Malam yang indah. Kuharap ini bukan mimpi. Jika ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku.
Trotoar yang dingin. Tidak memakai alas kaki apapun. Bahkan kaus kaki yang selalu aku pakai pun tidak ada. Hanya ada tanah gersang sejauh mata memandang.
Apakah ini jalan terakhirku?
Ditambah, siapa diriku yang sebenarnya?
Telinga ku mendadak berdenging. Agak sakit sebenarnya. Refleks aku menutup telingaku meski aku beranggapan hal ini akan hilang secepatnya.
Tanpa alasan, aku berbalik dan melihat seseorang berdiri ditengah trotoar. Ada mobil yang melaju dengan cepat ke arah kami. Dia malah memejamkan matanya. Lantas aku berlari untuk menyelamatkannya, tapi--
Bruk!
Aku ikut menjadi korban.
"Hah!" Aku terbangun diatas ubin dingin yang mewah.
Kapan aku sampai disini? Tanyaku.
Ruangan itu cukup megah nan mewah. Ini bukan sekedar ruangan biasa menurutku. Mungkin saja tempat ini milik bangsawan. Aku tak percaya memasuki ruangan nya tanpa sengaja.
Tapi, mungkinkah?
Aku mendengar cello dimainkan disana. Lalu seorang wanita dengan gaun hitam datang dari atas menuruni tangga. Dia tersenyum. Entah mengapa, senyuman nya mengingatkan ku pada sesuatu.
Itu... aku? Pikirku.
Wanita itu berjalan menuju piano dan disampingnya terdapat cello disampingnya. Dan disana dia, orang yang tersenyum padaku sebelum tertabrak, memainkan cello dengan baik.
Mereka menukar posisi mereka dan memainkan sebuah lagu.
Lagu yang indah. Mereka memainkan lagu yang sama dan cukup singkat. Tapi, terdengar seperti menyayat hati. Aku ikut bersedih mendengar tiap-tiap nada yang dialunkan.
Permainan musik itu berhenti.
Wanita itu perlahan menghilang. Aku terkejut. Dan pria yang tadi pura-pura tidak melihatku menatapku dengan seksama.
Dia berdiri dan pergi menuju ke atas. Aku mengikutinya dan kulihat ada satu buah pintu megah terbuka sedikit. Aku membuka pintu tersebut.
Saat kulihat, tidak ada siapapun didalam ruangan tersebut. Saat aku perhatikan sekeliling, mataku berhenti pada kasur yang di diami oleh pria tua. Seorang kakek.
Tak ada apapun lagi disini. Hanya ada barang-barang mengkilat meski gelap menyelimuti. Ada pun buku-buku yang berjajar rapih. Dan... sebuah surat yang terbuka dan dibiarkan begitu saja tergeletak di atas meja.
Aku ingin tahu apa isinya. Toh, tidak ada siapapun yang melarangku untuk membacanya.
~
Untuk Countess Lady Rose,
Walau aku masih belum tahu siapa namamu yang sebenarnya, ingin sekali aku memanggilmu dengan julukan ini. Tapi, seperti yang kau tahu, kau berpulang cukup cepat dari dugaan ku.
Ingat saat kau memainkan sebuah cello di pinggir taman? Di halaman belakang itu, aku melihatmu. Melihatmu menangis sambil memainkan musik dengan pelan dan tenang.
Aku menghampirimu dan kau menumpahkan segalanya di taman itu, waktu itu, tahun itu.
Sampai akhir pun kita tidak tahu siapa nama kita sendiri. Siapa kita dan mengapa kita saling bertemu.
Awalnya aku takut kalau-kalau dirimu adalah keluarga terhormat mengingat bahwa kau memperlakukan ku seperti orang terhormat. Dan bagaimana caramu berbicara juga bersikap formal.
Jujur, aku hanya bisa menahan tawa. Aku hanyalah orang biasa. Seorang Duchess biasa yang gemar melarikan diri dari kewajiban sementara.
Kita, di taman itu, selalu mengalunkan melodi-melodi sedih tentang kehidupan. Baik individu atau tidak.
Tapi, apa kau tahu? Aku jatuh cinta pada musik mu, bagaimana caramu memainkan cello dan piano. Atau mungkin bahkan... dirimu?
Aku takut bahwa aku tidak pantas untuk mu. Aku memilih mundur dan terus menemanimu kapan saja di taman ini.
Aku terus menunggumu. Namun, kau tidak pernah kembali. Katanya, seorang Countess telah meninggal. Waktu itu bersamaan dengan hari dimana kau tidak lagi datang.
Meski tahu bahwa mungkin saja itu adalah dirimu yang berpulang terlebih dahulu sebelum diriku, aku masih tetap menunggu. Berharap bahwa sosok Countess itu bukan dirimu yang malang.
Menghabiskan sepanjang tahun sambil mengharap bahwa kau akan datang.
Terimakasih untuk waktu yang telah kau berikan padaku. Aku menghabiskan waktu ku dengan bahagia bersamamu.
Aku mencintaimu.
Dari Duchess Shadow, atau kau bisa memanggilku Duchess Sterloin merios.
~
Aku tahu. Aku tahu bahwa pasti ada yang menunggu ku di saat aku telah tiada. Tapi, siapa aku sebenarnya? Apa yang aku ingat? Apa yang aku rindukan? Ada apa sebenarnya? Tak ada satu pun yang pasti.
Menutup mulut dan melirik pada wajah yang kini makin menua. Aku tidak bisa bernafas dengan baik. Dadaku sakit. Aku mempererat gengamanku di surat dan dadaku.
Aku hanya bisa duduk di atas karpet merah dan menangis sesengggukan.
Entah kenapa, surat itu seperti untuk ku. Ditujukan untuk ku.
Dan hanya untuk ku.
End...
Ciee... yang mikir latar belakang waktu cerpen ini~
Yang pasti, para bangsawan ini di bawah kekuasaan kerajaan. Nah, ini semua juga cerita dari latar belakang waktu modern.
Gabungin aja kerajaan di masa modern, oke?
Terimakasih sudah membaca!