Aku sudah bersahabat dengan seorang pria yang saat ini kami sama-sama berusia 24 tahun. Namun sepertinya dibilang sahabat kurang tepat ya, kami selalu tidak tenang jika dalam sehari kami tidak saling mencela dan membuka aib masing-masing untuk di jadikan bahan ejekan satu sama lain.
Namanya Syarifudin, sahabat laki-laki ku satu-satunya dan juga tetanggaku. Sejak SMP kami sudah seperti kucing dan tikus. Aku akan senang jika melihatnya di ejek dan di tertawa kan oleh orang lain, tapi masih dalam batas yang wajar ya. Begitu pula dengan dirinya, dia akan tertawa terbahak-bahak Saat melihatku cemberut atau mengerucutkan bibir karena tidak senang akan suatu hal.
Cerita kami bahkan berlanjut sampai saat ini, saat kami masing-masing sudah memiliki pasangan hidup. Suami ku bahkan bisa sangat akrab dengannya. Hanya saja aku tidak mengerti kenapa istrinya selalu menjaga jarak jika kami sedang mengobrol berempat.
Suatu hari aku dan suamiku mendapatkan hadiah liburan dari kantor suamiku. Dan kami boleh mengajak keluarga kami bersama dengan kami. Ya, 1 karyawan dapat kuota 5 orang. Aku sudah mengajak beberapa anggota keluargaku namun mereka sepertinya pada tanggal itu punya acara masing-masing.
Begitu pun dengan suamiku, kakak dan adiknya lebih memilih untuk menghadiri undangan di luar kota.
"Sayang sekali jika kita hanya datang berdua, semua fasilitas di sediakan oleh pihak kantor, dan makanan pun untuk lima orang!" kata suami ku yang masih sibuk memainkan rambut ku seperti kebiasaan nya.
"Bagaimana kalo kita ajak Udin, dan istrinya?" tanya ku pada Mas Oki, suami ku.
Suami ku terlihat diam dan berfikir sejenak.
"Apa istrinya akan setuju, seperti nya dia selalu menjaga jarak dengan kita, apalagi jika Udin dekat dengan bintang, dia malah masuk ke dalam rumah dan entah apa yang dia kerjakan. Dia seperti menghindari kita.
Ternyata apa yang aku pikirkan selama ini dipikirkan juga oleh mas Oki. Dia juga merasa jika istrinya si Syarifudin yaitu Ema memang tidak suka pada kami.
"Aku tanya dulu saja ya, lagian mungkin dengan liburan bersama. Ema bisa lebih membuka diri pada kita!" ucap ku antusias yang langsung mendapat hadiah anggukan kepala dari Mas Oki.
Keesokan harinya, aku pergi ke rumah Udin dan menemui Ema. Aku mengajaknya untuk ikut liburan bersama.
Di luar dugaan ku Ema setuju, lalu aku pulang dan mempersiapkan apa yang harus aku bawa. Liburan ke pantai tentu saja tak lengkap tanpa baju renang, tiba-tiba saja saat aku membereskan baju renang dan memasukkannya ke dalam tas, Bintang putri kecil ku memasukkan pistol air mainan miliknya ke dalam tas.
"Untuk apa sayang?" tanya ku padanya.
"Buat main tembak-tembakan sama Om Udin!" jawabnya polos.
Aku tertawa mendengar jawaban dari putri kecilku. Sepertinya sifat usil ku yang suka mengerjai Udin juga menurun kepada putri kecilku. Dia bahkan sudah menyiapkan pistol air mainan untuk mengerjai Udin.
***
Sekian..