“Ngghhh! Pelan-pelan! Ya! Di situ! Iya! Ohh!” Ia melenguh penuh kepuasan.
Sedangkan aku beringsut pergi membersihkan kedua tanganku.
*****
“Woah! Ini sangat luar biasa!” Ia menyesap kuah kaldu yang masih mengepulkan asap.
“Nona, maaf apa nona tidak merasa kenyang?” pemilik restoran mendatangiku.
“Kenapa? Ada apa?” wanita itu menatapnya bingung.
“Nona sudah menghabiskan 3 porsi besar, maaf bukannya saya tidak suka, tapi saya takut terjadi sesuatu pada nona.” Bibi pemilik restoran melihatnya khawatir.
“Bibi, tidak apa dia itu Mukbanger jadi dia biasa makan dalam porsi besar,” jelasku sembari tersenyum.
“Oh begitu rupanya,” sang bibi mengangguk ,”kalau begitu silahkan dinikmati, kami akan berikan potongan kepada kalian.”
“Terima kasih banyak bibi!” sahutnya dengan wajah bahagia.
“Borami! Apa kau tak malu makan sebanyak ini?” aku menatapnya heran.
“Tidak, aku tidak peduli!” Ia mengikat kembali rambut cokelatnya yang terlepas, kemudian mulai memegang mangkuk lagi.
Kami berdua pecinta hot pot dan kebetulan kami dalam fakultas yang sama.
Setiap hari kami makan hot pot bersama sepulang jam kampus.
Dan aku tahu kenapa ia sangat menyukai hot pot.
“Daniel? Kenapa kau tidak makan?” Ia menatapku dengan wajah polos.
“Tentu saja, tapi aku harus menyelesaikan light novelku dahulu.”
“Ini tempat untuk makan, bukan untuk mengerjakan pekerjaan!” Ia menarik notebook milikku dan menyimpannya, “makan sebelum habis!”
“Iya! Iya! Akan aku makan!” aku beringsut mendekati meja.
*****
Saat aku berjalan di suatu senja, aku menemukannya tengah tertidur di bangku taman. Seorang wanita dengan rambut cokelat kehitaman, tubuh yang mungil dan bibir yang tipis.
“Hei! Kau tidak apa-apa?” ucapku sembari menempuk pipinya lembut.
“Lapar ... Aku... Lapar...” suaranya yang hampir tak terdengar menjawab.
“Kau lapar? Mau ikut makan denganku?” ajakku tanpa pikir panjang.
Kebetulan aku memiliki voucher di salah satu restoran yang menghidangkan hot pot sebagai salah satu menunya.
“Benarkah?” Ia menatapku dengan mata berbinar.
“Kebetulan aku memiliki voucher makanan cukup banyak, kau bisa menggunakannya beberapa kalau kau mau!” aku tersenyum ke arahnya.
“Kau sama seperti dulu Dan!” Ia menatapku dengan mata yang tampak seperti anak anjing.
“Ba-bagaimana kau tahu namaku?” ucapku kaget.
“Apa kau lupa? Aku temanmu! Kita dulu satu taman kanak-kanak!”
“Benarkah aku tidak ingat memiliki teman dari luar negeri.” aku mengerutkan dahi berusaha mengingat.
“Kau lupa? Dulu kau pernah terpeleset dan masuk ke dalam sungai di depan sekolah dan hanyut terbawa arus air! Hihi!” tawanya.
Benar! Dan hanya orang-orang terdekatku yang tahu!
“Hei! Aku hampir mati kau tahu! Siapa namamu? Aku benar-benar tidak mengingat namamu.”
“Borami!” Ia tersenyum ke arahku.
Dan saat itu, aku merasakan jantungku berdegup sangat kencang hingga aku sadar aku telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Tak hanya itu, aku juga kehabisan simpanan voucherku dalam waktu bersamaan.
*****
Awalnya Borami tidak berkuliah di sini, tapi suatu ketika ia membuat gaduh seisi kampus tempatku berkuliah.
“Kenalkan Saya Borami, saya akan bergabung dengan fakultas ilmu komputer di kampus ini, mulai hari ini.”
Semua mata tertuju padanya, mahasiswi pindahan yang tampak cantik, anggun serta menawan.
“Hai cantik! Boleh berkenalan?” ucap Zack Ma, playboy kelas kakap yang tampan dan banyak digilai wanita.
