"Ayo kita ke pantai, Yah," pinta seorang bocah berumur kurang lebih lima tahun.
Bocah perempuan dengan rambut sepunggung yang selalu dikucir kuda itu sangat energik. Namanya Aya. Sementara itu sang Ayah yang berada dibalik meja kerjanya tidak menggubris ucapan putrinya.
"Ayo, Yah. Ini, kan, hari libur. Ayah janji mau ajak Aya jalan-jalan." Aya mulai mengerucutkan bibirnya dengan mata berkaca-kaca. Taktik andalannya agar sang Ayah mau menuruti permintaannya.
"Kenapa harus ke pantai? Tidak ada tenpat lain yang mau kamu kunjungi selain pantai?" tanya Ayah melepas kacamatanya.
"Aya mau ke pantai! Aya mau pakai baju renang yang Ayah belikan waktu itu."
Ayah tersenyum geli melihat ekspresi Aya yang terlihat sangat menggebu. Beliau heran pada putri semata wayangnya itu. Sepertinya Aya tidak akan kehabisan energi, dia selalu bersemangat dengan geraknya yang lincah.
"Bagaimana kalau pantainya Ayah bawa ke rumah?" tawar Ayah.
Aya terdiam dan menatap Ayahnya. Kepalanya dia telengkan ke kanan dengan kernyitan di dahi.
"Ayah bisa?"
Aya bersorak gembira saat melihat halaman belakang rumahnya disulap menjadi pantai. Kebetulan Aya memiliki bak pasir yang sering dia gunakan bermain, lalu Ayah mengisi bak berbahan plastik itu dengan air.
"Aya mau ajak Bagas!"
Bocah itu berlari keluar dari halaman belakang, menuju rumah sebelah. Suaranya yang melengking cempreng membuat sang Ayah menggelengkan kepala.
"Bagas! Ayo kita ke pantai! Cepat bawa perlengkapanmu!"
Beberapa saat kemudian, Aya kembali bersama dengan Bagas. Aya bergegas berganti dengan baju renang barunya.
Keduanya asyik bermain, sementara Ayah memantau mereka dari teras halaman belakang. Akhirnya beliau membawa pekerjaannya ke teras. Sesekali pandangannya mengarah pada dua bocah yang asyik bermain itu. Ada rasa bahagia melihat putrinya tumbuh dengan baik, walau tanpa sosok seorang ibu.
"Ayah! Ayo ikut bermain!" ajak Aya melambaikan tangannya.
Ayah mengangguk dan dia meletakkan laptopnya, berjalan menghampiri kedua bocah itu. Diam-diam tadi mengambil pistol air yang tergeletak di atas meja, memompanya, lalu menembakkan pada Aya dan Bagas.
"Waaa! Kita diserang! Bagas cepat balas Ayah!" teriak Aya.
Bagas menuruti permintaan Aya, dia pun membalas serangan Ayah. Sementara Aya berlindung dibalik tubuh Bagas. Pakaian ketiganya sudah basah kuyup karena bermain air.
Setelah lelah bermain, mereka menikmati es krim sembari duduk di kursi malas. Hati Ayah menghangat melihat wajah Aya sangat bahagia. Ada rasa bersalah karena tidak bisa mengajak putri kecilnya itu liburan ke pantai sungguhan karena pekerjaannya.
"Ayah, terima kasih. Nanti kita buat pantai lagi di rumah, ya?"
Ayah tersenyum dan mengangguk. Sementara Aya bersorak bahagia, dia menari karena bahagia. Bahkan mengajak Bagas ikut serta, bocah itu hanya menurut apa saja permintaan Aya.
Kenangan itu tidak akan pernah Aya lupakan hingga dia dewasa. Tahun demi tahun dia lewati tanpa sosok Ayahnya. Tatapan Aya beralih pada baju renang mungilnya yang tersimpan rapi di dalam lemari pakaiannya. Senyum itu terbit dengan mata yang berkaca-kaca. Dia rindu dengan orang tuanya. Kini untuk melepas kerinduannya, Aya hanya bisa memandangi benda-benda peninggalan orang tuanya.
"Aya! Hari ini sarapan di rumah Bagas, ya?" teriak seseorang membuyarkan lamunan Aya yang tengah mengenang masa lalu.
"Iya! Aya nanti ke rumah Bagas!" balas Aya yang juga ikut berteriak.
Aya menutup kembali lemari pakaiannya dan bergegas keluar dari rumahnya. Menuju rumah Bagas yang berada di sebelah.
🩱🩱🩱