Jalan tergontai menyusuri tiap lorong rumah. Tujuannya menuju kamar mandi. Hari ini pun aku gagal melamar kerja. Sudah kesekian kalinya tak ada yang menerimaku sebagai pekerja mereka.
Kalau jadi pembantu pun tak apa, kan? Tanyaku putus asa.
Esok hari. Matahari yang menyengat mataku yang kini berjalan menyusuri perkotaan. Lelah rasanya mencari tempat yang membutuhkan orang sepertiku.
"Hei." Aku mencari darimana asal suara itu.
Dilihatnya ada wanita paruh baya menatap ku dan sesekali menggerakkan bibirnya. Aku menunjuk diriku sendiri.
"Ya, kau. Kemarilah." Katanya. Aku menurutinya.
Wanita tua itu menatap lekat padaku.
"Apa kau punya pekerjaan?" Tanya wanita tua itu, nenek.
"Tidak, nek. Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanyaku sopan.
Secarik kertas yang dipegangnya diserahkan padaku. Aku menerimanya dengan cukup ragu. Tulisan disini cantik. Isinya juga mengejutkan ku. Pasalnya, ini adalah pernyataan bahwa aku diterima di sebuah toko sebagai pekerja.
"Ini..." tanganku bergetar tak percaya.
"Iya, nak. Selamat, ya. Kau bisa ke toko benang dan kain milik ku disini." Ujar nenek itu sembari tersenyum.
Akhirnya, selama 6 bulan aku menganggur, aku mendapatkan pekerjaan. Tapi...
"Nek, apa tak apa kalau aku menerimanya begitu saja?" Tanyaku ragu.
Walau aku tahu pilihan para orang tua seperti nenek, sifat mereka dan perlakuan mereka terhadap hal kecil atau hal besar. Pasti ada sesuatu yang menjadi kepasrahanya.
"Nenek memilih orang yang bisa mengerti dan melihat hati nenek yang sudah menua ini." Jelasnya. "Nenek tidak menyesal memilihmu." Katanya sambil menatap penuh harap padaku.
Aku terheran-heran, kebingungan dan penuh tanda tanya. Tapi, aku menepis pikiran tersebut.
Dia memberiku buku-buku tentang kain dan semacamnya padaku. Dengan membaca ini, aku bisa tahu mana saja yang harus aku perhatikan.
"Kau bisa bekerja sekarang, nak." Katanya.
"Tapi... apa aku bisa?" Gumamku.
"Kau pasti bisa." Katanya.
Kesan pertama saat aku masuk ke dalam toko adalah aroma yang nyaman saat kuhirup. Kain-kain berjejer rapih dan bermacam-macam. Aku langsung membuka buku dan mempelajari beberapa hal tentang kain.
Berjam-jam telah berlalu. Aku tahu bahwa toko ini pasti sepi. Tapi, itu tak masalah jika aku harus melakukan pekerjaan yang seperti ini. Lebih baik memanfaatkan waktu luang ini.
Sore hari, saat matahari benar-benar akan tenggelam, aku melihat sang nenek masuk dan terbatuk-batuk. Aku langsung memberikan kain hangat padanya.
"Tutuplah toko ini pada jam 23.17 dari jam itu. Kalau tidak, kau tak akan sanggup menghadapi mereka." Peringatnya sembari menunjuk pada jam antik.
Aku mengangguk dan dia pergi menggunakan taksi.
Sekarang aku benar-benar sendirian. Namun, tak kusangka kalau jam itu rusak. Hanya beda beberapa menit saja.
Kulihat jam itu dengan seksama. Lalu semua menjadi membosankan. Aku tertidur di atas meja kasir.
Tanpa terasa waktu berjalan cepat.
"Aku... ketiduran." Kataku saat aku melirik jam yang nenek tunjukkan. "Aku terlambat." Lanjut ku.
Jam 23.17 tepat kini berganti menjadi 23.18 di jam dinding itu. Aku bertanya-tanya apa yang akan terjadi. Yang kulihat hanya tempat kosong dengan ruangan penuh kain dan benang. Seperti biasa.
Lalu gertakan tulang terdengar oleh telingaku. Mataku fokus pada salah satu pintu depan. Aku terus menyipitkan mataku sampai--
"Aaahhk...!" Aku berteriak ketakutan.
Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat tadi. Tulang belulang yang sedang melihat-lihat apa yang ada di dalam toko ini. Kurasa nenek itu mengatakan 'mereka' adalah hantu.
Aku bersembunyi di balik meja kasir ini. Mencoba memberanikan diri, aku mengintip keluar dan yang kulihat adalah manusia biasa. Seorang wanita.
Dengan baju yang tercompang-camping.
