"Aku tawarkan sebuah perjanjian. Imbalannya bisa kau lihat sendiri nanti. Bagaimana?" Katanya sambil menyipitkan matanya.
"Kau berbohong lagi. Aku tidak akan menerimanya." Kataku.
"Ah... apa aku ketahuan berbohong lagi?" Tanyanya menurunkan topinya.
"Ya. Selalu saja ketika kau berbohong, kau akan menyipitkan matamu. Itu sebuah kebiasaan." Jelasku.
"Kalau begitu tolong jaga topi ini untuk ku." Dia melepas topi panjangnya itu.
"Berjanjilah untuk kembali dan ambil topi panjang itu dariku." Kataku menyilangkan tangan di dada.
"Baiklah." Katanya. Lalu dia mendaratkan topinya di atas kepala ku.
Beberapa hari kemudian,
Aku mulai membuat catatan tentang diriku sendiri. Entah itu usia atau kebiasaanku.
Aku adalah orang yang satu-satunya tinggal atau lebih tepatnya terkurung disini. Ini lebih baik. Mengurung diri sendiri dan meninggalkan dunia yang sibuk dengan tiap-tiap opini yang mengubah sejarah.
Mengasingkan diri tidak pernah semembosankan ini. Kupikir akan lebih menyenangkan saat aku sendirian dalam ruanganku tanpa adanya bisikan penuh ejekan atau apapun itu.
Tapi, ini lebih baik daripada tidak sama sekali.
Lalu dia datang keruanganku tanpa adanya tanda-tanda kehidupan yang sesungguhnya. Aku hampir mengira bahwa dia siluman, iblis, arwah atau bahkan hantu.
"Aku sudah bilang padamu bahwa aku pesulap!" Katanya meyakinkan ku.
Tapi, aku masih tidak percaya.
"Baiklah..." katanya sambil mendengus kesal. "Ilusi optik. Aku memainkan ilusi optik." Lanjutnya.
"Lalu... bagaimana kau bisa menemukan tempat ini?" Tanyaku.
Tanpa sihir sama sekali?
"Kau juga memakai ilusi optik. Tak ada satu pun orang akan menyadari bahwa ada satu ruangan disini yang di tinggali," dia memandangku. "Peri kecil yang cantik disini." Lanjutnya.
"Sayangnya... aku tidak terkesima." Kataku sambil mengibaskan tangan padanya.
Setiap hari, dia datang padaku. Itu membuatku jengkel pada awalnya. Tapi kurasa ini tidak buruk juga. Meski awalnya takut-takut dia akan membunuhku atau semacamnya.
Suatu hari, dia menatapku sangat lama. Membiarkanya adalah awal dari sikap ku. Tapi, setelah berlama-lama dan lama. Dia tak pernah berhenti memandangku.
Apa yang pria ini inginkan?
"Oke! Ada apa sebenarnya sampai kau terus menatapku?" Tanya ku kesal.
"Tidak. Aku hanya ingin memandang mu." Jawabnya.
"Ap... tapi, itu sungguh mengganggu!" Tegasku.
"Kalau begitu, aku akan bertanya."
Aku meliriknya sebentar dan menatap tajam padanya. Itu sebuah peringatan untuk tidak bertanya. Namun, dia tidak mengerti.
"Begini, bagaimana caramu hidup di atas menara ini? Maksudku, ini adalah menara jam. Lalu apa yang kau lakukan setiap hari dan yang lainnya." Katanya.
Aku berhenti dari aktivitasku.
"Aku. Jadi semua ini tentang aku?" Aku mengangkat sebelah alis. "Jika kau ingin tahu, aku ini di kutuk menjadi abadi." Jelasku.
"Apa!?" Pria itu tidak percaya.
"Ya. Lagipula usia ku kini sudah... berapa ya...? Sudah... ah!" Aku menatapnya kali ini. "127 tahun. Jadi jangan menganggap bahwa aku anak kecil. Itu memuakkan." Tegasku.
Begitulah kira-kira aku memberitahunya. Tubuh ku memang kecil dan awet muda. Tapi, bukan berarti aku tidak berumur. Aku disini untuk menghindari tatapan-tatapan yang penasaran. Menghindari dunia ini dan tinggal disini.
Tidak makan atau minum, tapi masih bisa berlari sejauh mungkin. Itulah diriku. Hidupku.
Hari terakhir aku mengingatnya. Topi panjang itu masih disini. Aku menerimanya sebagai perjanjian bahwa dia akan kembali setelah perang saudara berakhir.
