Beberapa orang bilang non-fans itu kadang lebih beruntung dari fans
Dan sepertinya aku salah satunya...
Aku beruntung karena apa kira-kira?
💃💃💃
"Tadi keren banget sih gue akui!" Kira berujar antusias setelah kami keluar dari arena pertunjukan angklung. Aku mengangguk setuju, karena pertunjukan angklung tadi benar-benar keren, bahkan tadi kami berkesempatan untuk bermain angklung bersamaan.
Oh iya, for your information, 'kami' sedang melakukan karya ilmiah, study tour, bukan liburan, yang namanya study tour, pastilah tidak jauh dari pembelajaran dan pengamatan.
Dan kebetulan hari ini hari terakhir aku study tour dengan ditutup oleh pembelajaran seni yang bertempat disebuah museum seni.
Sekolah ku tadi berkesempatan belajar mengenai aneka seni terlebih seni musik. Tadi kami sempat mengadakan pertunjukan dadakan di sebuah aula, dimana angkatan sekolahku dipinjamkan angklung untuk kemudian dimainkan bersama sesuai intruksi dari dirigen.
Memainkan beberapa lagu nasional dan daerah, dan itu benar-benar luar biasa keren, suara angklung menggema di penjuru aula karena banyaknya peserta siswa dari sekolahku.
"Setelah ini makan siang lalu istirahat sejenak, acara selanjutnya bebas tapi ingat jam 4 sore sudah berkumpul di lapangan museum oke?" Intruksi panitia setelah sebelumnya kami disuruh berbaris perkelas dikumpulkan.
Semua pun mulai diarahkan di restoran dekat museum untuk makan, aku dan Kira temanku pun berjalan untuk mengambil makan.
"Huh? cuma satu jam dong acara bebasnya," Kira tampak mengeluh setelah melihat jam tangannya, aku ikut refleks melihat jam tanganku juga.
"Ya gapapa, lagian mau ngapain lagi disini, aku udah capek juga mau cepet pulang," balasku.
"Selfi dulu dong!"
Aku tertawa kecil mendengarnya, kami pun makan.
Kami bergabung dengan teman-teman yang lain dimeja, berbincang kecil dan menceritakan kegiatan hari ini.
Saat aku menenggak minuman, aku iseng mengamati sekitar area restoran yang kebetulan outdoor, enak sekali tempatnya, terlebih disiang menjelang sore ini anginnya lumayan kencang, jadi sejuk.
Taman-taman di museum tampak cantik.
Sesaat aku melihat beberapa rombongan kecil yang membawa banyak kamera. Entah tak peduli, tapi ada yang menarik perhatianku, disalah satu rombongan itu ada seorang yang memiliki warna rambut lucu, pink! Hahaha. Dan orang itu juga beberapa orang yang tidak membawa kamera tampak di sorot dengan kamera.
Aku menggeleng kecil, lalu lanjut makan saat melihat rombongan itu menuju arah museum yang lain dan sudah tak terlihat lagi.
.
.
.
"Ihhh beneran kebelet! bentar doang Kir!" Ucapku panik, yang mendapat anggukan.
"Yaudah buruan, gue masuk bis dulu yaaa, jadi ngantuk tadi habis makan!"
"Oke! Titip tas ku nih! Eh bentar ambil dompet dulu, nanti kalo toiletnya suruh bayar!" Aku pun menyerahkan tas selempang ku pada Kira lalu melambai kecil pamit sebentar.
"Oke! Gue duluan dulu!"
Aku mengangguk lalu segera berlari kecil mencari toilet umum.
Lama memutari area museum dan tak kunjung menemukan tanda atau bahkan plang bertuliskan toilet.
Entah, tapi aku yakin aku melihat 'rombongan' yang disoroti kamera tadi, tapi bedanya tidak ada kamera lagi, mereka sedang duduk-duduk dikursi, beberapa ada yang yang tengah dikipasi, diberi minum dan diberikan tisu. Siapa ya mereka?
