" Mas, Mas bisa anterin aku ke pasar nggak? hari ini kan Mas libur kerja kan? " tanyaku pada suamiku yang kini tengah duduk di kursi tengah sembari terus memainkan ponselnya.
Meskipun aku sudah memanggilnya namun suamiku tetap diam dan terus asyik dengan ponselnya, entah apa yang membuat dia begitu asyik dengan ponselnya dan tak menghiraukan semua kata-kata dan panggilan ku.
" Mas Firman!! " panggil ku dengan nada yang lebih tinggi.
Aku berjalan mendekati suamiku dengan membawa tas belanja yang sudah ada di tanganku karena aku hanya tinggal berangkat saja.
Aku lirik ponsel suamiku, sekilas aku bisa membaca chat nya, dan tertera nama Vania di sana. Aku mengernyit bingung, Vania itu siapa? kenapa suamiku menambahkan kata 'Beb' di awal nama Vania.
Mas Firman yang menyadari keberadaan ku langsung menjauhkan ponselnya dariku, menutupi dengan tangannya namun matanya menatap padaku.
" ada apa? apa kau mengatakan sesuatu padaku, Mila?" tanyanya dengan tampang polosnya.
Astaga... aku tak habis pikir pada suamiku, ternyata sedari tadi kata-kata dan panggilan ku sama sekali tidak dia dengar.
" Vania itu siapa Mas? " tanyaku penasaran.
" Bukan siapa-siapa " jawab suamiku dengan angkuh.
Aku percaya begitu saja, mungkin benar bukan siapa-siapa. Aku tak ingin menaruh prasangka buruk pada suamiku, aku ingin rumah tangga ku bisa damai dan bahagia dengan adanya sebuah kepercayaan yang aku tanamkan pada suamiku.
" mau ke pasar? " tanya Mas Firman padaku, aku pun mengangguk, dan berharap dia akan menawarkan untuk mengantarkan ku. " ya sudah sana berangkat, nanti keburu siang. Kalau kepanasan ngeluh nantinya. Aku capek, aku mau istirahat "
Mas Firman beranjak dari duduknya dan tentunya tak ketinggalan ponselnya.
Aku menatap dengan kecewa suamiku yang sudah pergi, aku kira dia akan mengantarkan ku ke pasar tapi ternyata aku salah.
Akhirnya aku pergi sendiri ke pasar, untuk membeli semua keperluan untuk kami berdua yang sudah habis.
_________
Aku begitu terkejut saat mataku melihat sosok laki-laki yang sangat aku kenal, Laki-laki itu tengah berjalan dengan tangan merangkul seorang wanita dan wanita itupun melakukan hal yang sama pada laki-laki itu.
Aku ternganga tak percaya, laki-laki itu adalah Mas Firman yang tadi menolak mengantarkan ku ke pasar dengan alasan capek, dan lihatlah sekarang, bahkan dia berjalan dengan mesra kepada wanita lain di belakang ku.
Hatiku sungguh sakit namun aku masih berfikir positif kepada suamiku, mungkin mereka hanya sebatas teman saja, pikirku yang begitu naif.
Aku mengikuti Mas Firman dengan diam. Dan aku berhenti karena Mas Firman dan juga wanita itu masuk ke dalam hotel.
" kenapa harus ke hotel.? " tanyaku pada diriku sendiri.
Aku ikut masuk ke sana, aku tanya kepada salah satu resepsionis di sana. Dan betapa hancur nya hatiku saat resepsionis itu mengatakan suamiku sering datang ke sana dan dia juga mengatakan kalau suamiku mengaku datang dengan istrinya.
" Istri? " pekik ku tak percaya. Aku istrinya bagaimana mungkin dia datang dengan istrinya.
Aku menunggu di depan hotel hingga berjam-jam karena pihak hotel tak mengizinkan ku untuk masuk menemui suamiku. Aku masih berharap bahwa ini tidak benar, aku masih berharap bahwa rumah tangga yang ku bangun satu tahun yang lalu tidak akan di goyah kan oleh wanita ketiga di antara kami.