Aku tak yakin dia akan kembali.
Tapi janji tetaplah janji.
"Cobalah untuk keluar menikmati semilir angin saja," katanya. "Bersamaku." Lalu dia mengeluarkan sebuah kotak hadiah.
Lucu rasanya mengingat kejadian itu. Sebenarnya, seberapa menariknya aku sampai-sampai dia memberiku hadiah?
Satu bulan saja. Ya, satu bulan saja dia menetap dan melihat tiap-tiap gerak-gerik ku. Aku tak percaya aku merindukan tatapan itu. Ini belum memasuki tahun baru tapi, aku sudah merindukannya. Selama sembilan bulan kepergiannya, aku merindu.
Setiap matahari datang di sudut sana, aku menunggu.
Setiap angin datang entah darimana, aku menunggu.
Setiap hujan datang, aku menunggu.
Hah... sialan. Umpatku.
"Apa aku buat kontrak saja, ya?" Kataku entah pada siapa.
"Pada... uhuk. Siapa kau bertanya...?" Aku menelusuri sumber suara itu datang darimana.
Pria itu datang dengan penuh luka. Dia menyeret kakinya yang hampir putus dan meninggalkan jejak darah pada ruangan ini.
"Aku datang... sesuai janjiku..." katanya. Dengan susah payah dia bersuara dan menghampiriku.
Aku berlari padanya dan ia terjatuh. Betapa menyedihkannya dia sekarang. Aku beranggapan bahwa dia datang jauh-jauh dengan tubuh penuh luka ini. Aku terlambat menangkapnya.
"Hei, buatlah kontrak denganku." Kataku.
"Apa...?" Dia menatapku dan tersenyum setelah mengatakan hal itu.
"Yah, aku tidak percaya setelah sekian lama aku mengungkapkan hal ini. Mungkin tujuan utamamu adalah memiliki usia panjang dariku." Kataku.
Dia membuka mulutnya sementara aku menutup balik bibir itu.
Aku meletakkan tanganku di dadanya. Aku masih bisa merasakan luka parah pada tubuhnya ini. Lalu aku merapalkan sesuatu yang mungkin bisa membantunya hidup abadi.
Setelahnya, ragaku sedikit demi sedikit menghilang. Lukanya memang tidak bisa kusembuhkan namun, dia pasti tahu caranya mengobati dirinya sendiri.
Jika saja aku tinggal lebih lama, aku pasti bisa mengobatinya. Dia tidak akan mati begitu saja. Dia akan mati jika kontrak tersebut dipindahkan pada manusia lainnya.
"Tahukah kau, bahwa aku adalah dewi dari dongeng yang jarang disebutkan?" Tanyaku. "Aku adalah penghuni asli alam sana. Hukuman ini diberikan padaku karena melanggar hak dewa lainnya." Sambungku.
Dia tentu tidak menjawab. Hanya bisa mengusap wajahnya yang tidak bisa aku rasakan lagi.
"Dan, ya. Inilah kutukan." Kataku. "Kutukan hidup abadi di dunia manusia." Suaraku hampir menghilang.
Dia menangkap tanganku yang memudar. Tapi, usahanya sia-sia.
"Siapa bilang hidup abadi itu tidak enak? Nyatanya aku bertemu denganmu sudah membuatku senang. Ingatlah ini." Dia menatapku dengan tatapan kesedihan.
Jangan tatap aku seperti itu!
"Ingatlah bahwa ini bukan salahmu. Bukan salah siapapun juga jika aku menghilang. Aku cuma mengingkannya." Kataku.
Aku jadi teringat diriku yang dulu saat sebelum kekacauan di alam sana terjadi.
Aku menerima ini dari sosoknya yang hampir mirip dengan pria ini. Aku masih belum tahu namanya. Bahkan dewa yang telah memberiku kehidupan abadi ini.
Kini semua tinggal kenangan.
Aku tidak akan pernah kembali.
Jangan salahkan dirimu.
End...
Eh... ya... hmm... hidup tanpa makna tidak begitu menyenangkan. Tidak bisa lari dengan kematian dan hanya bisa bersembunyi. Tidak ada alasan dia hidup. Dan tidak ada alasan dia mati.
Itulah sosok makhluk abadi itu.
Lah, terus siapa namanya?!
Maaf, aku lebih suka kalau kalian memberikan nama untuknya.
Terimakasih sudah membaca!~