Sepasang kekasih yang terpisahkan dan berharap terlahir kembali bersama di kehidupan yang lain, tapi takdir berkata lain karena sang gadis lebih dulu terlahir kembali sedangkan sang pria harus bersabar menunggu waktunya untuk bereinkarnasi tapi takdir mempermainkannya.
Dalam tidurku aku melihat seorang pria yang sangat tampan berlari tepatnya melayang di udara, dia menghampiriku tepatnya tubuhku yang sedang tertidur, aku melihat semuanya seperti mimpi.
"Selamat malam sayang, aku datang aku sangat merindukanmu"
"Tak lama lagi kita akan kembali bersama, tidurlah sayangku, cup" sebelum pergi bayangan pria tampan berbaju serba putih itu mengecup kening ku.
Aku heran siapa sebenarnya pria itu, kenapa aku bisa melihat semuanya dari atas,
"kenapa aku melihat semuanya seperti melihat televisi?, itu tubuhku tapi aku disini" aku merasa semua tidak nyata.
Setelah semua itu, aku tiba-tiba kehilangan kesadaran seolah aku kembali ke tidurku lagi, kejadian tadi hilang berlalu begitu saja.
Menjelang subuh tiba-tiba aku merasakan seseorang membangunkanku berulang kali memanggilku,
"Sayang bangunlah ini sudah masuk waktu subuh, sudah waktunya untukmu bangun untuk sholat subuh sayang"
Tapi aku seakan tak ingin bangun, entahlah rasanya aku sangat lelah, sampai akhirnya aku merasakan sesuatu yang lembab menyentuh bibirku tapi aku masih tak ingin bangun hingga aku merasa sesuatu yang lembab itu semakin menuntut dan tiba tiba kesadaranku langsung muncul, aku segera membuka mataku.
"Oh God" teriakku tertahan yang kulihat saat membuka mataku adalah wajah tampan pria yang hadir ditidurku semalam.
Dia tersenyum dan tertawa kecil
"Pagi sayang sudah saatnya sholat subuh, kita akan bertemu lagi nanti"
belum sempat aku menanyakan semuanya tiba-tiba bayangan pria itu memudar lalu menghilang.
"Oh Tuhan siapa sebenarnya pria itu, dia bahkan mencuri ciuman pertama-ku"
Setelah itu pria itu selalu muncul tiba-tiba dan pergi juga tiba-tiba kalo kita bilang seperti jailangkung datang tak diundang pergi tak diantar.
Hingga suatu malam dia datang saat aku sedang demam, dia memeriksa tubuhku dengan menyentuh keningku.
"Sayang kau sedang sakit, bagaimana ini aku tidak bisa meninggalkanmu" dia mengucapkannya dengan penuh kesedihan dan air mata.
Aku yang tidak mengerti arah dari kata-katanya yang tak bisa meninggalkanku dalam artian lain tanda kutip untukku.
"Aku hanya demam aku tidak apa-apa pergilah kalau kau ingin pergi" kata-ku padanya.
"Maafkan aku sayang karena tak bisa lagi bersamamu, maafkan aku yang tak bisa lagi menjagamu dikehidupan ini, karena aku tak bisa menentang kehendak Tuhan, takdir menghendaki aku dikehidupan yang berbeda dengan mu"
"Maafkan aku sayang, semoga dikehidupan berikutnya kita bisa bersama"
kata terakhirnya lalu mengecup keningku dengan air matanya yang mengalir seiring bayangannya yang perlahan menghilang.
Entah kenapa tiba-tiba aku merasakan kehilangan, aku merasa sesuatu yang sangat berharga milikku telah pergi meninggalkanku selamanya untuk menjalani takdirnya.
"Maafkan aku, maafkan aku, hik...hik...hik... kenapa setelah kamu pergi aku baru menyadarinya, maafkan aku karena kita harus hidup di era dan dunia yang berbeda"