Apa aku salah lihat?
Dia masuk dengan keraguan dan aku menyambutnya.
"Selamat datang!" Kataku dengan lembut.
Wanita itu terkejut mendengar ku. Tangan yang penuh luka dan beberapa noda merah. Bergetar menghampiriku dengan bibir yang terkatup-katup.
"Bi-bisakah kau membuatkan ku... baju?" Tanyanya.
"Aku tidak yakin apakah kemampuanku bisa memuaskanmu, tapi toko baju ada di seberang blok F dekat sebuah cafe jika anda menginginkannya. Disini kami hanya menjual kain saja." Ucapku ramah.
"Kumohon, buatkan aku setelan biasa saja. Apapun itu. Aku hanya punya waktu sampai matahari terbit." Katanya memohon.
Aku mengiyakan karena rasa iba. Memang pernah aku membuat sebuah baju. Kadang ada yang menolak dan kadang ada yang menghargainya. Tapi, aku tidak yakin dengan yang kali ini. Itu sudah bertahun-tahun lamanya.
Mengukur-ukuran nya, mengambil benang, memotong kain dan melakukan hal-hal yang aku bisa. Wanita itu melihatku. Dia menunggu. Semoga tidak lama.
Aku melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 03.16 pagi. Aku tak menyangka akan selama ini untuk membuat baju. Padahal sudah lama aku tidak mengotak-atik peralatan jahit menjahit.
Ketika bajunya telah selesai aku buat, wanita itu berdiri dengan terkesima. Dia langsung memakainya di ruangan lain.
"Ini... luar biasa!" Pujinya setelah keluar memakai hasil karyaku.
Yah, aku juga cukup puas.
Lagi-lagi aku melirik jam. Sudah 04.39 rupanya.
"Hoaam..." aku mengantuk.
"Terimakasih banyak! Dengan ini aku bisa pergi dengan tenang dan dijemput oleh malaikat maut. Terimakasih!" Katanya.
"Sa-sama-sama." Ucapku yang mulai menundukkan kepala karena tidak tahan akan rasa kantuk.
Tunggu, apa aku salah dengar? Malaikat maut? Kurasa aku membutuhkan tidur.
"Berapa harga yang harus aku bayar?" Tanyanya.
"Tidak... perlu. Aku akan membayarnya untukmu dengan gaji awal ku." Kataku berusaha untuk menahannya.
"Oh... terimakasih! Ah, iya. Namaku adalah Hitlery. Panggil saja Hitler." Katanya.
"Ah... namaku Doris." Kami pun bersalaman.
Karena sudah tidak tahan lagi, aku mulai kehilangan kesadaran dan tidur begitu saja.
"Nak..."
Ada sebuah suara yang tertangkap oleh telinga ku.
"Hey, nak. Bangunlah." Katanya.
"Aku akan membayarnya nanti dengan gaji awalku... jadi kau tidak perlu membayar pakaian buatanku." Kataku sembari sedikit mengigau.
"Astaga..." lalu hembusan nafas dengan sedikit bau kamper tercium oleh hidungku.
Aku bangkit dari posisiku tadi. Kekhawatiran menyelimutiku. Bukankah itu adalah aroma dari sang nenek?
"Akhirnya kau bangun." Katanya. "Kau disini sepanjang malam berarti... kau sudah melihat 'mereka' untuk pertama kali?" Tanya nenek.
Aku menceritakan kejadian sewaktu tadi malam. Aku tidak begitu yakin aku ingat semuanya, tapi aku cukup mengatakan intinya. Nenek tersenyum padaku.
"Akhirnya. Itu berarti kau sudah siap." Dia menatap bangga padaku.
"Siap untuk apa?" Tanyaku.
"Siap untuk memulai bisnis dengan dimensi lain. Dimensi yang berbeda. Kau adalah penerusku." Jelasnya.
Aku hanya diam mengangguk kan kepala dan bertanya-tanya. Hari ini adalah hari paling berkesan dalam hidupku.
Setelah beberapa bulan,
aku bekerja di toko ini. Aku hanya melihat beberapa dari mereka. Memang sangat jarang. Tapi, itulah mengapa toko ini masih berdiri.
Aku menetap disini dan melayani mereka sebaik mungkin yang aku bisa. Agar menerima yang tak lazim diterima. Agar memberi sesuatu sebagai hadiah. Agar bisa memberi kebahagiaan meski itu kecil.
End...
Pen ke tokonya agar bisa dapat gratisan! Eh, tapi kan harus siap dijemput malaikat maut nanti. Terlebih lagi, emang ada toko yang melayani orang-orang mati?
Aku terlalu ngehalu...
Thanks sudah membaca cerita absurd ini!