Terlena dengan rombongan itu sampai lupa tujuan awalku! Toilet!! Mana toilet?!?!
Aku kembali celingukan, bingung sekarang, mau kembali ke area parkir tapi aku sudah sejauh ini masuk ke area museum.
"Sorry?"
Aku menoleh dan mendapati—Astaga! Si rambut pink!!!
Biar kutebak! Ternyata dia orang asing, maksudku bukan warga lokal, dia seperti turis. Seorang pemuda, berkulit putih, memakai kaos tanpa lengan yang longgar, menampakkan lengannya yang berotot, walau begitu wajahnya tidak sinkron dengan tubuhnya. Wajahnya memang tampan sih, tapi tampak manisssss, alisnya tebal, terlebih rambut bercat pinknya menambah kesan lucu.
"Yes?" Aku menjawab kikuk dan cengo, oke terlihat seperti orang bodoh.
"What are you looking for?" Sepertinya dia sadar aku tengah kebingungan mencari sesuatu, waaah beruntung sekali, tapi kenapa dia tidak bersama rombongannya? Aku yakin tadi melihat dia bersama rombongan yang barusan kulihat.
"Pardon?"
"Ah! I'm looking for—" Aku menggigit bibir lalu menunduk, lalu melihat taman museum, lalu kembali menatapnya.
"Toilet?"
Entahlah aku tidak bisa menjelaskan ekspresi nya, tapi aku yakin sempat melihat dia tersenyum dan ber'oh' kecil, aku kembali melihatnya dan kini dia terang-terangan tersenyum.
ASTAGA TAMPAN!!
MANISSSS BANGETTT!!!
"Come on, I'll show you where the toilet is,"
WOW! Baik yaa! Aku segera mengangguk dan mengikutinya. Keburu gak tahan lagi!
"Oke, here you are," ucapnya menunjukkan sebuah pintu berplang toilet dan tanda laki-laki dan perempuan.
Cukup jauh juga tadi.
"Ooh thank you!!!" Aku berbinar, tanpa sadar memamerkan senyum lebar. Dia mengangguk ikut tersenyum juga, aku pun pamit masuk.
Setelah beberapa menit selesai dengan urusan ku, aku terkejut karena mendapati dia masih berdiri didepan pintu toilet, lebih tepatnya beberapa langkah didepanku, dia tampak sedang menelfon orang tapi aku tidak tau, karena dia memakai bahasa asing bukan bahasa Inggris.
"Sorry?" Aku berucap dan dia berbalik. Aku sempat menangkap apa yang dia katakan sebelum menutup telfonnya.
"Nee, annyeong!"
"Are you waiting me?" Aku bertanya sembari mengerjap kecil, jika dia menjawab 'iya' maka, ASTAGA aku tersentuh loh! Maksudku, dia orang asing tapi seperhatian ini, dia bisa saja meninggalkan aku alih-alih memilih menungguku.
Dia mengangguk dan lagi-lagi tersenyum. UGH! Aku rasa aku diabetes melihat senyumnya, dia cowok tapi penampilannya sangat bersih dan wangi, beda denganku intinya.
"Thank you again? You don't have to wait for me, I think..."
"It's okay..."
Dia kembali berjalan dan aku ikut berjalan, kini aku berani berjalan bersisian dengannya walau aku agak dibelakang sedikit.
"So, what is your name?" Aku bertanya basa-basi selama kami kembali di area utama museum.
Dia menoleh sekilas, lalu menatap kedepan lagi. Dia hanya tersenyum kecil, apa dia tidak faham?
Tetap tidak ada jawaban, sampai aku berpamitan dengannya untuk kembali ke area parkir, dan dia langsung bergabung dengan rombongannya.
Aku kembali ke area parkir, dan kakiku langsung lemas kala melihat bis pariwisata sekolahku tidak ada...
.
.
.
Aku tidak membawa ponsel, ponselku di tas selempang, aku hanya membawa dompet. Dan disinilah aku sekarang, kantor museum.