Aku cepat-cepat berdiri saat aku melihat suamiku keluar dengan wanita itu, sontak aku menghadangnya dan meminta penjelasan akan semua ini.
" apa yang Mas lakukan dengan wanita ini, dan siapa dia? " tanyaku yang sudah tak sabar.
Suamiku hanya menyunggingkan bibir nya acuh, dia tetap memasang wajah datarnya seperti biasa seakan-akan semua dalam keadaan baik-baik saja.
" bukan urusan mu" jawabnya.
Rasa sakit semakin mendesak memenuhi hatiku saat aku melihat begitu banyak tanda merah di leher wanita itu yang kini terus tersenyum sinis ke arah ku. Mataku pun mulai berkaca-kaca melihat penghianatan di depan mata ku sendiri.
" Mas! siapa dia?! " tanyaku dengan tinggi dengan emosi yang mulai tak terkendali.
" dia? " dengan percaya diri nya suamiku merangkul wanita itu di hadapan ku. " dia adalah Vania, kekasihku sekaligus istri kedua ku"
Duarrrr....
Hatiku hancur berkeping-keping dengan kata-kata itu. Aku masih tidak percaya namun suamiku terus mengatakan itu padaku, dan tak lagi menutupi sedikitpun dariku.
" tidak mungkin.? " gumam ku tak percaya.
Beberapa hari yang lalu aku merasa sangat bahagia karena memiliki suami yang begitu sayang padaku, dia terus memanjakan ku dengan semua perlakuan manisnya.
Tapi hari ini semua itu salah, kebahagiaan ku itu hanya semu, semua yang dia berikan mungkin hanya untuk menutupi rasa bersalahnya atau mungkin berbuat manis hanya untuk membujuk ku.
Dengan tidak ada rasa bersalah nya suamiku pergi meninggalkan ku dengan wanita yang bernama Vania itu. Meninggalkan ku yang kini tengah menangisi nasibku yang ternyata di madu.
____________
Aku duduk lemas dan terus menangis di ruang tengah. Aku sama sekali tak memasak apapun setelah pulang dari pasar tadi, aku masih menaruh semua belanjaan ku di kursi sebelah ku.
Aku terus berfikir apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku ingin sekali mempertahankan rumah tangga ini, namun aku juga tidak mau jika harus di madu. Meskipun posisiku lebih kuat karena menjadi istri pertama namun kenyataannya cinta dan kasih sayang suamiku lebih besar untuk istri mudanya.
" aku tak bisa seperti ini" gumam ku dengan menggelengkan kepala dan menghapus air mata ku.
Di saat itu suamiku pulang, namun kini dia sudah tidak pulang sendiri dia pulang membawa Vania dan juga semua barang-barang Vania.
" Mulai sekarang, Vania akan tinggal di sini bersama kita. " ucap suamiku mengejutkanku. " Dan Vania tengah mengandung anakku " imbuhnya lagi yang membuat hatiku semakin sesak.
Mungkin itu alasannya suamiku mencari wanita lain dan menjadikannya istri keduanya, Karena aku tak kunjung bisa memberikan keturunan padanya.
" Mas... Aku minta kita pisah " ucapku dengan lirih dan terus menunduk karena tak mampu menatap mata suamiku.
Mungkin ini memang jalan yang terbaik untuk ku, aku tak sanggup di madu meskipun aku sadar belum bisa memberi apa yang di inginkan suamiku.
Tapi ini bukan tentang kekurangan ku saja dan juga rasa bersalahku, melainkan penghianatan yang tak bisa aku terima begitu saja. Umur pernikahan ku juga baru satu tahun seharusnya suamiku bisa bersabar dan semua bisa di bicarakan dengan baik-baik akan keinginan nya.
" Oke. Aku akan segera menceraikan mu " ucap suamiku dengan lantang.
____________
______________
Terima kasih atas dukungannya..
🙏🙏🙏🙏🌹🌹🌹🌹🙏🙏🙏🙏