“Maaf aku tidak tertarik padamu, aku lebih memilih Danielku!” Ia tersenyum ke arahku dan melambaikan tangannya.
“Hei! Daniel kenal dari mana kau?”
“Daniel-ku katanya mungkinkah kalian...?”
“Beruntung sekali Daniel!”
Teman-temanku berkomentar tentangnya.
“Kami teman sekolah saat masih kecil hehe,” tawaku canggung.
Gadis cantik itu duduk di sebelahku dan tersenyum pada mereka.
“Daniel! Sepulang sekolah kita makan kan?” Borami bergelayut di lenganku.
“I-iya tapi jangan seperti itu...”
Eh? Apa ini? Aku merasa ada sesuatu yang menonjol di sana...
“Hei! Jangan bermesraan di sini!”
“Benar bikin iri saja!”
“Ini waktu belajar kau tahu!”
Teriakan iri mereka yang tidak memiliki pasangan memenuhi ruangan kelas.
“Sudah! Sudah! Mari kita lanjutkan mata kuliah kita!” dosen yang saat itu mengajar menghentikan keributan.
*****
“Rasa gurih dari santan kelapa yang beraroma khas dan rasa daging ayam yang lembut sangat menyatu dan menciptakan harmoni sempurna antara daging dan buah! Di tambah dengan sari sayuran yang berendam indah di dalamnya membuat hot pot ini makin enak! Buah, Daging dan Sayur dalam satu wadah! Luar biasa!” ucapnya setelah meneguk habis kuah dari mangkuknya.
“Benar rasanya ringan dan lembut!” balasku setelah meneguk kuahnya dari dalam mangkuk kecil yang aku gunakan.
“Daging ayamnya yang meresap dengan kuahnya sangat lembut dan juicy saat tergigit! Coconut Chicken I love you!” Ia meletakkan sumpitnya dan mulai mengunyah perlahan.
“Kecambah ini juga terasa manis! Sangat pas dengan kuah gurih dan hangat serta ringan ini!” Aku memasukkan beberapa ke dalam mulut.
“Makan yang banyak Daniel Tang! Itu bagus untuk menambah ‘kesuburan dan kekentalan’!”
Aku terbatuk dan menatapnya, tapi ia hanya menahan tawanya.
“Kenapa? Kau tersedak?” ia berpura-pura tak mengerti.
“Sudah! Sudah!” aku meliriknya tajam.
“Hahaha!” tawanya tanpa merasa bersalah.
Aku menenggak teh di sebelahku kemudian ikut tertawa dengannya.
“Kampusmu sangat ramai ya!”
“Kampus itu bukan milikku!”
Ia mencibirkan bibirnya sembari menatapku malas.
“Maksudku kampus di mana kau menuntut ilmu!”
“Astaga! Apa salah ilmu hingga aku menuntutnya?”
Mata cokelatnya menatapku tajam, lalu tangannya menutup mulutku.
“Bicara sekali lagi! Mau kuremukkan rahangmu?” Ia melepaskan mulutku.
“Hoo berani kau rupanya melawanku, jangan meminta tolong padaku kalau para penggemar gilamu itu mengejarmu di kampus.” Aku balik menantang.
“Iya! Baik Yang Mulia Daniel Tang! Hamba tidak akan melakukannya lagi!” Borami bergaya layaknya bawahan dari seorang raja.
“Hei Daniel, Aku ingin berbicara sesuatu padamu.”
“Apa? Kau mau seporsi lagi?” terkaku.
Ia menggelengkan kepalanya.
Jangan-jangan! Ia mau mengatakan bahwa ia menyukaiku!
Baiklah tidak akan aku sia-siakan!
*****
“Apa? Bisa kau katakan sekali lagi? Sepertinya aku salah dengar.” Aku menatapnya tak percaya.
“Apa kau perlu bukti?” Ia menatapku dengan serius.
Aku mengambil segelas air lalu menenggaknya, kemudian meletakkannya di sebelahku. Borami yang duduk berhadapan denganku di meja makan, menunjukkan ekspresi serius dan tidak main-main.
“Aku memang suka bercanda tapi sepertinya ini tidak lucu.”
“Sudah kuduga...” Ia menghela napas.