Aku disuruh duduk menunggu, pihak museum berbaik hati membantuku untuk menghubungi pihak sekolah.
Aku ingin menangis
Aku sudah cemas
Aku-aku...
"Tunggu dulu ya dek, kami sudah menghubungi pihak sekolah, adek tenang saja."
Aku mengangguk, walau begitu aku tetap cemas.
Dan akhirnya aku menangis setelah petugas museum pergi.
Aku duduk disebuah sofa ukir, didepanku banyak patung-patung yang mengenakan baju batik. Aku tiba-tiba takut...
Cekrek!
Seseorang datang dari balik tembok samping.
Pemuda itu!
Kini mereka bersama para rombongan dan sepertinya sedang tour kecil-kecilan dibagian seni batik, lagi-lagi ada kamera yang menyorot, aku menoleh kearah lain agar tak ada yang melihat, kini aku tengah mengusap air mataku dengan lengan sweter yang aku kenakan.
Rombongan tadi sudah pergi dan masuk ke ruang melukis batik, aku kembali sendiri.
Grep!
Aku menoleh dan mendapati pemuda tadi duduk disampingku sembari membawa kamera.
Dia mengarahkan kamera dan menunjuk aku dan dirinya.
Apa deh???
"Let's get a picture," ucapnya dengan logat sedikit aneh?
"With me? Uh! No," Aku menolak dan tersenyum kecil masih dengan sekilas mengusap pipiku yang terasa basah karena tadi sempat menangis. Aku malu.
Dia agak menunduk dan menunjukkan raut sedih. Aku ikut menunduk kembali meremas jari-jari ku, karena biar bagaimanapun aku masih panik karena aku ditinggal bus, sedangkan daerah rumahku sudah berbeda dengan tempat study tour, aku study tour diluar kota heiii! perjalanan delapan jam! Disini sendiri tidak membawa ponsel, hanya membawa dompet. Tidak bisa menghubungi siapapun karena mau menghubungi siapa juga aku bahkan tidak hafal nomorku sendiri, maka dari itu aku langsung meminta bantuan pihak museum.
Dia kembali membujukku, dia menunjukkan kameranya sekali lagi. Sampai akhirnya dia mengeluarkan ponselnya.
Dia menunjuk ponselnya, aku melihatnya.
Google Translate!!! Aku tidak tau bahasa apa yang dia translate kan karena huruf itu tidak memakai alfabet.
'Nama kamu siapa? Dan kenapa kamu menangis?'
Aku menatapnya sejenak, masih dengan wajah tampan bagai malaikat itu, dia tersenyum kecil.
"In english?" Tanyaku untuk menjawab, dia mengangguk.
"First, what's your name?" Aku balik bertanya, dia agak menegakkan punggung.
"My name is—Jaemin Na,"
Aku mengerutkan alis, belum pernah mendengar nama yang seperti itu. Tapi aku mengangguk.
"So, what's your name?" Tanya nya dengan suara berat, lagi-lagi tidak sinkron dengan wajahnya yang manis.
"Putri Puspa Alin"
Giliran dia yang mengerutkan alis tebalnya, lucu!
Aku menunjuk ponselnya.
"Let me write my name,"
Dia sedikit berbinar, dan segera menyerahkan ponselnya.
Aku pun mengetik namaku dia laman google translate tadi, lalu menyerahkan ponselnya setelah sudah. Dia, maksudku Jaemin Na membacanya.
"Puteuri Puseupha Alineu—?"
Dia menatapku, aku juga menatapnya, aneh banget lafalnya? Kok jadi gitu?
"Alin!" Ucapku kemudian, lalu dia mengangguk.
Aku kembali meminta ponselnya, lalu mengetik di google translate tadi. Aku tidak tau ini huruf apa, setelah bahasaku di translate kan. Tapi setelahnya aku menyerahkan pada Jaemin Na lagi.
"Waaaww!"
Aku sedikit terkejut.
