Bertahan hidup dari kejaran para musuh ayah nya, Dira, gadis cantik yang harus bertahan hidup dengan cara yang sulit.
Dira berjalan perlahan, mencari jalan keluar, mata nya beberapa kali melirik ke belakang, memastikan bahwa sang musuh tidak mengetahui keberadaan nya.
YaTuhan, semoga aku bisa keluar dari tempat ini, mana banyak lagi jalannya. Dira berucap dalam hati.
Dira takut di tempat itu, ia selalu di siksa dan beberapa kali hampir mati karena banyak nya tantangan yang harus ia lakukan.
Dira tak pernah tidur dengan cukup, ia selalu saja harus menahan kantuk nya, demi hidup yang lebih lama.
Dira tak sengaja menginjak sebuah kaleng, alarm keamanan otomatis berbunyi, sang Musuh segera berlari ke tempat dimana alarm keamanan berbunyi.
Rahang nya mengeras, otak nya seakan tak bisa berpikir baik, ia menyeret Dira dan memasukan nya dalam sebuah lobang besar, setelah memastikan Dira masuk dan tidak hanya menggantung, sang Musuh menutup pintu lobang itu.
Dira sudah menutup mata nya rapat rapat, ia sudah siap menerima semua nya, jikalau ia harus mati disana, tapi kunjung 15 menit, Dira tak merasakan apapun, ia mencoba membuka mata.
"Baaaa!"
"Aaaaa!"
Begitu membuka mata, Dira kaget karena ada wajah dan sebuah suara tepat di depannya. Boneka itu, segera mendekatkan dan menelisik wajah Dira.
"Kamu lolos! Silahkan ikut saya, untuk menyelesaikan permainan." suara khas robot, menyapa gendang telinga Dira.
Hah? Permainan? Permainan apa? Kenapa harus? Tapi berhubung udah disini, terpaksa nyelesein deh.
"Are you ready? Dira?"
"Yes! I'm ready."
Dira segera memasuki permainan pertama, yaitu, Red light Green light. Baru masuk saja, Dira sudah deg deg an, ia takut ia akan kalah, tapi ia berusaha tetap tenang.
"Mugunghwa kkoci pleot seumnida." Penjaga itu, segera berbalik badan, dan melihat seluruh peserta yang mengikuti permainan.
Beberapa yang terlihat bergerak, segera ditembak mati oleh diri nya, dan penjaga itu segera berbalik sembari mengucapkan "Mugunghwa kkoci pleot seumnida" lagi, dan berbalik, menembaki para pemain yang bergerak.
Begitu seterusnya, hingga salah aatu pemain bernama, Zikha, mencapai garis finish. Ada beberapa yang kecewa, karena tidak bisa menjadi yang pertama, tapi mereka tak punya waktu untuk beriri hati, karena waktu tersisa 8 menit lagi.
Dimenit menit terakhir, Dira baru sampai, beberapa orang yang tidak sampai, tepat pada waktu nya segera ditembak mati di tempat.
"Permainan berikut nya, memotong sebuah permen menggunakan jarum!"
Banyak yang bertanya tanya dalam hati bagaimana cara nya, namun tak seorang pun berani menceletukan suara mereka.
Dira mencoba memilih gambar yang menurut diri nya paling mudah untuk dipotong, yaitu star (Bintang).
Namun, diri nya tak sengaja memotong bintang itu, pada titik titik terakhir kemenangan. Diri nya pun segera di tembak mati di tempat.
"Agh!" Dira terjatuh di atas padang rumput kering, bokong nya terasa kebas. Ia menoleh ke sekeliling, tak menemukan jalan, mata nya malah melihat sebuah labirin.
Labirin yang mungkin tak berujung, atau labirin penghubung agar ia bisa kembali. Dengan tertatih, Dira segera berjalan menuju labirin itu, walau ada perasaan ragu untuk masuk, tapi ia tetap masuk.
Labirin itu sangat gelap, Dira beberapa kali sampai terkena jebakan yang memang sengaja dibuat disana, mata nya juga agak berkunang, karena memaksakan melihat di kegelapan, ia mencoba duduk dulu, agar diri nya tak pingsan.
2jam Dira melangkahkan kaki nya dari satu tempat ke tempat yang lainnya, ia sudah lelah karena terus berputar putar, ia juga lapar dan kehausan.
Ia berdoa, semoga saja ada air yang bisa diminum. Karena dia telah haus sekali, suara remang remang, membuat Dira merinding.
"Ha-Hah-Hai..." Remang remang suara itu, menyapa Dira yang terdiam.
Dira segera beranjak dan lari, tak lagi memedulikan rasa lapar dan haus serta lelah letih tubuhnya, ia terlalu takut untuk sekedar berdiam disana.
Sementara suara tadi, ia tersenyum smirk dan kembali menghilang, Dira yang merasa sudah aman, sedikit menghela nafas nya, tapi tak pernah ia bayangkan, bahwa suara tadi nyata nya masih ada.
"Waktu habis..."
DOR DOR DORR!!!!
Suara tembakan mengakhiri kisah Dira...