Sebuah desa yang berada dipinggiran kota, hiduplah dua saudara yang sangat berbeda. Sang kakak merupakan seorang perempuan yang nemiliki wajah tidak terlalu cantik, berbeda dengan sang adik yang memiliki wajah sangat cantik. Bahkan karena kecantikannya itu, sang adik menjadi primadona di desa ini. Menjadi kembang desa dan selalu dipuji oleh warga.
Awalnya sang kakak yang bernama Xhi Lor cuek saja dengan perlakuan para warga yang membeda-bedakan bahkan sering membandingkannya dengan sang adik yang bernama Xhi Mol. Namun, lama kelamaan Xhi Lor merasa gerah dengan perlakuan para warga.
"Kakak jangan merasa iri padaku. Kakak juga sangat cantik bagiku," ucap Xhi Mol berusaha menghibur sang kakak.
Memang selain memiliki paras yang cantik, hati Xhi Mol juga baik. Dia dapat bergaul dengan baik, para warga juga menerimanya dengan senang hati.
Mendengar sang adik yang berusaha menghiburnya, Xhi Lor hanya diam. Mengabaikan ucapan Xhi Mol. Sementara itu, Xhi Mol merasa sedih dengan perlakuan dingin sang kakak. Namun, dia tetap bersabar.
Suatu hari, Xhi Lor bertemu dengan seorang nenek tua di pasar saat berbelanja. Nenek itu berkata bahwa Xhi Lor gadis yang cantik. Namun, Xhi Lor menganggap bahwa perkataan nenek itu menghinanya bukan memuji.
"Kau menganggap pujianku ini sebagai hinaan?" tanya nenek itu pada Xhi Lor. "Baiklah, kau ingin cantik seperti adikmu, kan? Datanglah ke pondokku di pinggiran desa ini nanti malam, aku bisa membantumu," lanjut nenek itu dan pergi dari sana, tertelan oleh banyaknya manusia yang berlalu-lalang.
Walau awalnya sempat merasa ragu, akhirnya Xhi Lor mendatangi pondok tempat tinggal nenek yang baru ditemuinya tadi. Malam yang gelap serta sunyi tidak membuat Xhi Lor takut. Tekadnya untuk bisa memiliki wajah cantik sangat besar, sehingga melenyapkan semua perasaan takut itu.
"Kau datang?" tanya sebuah suara mengagetkan Xhi Lor.
"Nenek? Ya, aku datang, Nek," jawab Xhi Lor. "Tapi, apa benar kau bisa membantuku terlihat cantik?"
"Tentu bisa, silahkan masuk. Aku akan memberikan teh hangat untukmu."
Xhi Lor berjalan mengikuti nenek tua itu masuk ke dalam pondok. Pondok yang lembab serta pengap, pencahayaan di dalam remang-remang.
"Duduklah dulu."
Xhi Lor menurut dan duduk di kursi rotan yang sudah dimakan usia itu. Sembari menunggu, mata Xhi Lor berkelana menjelajah seluruh isi pondok ini.
"Ini, tapi sebelum diminum kau harus berjanji padaku."
"Apa itu?"
"Kau tidak bisa membatalkan kontrak ini. Kau bisa cantik selama sisa umurmu, tapi ingat ini 'Akan Ada Satu yang Layu'."
Xhi Lor mengernyitkan dahi setelah mendengar ucapan nenek tua itu. Namun, dia hanya mengangguk dan segera meraih cangkir itu. Sementara nenek tua itu tersenyum.
"Semoga kau tidak menyesali keputusanmu ini."
Xhi Lor meminum habis air teh itu. Namun, ternyata tidak ada yang terjadi padanya. Xhi Lor murka, dia merasa telah dibohongi oleh nenek tua itu. Xhi Lor pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Hari sudah hampir pagi setibanya dia di rumah. Namun yang membuatnya heran, rumahnya sangat ramai oleh orang-orang yang berkerumun.
"Ada apa?" tanya Xhi Lor pada salah satu di antara mereka.
"Pemilik rumah ini meninggal," jawabnya.
Xhi Lor mengernyitkan dahi, pemilik rumah ini adalah dirinya. Tidak, tapi ada juga Xhi Mol. Xhi Lor segera tersadar dan segera merangsek maju untuk melihat apa yang terjadi.
Xhi Lor terdiam melihat jasad sang adik yang berada didepannya. Paras cantik sang adik hilang, digantikan dengan wajah yang terlihat sangat mengerikan. Hitam legam dan mengeluarkan bau busuk.
"Xhi Lor, dari mana saja..., apa yang terjadi dengan wajahmu?" tanya seseorang terlihat sangat terkejut.
Xhi Lor melihat ke arah pantulan cermin dan terkejut melihat wajahnya. Wajahnya terlihat sangat cantik, bahkan lebih cantik dari Xhi Mol. Namun, walau begitu Xhi Lor tidak mau memiliki wajah cantik jika harus mengorbankan sang adik.
"Jadi ini maksud nenek itu?" gumam Xhi Lor.
Gadis itu segera kembali lagi ke pondok. Meminta nenek tua itu mengembalikannya seperti semula. Xhi Lor bahkan memohon pada nenek itu.
"Aku sudah pernah bilang jika kau tidak bisa membatalkan kontraknya," ucap nenek itu.
"Tidak, aku ingin adikku tetap hidup. Aku mohon, atau tukar saja dengan wajahku ini!"
Nenek itu terdiam mendengar ucapan Xhi Lor. Sementara itu, Xhi Lor masih menunggu jawaban sang nenek yang tiba-tiba terdiam.
"Baiklah, benar kau tidak akan menyesal lagi?"
Xhi Lor mengangguk semangat, semua akan dia berikan yang terpenting saat ini adalah sang adik kembali lagi.
Memang benar Xhi Mol hidup kembali, tapi tentu ada yang harus dipertaruhkan. Hidup Xhi Lor yang harus dipertaruhkan.
🧙♀️🧙♀️🧙♀️