Bunga yang mekar semerbak harum wanginya melebar, begitulah siswi cantik nan pintar yang menjadi idaman seluruh siswa berselimutkan buaya. Salah satunya Zulfan ketua OSIS yang begitu dingin sifatnya namun, ketika Adina datang menemuinya sifat Zulfan berubah deratis 180° derajat. Diam-diam ternyata sang ketua OSIS menyimpan sebuah rasa yang disitu dia menutupi rapat-rapat supaya kewibawaannya tetap terjaga. Pagi itu sekitar pukul 09:00 WIB semua siswa istirahat menenangkan pikiran karena hampir dua jam mata pelajaran hanya matematika. "kantin yok!." Ajakku dengan menahan segala kesuntukan. Zulfan dan Tresno menuju ke kantin yang berada tepat di samping gerbang masuk sekolah, Tresno yang dari tadi sudah menahan genjotan perutnya segera memesan nasi goreng sambal Pete. "Aku susu putih hangat saja Tres!." Zulfan mengangkat tangan layaknya bos besar. "Ashiap bosku" jawabnya dengan tegas bak TNI. Zulfan mulai menyeruput dengan segala kenikmatan, serasa masalah hilang meskipun hanya sementara. Sambil ditemani tempe goreng mulut Zulfan bergoyang-goyang bak penyanyi dangdut. "hhztt" Zulfan tersedak tempe goreng. Kelihatanya Zulfan sedang melihat suatu peristiwa yang begitu mengagetkan sehingga dia pun tersedak. ternyata yang dilihatnya adalah Adina, wanita perfec bertubuh mungil, berwajah anggun dan lesung pipinya yang menjadikan aroma manis gula kalah bersaing. Namun kali ini apa yang di lihat Zulfan sangatlah berbeda, wajahnya pucat dan tubuhnya layu. "Mungkin dia kecapekan habis olahraga toh hari ini juga kan jadwal olahraga kelasnya." ujarnya dalam hati berusaha positif thinking. Mata Zulfan tak berkedip sedikitpun memandangi Adina. Semakin tajam matanya menatap, tiba-tiba tubuh Adina jatuh dan tersungkur di depan gerbang pas di hadapan Zulfan. Zulfan bingung mau berbuat apa, antara cinta dan wibawa, tanpa pikir panjang Zulfan lari dari tempat duduknya dan segera membopong Adina ke UKS. Seluruh siswa melotot melong-long melihat Zulfan yang membopong Adina bahkan siswa yang menyukainya tidak terima atas kejadian itu, namun Zulfan mengabaikannya. Setelah sampai UKS dokter langsung memberi pertolongan pertama. Air mata Zulfan hampir menetes melihat tubuh Adina yang terbaring lemah. Ternyata Zulfan telah memendam lama rasa kepada Adina. Zulfan pun beranjak keluar UKS, seluruh siswa meneriakinya "huuuu ketua OSIS tak bermoral." entah apa yang ada dalam benaknya sehingga menyimpulkan bahwa saya telah melanggar norma agama toh padahal tujuannya baik menolong sesama. "ting tong jam pelajaran akan segera di mulai" semua siswa menuju ke kelas masing-masing. Setelah masuk Tresno kebingungan kok Zulfan tidak ada dibangkunya. Namun Tresno hanya menanggapi dengan bodo amat. Zulfan dengan diam-diam memasuki ruang UKS, dia duduk di bangku samping ranjang Adina. "Kamu sudah baikan?" tanya Zulfan agak gemetaran " jangan gemetaran santai aja Zulfan!" Adina sambil menatap bibir Zulfan yang bergetar. Adina bangun dari tidurnya dan duduk di samping Zulfan. Hati Zulfan berdetak kencang power energi yang dibawa Adina sangat besar, apakah dia suka sama aku ya? haluan Zulfan menjadi-jadi. "iya aku sudah baik an kok" jawabnya dengan suara lembut khas bibir merah ronanya. Zulfan memegang tangan Adina dengan lembut. "Aku mau bila...." suara Zulfan dengan latah . "iya mau bilang apa" Adina menyaut dengan senyuman manisnya. kini matanya saling menatap aura romans hadir dengan kasih sayang. "Sebentar!" Zulfan menutup pintu UKS dan memastikan tidak ada seseorang selain dia berdua. Zulfan kembali duduk dan memegang tangan halusnya Adina, dengan begitu nyaman Adina menyandarkan kepala ke dada Zulfan. Hati Zulfan menggebu-gebu suasana ruangan itu begitu indah bak surga Adn. "Aku sayang dia tolong jagalah dia dari buaya yang mencintai karena nafsu pribadi" katanya dalam hati. " Tadi mau bilang apa?" Zulfan terkejut dan keluar dari haluanya. " hmmm insun sak meniko sampun dangu nyimpen roso dumateng sampean tuan putri"(sebenarnya saya sudah lama memendam rasa kepadamu) ujar Zulfan dari dalam sanubari dengan memegang erat kedua tangan Adina. Adina meneteskan air mata setelah mendengar ucapan Zulfan. Adina meluk Zulfan dengan erat. "sreet" pintu UKS terbuka, Pak kepala sekolah kaget melihat nya. Belum sempat Adina jawab, Zulfan disuruh keluar ke lapangan. "Berdiri hormat ke bendera sampai jam pulang!" tegur kepala sekolah.
" Pak jangan hukum zulfan, dia telah menolongku tadi dan aku juga mencintainya".