku baju.
"Sungguh?"
"Tentu. Temui aku di halte busway koridor delapan pukul 20:00 wib. Akan ku jemput kau di sana."
"Baik. Terima kasih!" Dilan memeluk pria tersebut.
Pukul 20:00 WIB.
Mobil sedan berhenti di depan Dilan. Dilan pun masuk karena pintu terbuka.
Lima belas menit perjalanan Dilan dibius agar pingsan. Lalu, satu jam kemudian ia terbangun.
"Di mana aku?" Dilan menatap di sekitarnya. Ia tak sendirian. Pakaian yang ia kenakan telah terganti dengan pakaian simpel bewarna biru malam. Di dadanya tertempel angka 457.
Dilan berada di satu ruangan basemen. Penuh sesak dengan ratusan orang. Bermacam-macam orang dan usia, baik wanita maupun pria.
Tuk!
Tuk!
Tuk!
Suara langkah kaki kian mendekat.
Ceklek!
Pintu terbuka. Dan masuklah sepuluh orang berbaju hitam membawa senjata tajam sejenis samurai. Wajah mereka sengaja ditutup dengan topeng aneka bentuk. Hanya ada salah satu dari mereka yang berbeda. Mungkinkah ketua sekte?
"Selamat datang di 'Deadly Game'!"
Pria misterius itu mengambil remote control dan memencet tombol on. Muncul sebuah tulisan.
Level 1 survival game
Level 2 the battle of power
Level 3 the end game.
Hadiah uang tunai 5 triliun!
"Syarat yang perlu kalian ketahui. Bahwa kalian bertahan hidup dari serangan, jebakan, dan lawan. Kemenangan ada di tangan kalian. Saatnya kita memulai level 1."
Dilan menelan saliva nya. Ia sadar kehidupannya dipertaruhkan. Demi cintanya pada Cantika tak menyurutkan niatnya.
Permainan baru akan segera dimulai. Dilan dan 456 orang lainnya digiring menuju terowongan goa yang gelap. Hanya panitia game yang membawa penerangan. Sampai di mulut goa mereka ke luar satu per satu. Hamparan luas hutan belantara. Entah, apa maksudnya.
Sekian ratus orang mencoba berpencar. Namun ....
Anak panah beterbangan menancap di dada dan punggung mereka. Semua berlari ke arah pintu goa. Tapi sayangnya, sudah tertutup. Tanpa ba-bi-bu lagi, Dilan berlari ke arah hutan belantara menghindari hujan anak panah. Berlari sekuat tenaga. Disusul dengan peserta lainnya.
Setelah sampai di dalam hutan mereka mendapatkan kejutan. Ya, di depan mereka kolam berisi beberapa ratus ekor buaya. Masing-masing peserta berpikir apa maksud dari itu semua.
Dor!
Dor!
Suara gemuruh senjata api peluru bertebaran menembus tubuh dan kepala mereka. Darah muncrat tak terkira.
Itu artinya, jangan berpikir secara lama. Dilan berusaha tenang seraya melindungi dirinya. Ia tak mau mati sia-sia.
Seseorang mencoba melompati batu-batu yang ada di dalam kolam tersebut. Dengan cara berlari agar tak tertembak.
Byur!
Tercemplung ke kolam lalu buaya-buaya ganas saling berebut dan melahap dengan bringas.
Dilan mendapatkan ide ia pun berlari ke arah kolam dan melompati batu-batu yang bisa dipijak. Dengan fokus batu mana yang mampu menopang tubuhnya. Ada dua jenis batu. Satu batu terbuat dari karet.
Hap!
Hap!
Hap!
Dengan lincah Dilan meloncat-loncat. Hingga ke garis finis. Ia terengah-engah bermandikan keringat.
*
*
*
Kini Dilan dan 246 orang berada di dalam basemen kembali. Sisanya gugur dan tewas. Dilan mendapatkan teman bernama Kiyoshi. Nasibnya, tak kalah tragis dengannya.
Hari ke-2 the battle of power.
Diberikan waktu selama satu menit untuk memilih lawan battle. Tak berpasangan maka dieliminasi.
Dilan dan seluruh peserta berlarian mencari pasangan.
Teeeet!
Waktu habis. Tersisa beberapa orang yang tak mendapatkan pasangan dikarenakan terluka ataupun sakit. Tanpa ampunan panitia melemparkan orang-orang tersebut ke kandang macan. Disambut gembira oleh binatang buas itu. Mencabik dan mengoyak kasar. Saling berebut satu sama lain. Menegangkan, bukan?
Seluruh peserta wajib mengambil senjata tajam yang telah disediakan panitia. Diberikan waktu satu menit untuk memilih.
Teeeet!
Waktu habis.
Dilan memilih sebilah belati tajam. Dan lawannya memilih pisau dapur.
Semua peserta pun mulai memainkan game ke-2. Mereka adu kekuatan otot dan uji kebolehan duel. Lawan harus mati di tangan. Jika tidak, maka akan tereliminasi.
Dilan menang kedua kalinya. Ia mampu menumbangkan lawan.
Peserta tinggal 90 orang yang akan melanjutkan ke babak final. Darah di mana-mana menggenangi lantai.
*
*
*
Hari ke-3 the end game.
Dilan dan beberapa orang lainnya sudah berkumpul di kolam renang. Mereka posisi dengan kedua tangan terikat ke belakang. Lalu satu persatu di masukkan ke dalam kotak tersebut. Lalu, dikaitkan dengan rantai dan digantung. Kemudian dimasukkan ke dalam kolam berisi air.
Apa maksudnya? Peserta panik. Bagaimana tidak, kotak tersebut memiliki celah agar air masuk secara perlahan. Lambat laun kotak itu semakin ke bawah ke dasar kelom sedalam 12 meter.
Dilan hampir menyerah ia rela mati setidaknya sudah berjuang. Detik-detik hampir penuh air di dalam kotaknya. Dilan melihat kunci di dalam kotak tersebut. Ia berusaha meraihnya.
Dan .... Dapat!
Ia membuka gembok dan berusaha keluar dengan sisa waktu 1 menit.
Ia pun bergegas berenang ke atas menuju permukaan. Dilan menyaksikan peserta lainnya yang berusaha membuka gembok tersebut. Sayangnya, mereka pun tewas kehabisan napas dengan cara tenggelam.
Dilan dinyatakan menang. Ia menangis pilu mengingat perjuangan dan kekejian yang dipaksakan.
Kini, ia membawa uang berjumlah 5 triliun.
Dilan diantarkan seseorang di mana ia waktu dijemput. Di sisinya satu koper berisi uang.
*
*
*
1 bulan kemudian ....
Dilan menjadi gila. Ia tak mampu melupakan Deadly Game. Bagaimana, Cantika? Ia dijodohkan papanya. Dan menikah dengan terpaksa.
Lalu, uang Dilan? Sebelum gila ia membagikan kepada orang-orang miskin. Karena ingatan nya tentang Deadly Game. Ia menjadi gila.
Tamat