"Jinjja?"
Dia lalu menatapku, lalu tersenyum lagi.
"Keep smiling! It's gonna be alright, may I help you?" Ucap Jaemin Na, dan aku mengangguk. Aku menjelaskan alasanku masih disini, aku tertinggal oleh bus tadi. Dia pun menepuk kepalaku.
"No thanks, um—i'm—"
Dia tiba-tiba menegakkan tubuh setelah sesaat melihat ponselnya.
"I have to go!"
Aku mengangguk mempersilahkan. Lagi-lagi dia menunjuk kameranya.
Aku tertawa kecil lalu mengangguk, dan kami pun berfoto bersama. Aku tidak melihat hasilnya, tapi Jaemin Na kembali menunjukkan ponselnya.
'Perempuan Indonesia sangat cantik, mereka punya senyum yang manis dan mata yang indah, aku suka rambut yang hitam dan natural'
Kurang lebih itu translate yang aku baca.
"Where do you come from?" Tanyaku kemudian. Dia kembali tersenyum manis.
"Korea"
Aku mengangguk-angguk lalu tersenyum canggung, baru pertama kali ini bertemu turis asal Korea.
"Nice to meet you Alineu" ucapnya lalu melambai padaku, bertepatan itu pihak museum datang menghampiriku dan mengatakan akan mengantarku ke tempat dimana bus ku berhenti sekarang.
" I have to go Jaemin Na!" Ucapku, dia mengangguk lalu melambai aku ikut melambai dan memberikan senyum juga.
Aku pun berbalik segera, karena terlampau senang akhirnya aku bisa pulang, melupakan eksistensi seorang Jaemin, walau begitu, terimakasih pada Jaemin Na yang sudah menemaniku, mengalihkan kesedihanku sejenak karena ditinggal bus.
.
.
.
Aku masih mengingat Jaemin Na sampai akhirnya aku tau bahwa dia artis dari sebuah grub band asal Korea, dia saat itu datang ke Indonesia karena menghadiri show di Asia Tenggara.
Entah tapi aku menangis kala mengingat moment itu, andai saja andai aku bisa bertemu dengannya lagi aku ingin mengucapkan terimakasih banyak.
Aku hanya mengingat Jaemin, atau yang di sapa Nana oleh para penggemar sebatas memori di kepala, Jaemin tidak meninggalkan apapun selain memori singkat di museum kala itu.
Lagi pula akan meninggalkan apalagi?
Tanda tangan? Aku tidak membawa buku
Hadiah kecil? Aku hanya membawa dompet
Foto? Bahkan ponsel pun aku tidak bawa saat itu!
Menyedihkan, tapi bagaimanapun itu kenangan yang berarti untukku walau pertemuan itu hanya sebatas itu saja, Jaemin baik hati sekali mau mengantar ku ke toilet, bahkan menunggu, jika aku bercerita pun tak akan ada yang percaya karena aku tidak punya bukti apa-apa. Tapi ya sudahlah... semua sudah berlalu, kini aku hanya seorang perempuan yang mengaguminya dari kejauhan sini, dan hany bisa berharap bertemu lagi.
Pertemuan itu tidak terasa maknanya kala saat itu aku dilanda panik luar biasa karena ditinggal bus, tapi setelahnya, aku menyadari bahwa pertemuan itu benar-benar keajaiban setelah mengatahui siapa sosok yang telah aku temui dan membantuku.
Semua baru terasa sekarang...
Saat aku mengetahui—
Bahwa bertemu sosoknya sampai sedekat itu—
Adalah 0,01% kemungkinan yang bisa terjadi
Bahkan hampir mustahil terjadi...
Tapi aku?
Aku adalah 0,01%, salah satu dari kemungkinan itu...
Jaemin Na,
Khamsahabnida... 💚
from me Alineu NCTZEN
푸투리 푸스파 아리느
💃💃💃
cerita ini ditujukan untuk penulis yang sedang rindu oleh si tuan Na Jaemin :)))