"Kau tahu Will, semalam aku memimpikan sesuatu yang sangat aneh"
Salah seorang pria tengah duduk berdua disebuah kereta, mereka terlihat sangat dekat dan sepertinya mereka bersahabat.
"Aku bermimpi menemukan mayat di rumahku" lanjut nya.
Pria yang diajak bicara tampak tidak begitu memperhatikan, dia malah sibuk bermain ponsel dihadapannya dengan muka datar dan dinginnya.
Jika dilihat pria yang memakai hoodie hitam, topi dan masker itu terlihat cukup tampan dan sangat dewasa, padahal umurnya masih terbilang muda dari penampilannya.
"Kau yakin itu hanya mimpi alex?"
Pria bernama alex itu hanya mengenyitkan dahinya menampakkan wajah bingung pada pria bernama William yang merupakan sahabat, melihat wajah bingung sahabat nya William tampak tersenyum kecil pada sahabatnya itu.
"Hmm...kau sepertinya terlalu nyenyak sampai tidak ingat kejadiannya"
Semakin dibuat bingung, pria itu semakin menunjukkan wajah bingung dan terus menampakkan wajah yang begitu banyak pertanyaan pada William.
"Hehe...canda-canda, bagaimana mimpi mu? Wah...bukan kah itu menyeramkan? Aku pernah dengar jika mimpi sesuatu seperti itu akan membuat kesialan pada yang dimimpikan" ucap pria Will.
"Benar! Aku rasa juga begitu, bahkan sejak pagi aku sudah sial karena terlambat bangun" Alex merasa kali dia melakukan aktivitas seperti biasa nya.
Pria itu kembali menatap kosong pada kursi kereta dihadapannya, dia seperti sedang mengingat kembali yang dia yakini merupakan mimpinya tadi malam.
"Sungguh menyeramkan Will, kau tahu? Mayatnya itu seorang pria, tangan dan kakinya terpotong menyisakan tubuhnya saja"
"Aku tidak begitu jelas melihat wajahnya karena sangat mengerikan, tapi kenapa saat itu aku tidak takut yah"
Pria bernama alex itu menatap bingung pada sahabatnya, dia merasa saat bermimpi dia tidak berteriak histeris seperti seharusnya.
Suasana kereta tampak sepi hanya ada beberapa penumpang didalam nya, tidak ada yang berbicara sedikit pun hanya ada suara gerbong kereta yang bergesekan dengan rel nya.
"Ditemukan mayat seorang lelaki disebuah gudang terbengkalai, di duga pria itu adalah korban dari seorang psikopati gila yang baru baru ini menyerang sebuah keluarga. Diduga pria yang ditemukan dengan tangan dan kaki terpisah itu merupakan salah satu sahabat dari korban yang keluarganya dibantai"
Bersamaan dengan pengumuman itu, William kembali menatap kosong pada Alex.
"Huft....harusnya kau tidak ikut campur terlalu jauh alex! Hah....kau memang sahabat ku, maaf membuat mu harus bersama ku" ucap pria Will.
"Maksud? Kau bicara apa? Aku tidak mengerti" ucap Alex.
"Kau bahkan sampai tidak mengenali wajah mu sendiri, kau sudah mati Alex!"
Tubuh Alex menegang seketika, dia benar benar terkejut atas perkataan sahabat jadi yang dilihatnya dalam mimpi itu sebenarnya bukan mimpi? Dia melihat dirinya sendiri yang tewas?
"Lalu? Kau...
"Seharusnya kau tidak mati agar bisa membalas dendam ku pada pembunuh keluarga ku, tapi sangat disayang kan ternyata pembunuh itu juga mengincar mu"
"Tidak mungkin! Tidak mungkin aku sudah mati!"
Alex seperti masih belum terima pada apa yang dikatakan William, memang saat Alex dibunuh Alex dalam keadaan pingsan itu kah mengapa dia tidak tahu kalau dia sudah mati.
Pengumuman itu kembali berlanjut.
"Pria itu berumur 23 tahun dari kartu identitas yang ada disaku pakaian nya, pria itu bernama Alexander Rudiart"
William hanya menatap sebentar pada wajah sahabat nya yang begitu panik, dia juga tahu bagaimana rasanya saat baru mati beberapa hari.
"Sudahlah! Jangan difikirkan nanti kau malah jadi arwah pendendam seperti ku dulu" ucap pria Will.
"Kenapa aku tidak ingat apapun? Kapan kau mati?"
William tampak kasihan juga pada sang sahabat, dia pun langsung menepuk pundak sahabat seraya membuka maskernya.
"Kau akan ingat nanti, lihat! Apa kau tidak heran kenapa aku menggunakan masker?" Tanya pria Will.
Betapa terkejutnya Alex ketika melihat wajah William yang tampak mengerikan dengan luka sobek di bagian mulut nya hampir menganga dan copot.
"Kau?...
"Aku mati sebelum dirimu, setelah aku tewas aku menjadi arwah pendendam yang selalu ingin membalas kan dendam ku tapi seorang malaikat malah menghukum ku dia juga memperlihatkan dirimu yang sedang berjuang mengungkapkan siapa pembunuh ku"
Alex masih saja syok, tapi seketika secercah cahaya ingatan mulai terlihat dia kembaki mengingat dimana detik detik Kematian nya.
"Aku pun akhirnya sadar dan kembali menjadi diriku sendiri, aku belum bisa kembali ke akhirat karena masih ada dendam dihatiku tapi saat itu aku melihat kau datang padaku, aku jadi sadar kalau kau juga sudah mati. Aku hampir kembali menjadi arwah pendendam karena mengetahui kau mati ditangan pembunuhan yang membunuh ku juga tapi tiba tiba dewa datang dan bilang padaku untuk menyerahkan semuanya pada sang kuasa, dengan ditemani seorang malaikat aku melihat bagaimana teragis pesikopat itu mati mengenaskan dan arwahnya langsung dikirim ke neraka"
"Dia sudah tewas, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi oleh kita. Kita akan sama sama ke akhirat sekarang, terimakasih sudah menjadi sahabat ku dan maaf membuat mu harus mati mengenaskan seperti ku"
Alex pun mulai sadar dan mengerti segala ucapan William, dia pun akhirnya tersenyum dan merangkul sahabatnya tersebut.
"Terimakasih juga sudah menarik ku agar tidak menjadi arwah pendendam bersama mu, mari kembali bersahabat jika dilahirkan kembali"