Ia bangun dari duduknya kemudian memegang ujung gaun pendeknya, tanpa ragu ia menariknya ke atas hingga tubuh bagian bawah hingga dadanya terlihat dengan jelas.
Aku segera memalingkan muka, berusaha untuk tidak melihatnya. Tapi sebagai seorang laki-laki , itu adalah hal yang sangat sayang dilewatkan!
“Daniel lihat ke sini!” Ia memanggil namaku.
“Bagaimana mungkin aku menatapmu dengan keadaan seperti itu!” Aku berusaha untuk tidak menuruti instingku.
“Tidak apa, lihatlah dan buktikan dengan matamu sendiri.”
Perlahan aku menolehkan kepala ke arahnya, perlahan kaki jenjang yang tampak seperti boneka manekin terlihat olehku hingga aku melihat sesuatu yang benar-benar membuatku terkejut.
“Ini gila! Benar-benar gila! Aku tidak percaya dengan pengakuanmu!” ucapku kaget setelah melihat bagian tubuh bawahnya.
Puluhan gear beragam ukuran serta rantai yang saling menyambung bergerak tanpa hambatan, tampak seperti sebuah mesin yang tengah beroperasi.
“Sudah aku katakan bahwa aku robot bukan?” Ia tersenyum ke arahku dengan wajah yang tampak bangga.
Kenapa kau tampak begitu bangga?
“Lalu kenapa kau katakan ini kepadaku?” tanyaku tak mengerti.
“Aku perlu bantuanmu, untuk membeli beberapa alat baru.”
“Kau tidak bisa membelinya sendiri?”
“Aku bisa tapi tidak bisa memasangnya seorang diri.”
“Berarti kau membutuhkanku untuk memasang bukan membeli?”
“Ah! Benar! Itu maksudku! Haha!” tawanya dengan canggung.
“Lalu apa yang kau butuhkan?” Aku menatapnya sembari mengambil segelas air lagi.
“Beberapa gear baru dan pelumas!” Ia kembali membenarkan pakaiannya yang tersingkap.
“Tapi sebelum aku membantu, bisa kau jelaskan siapa kau sebenarnya?” Aku menatapnya sembari memperhatikan ekspresi di wajahnya yang tampak cantik itu.
“Baiklah, aku tidak mau kehilangan kepercayaanmu. Aku seorang robot dari masa depan, kenapa aku di sini?” Ia menatap kedua tangannya, “untuk melakukan sebuah misi.”
“Misi? Jangan bilang kau membunuh seseorang! Atau merusak senjata rahasia? Menghancurkan sebuah organisasi?” terkaku tak sabar.
“Hei tidak sejauh itu! Aku hanya menyelamatkan seseorang saja!” ucapnya sembari merengut.
*****
“Ngghhh! Pelan-pelan! Ya! Di situ! Iya! Ohh!” Ia melenguh penuh kepuasan.
Sedangkan aku beringsut pergi membersihkan kedua tanganku.
“Seseorang yang mendengarnya akan berpikir yang tidak-tidak! Aku hanya memberimu pelumas! Tidak lebih!” protesku.
“Habis mau bagaimana lagi? Rasanya tidak nyaman dan mengganggu sekali!”
Aku membuka keran dan membersihkan cairan pekat yang mengotori kulit tanganku.
“Lagi pula bukannya hal tabu untuk pria memberikan pelumas pada wanita?” Ia menahan tawanya.
“Kenapa kau membuat semua mengarah ke hal itu?” dengusku kesal.
“Tidak, perasaanmu saja! Ayo kita makan hot pot! Aku ingin makan hot pot dengan dengan kuah mala!”
“Mala? Kau serius? Apa kau tidak berkarat?” sahutku.
“Makanan serta minuman yang aku makan akan berubah menjadi uap dan akan menjadi sumber tenaga!”
Ah! Jadi itu alasannya dia makan seperti manusia prasejarah yang tidak pernah makan?
“Daniel! Cepat!” Ia berdiri di dekatku menarik lenganku.
“Kau tidak lihat aku sedang apa?”
“Cepat! Kita tidak bisa berlama-lama di sini! Waktu kita menipis!”
“Baiklah! Baiklah!” ucapku dengan malas.
*****
“Hotpot dengan bunga?” Borami menatap panci dan wajahku secara bergantian.
“Benar! Bagaimana?” Aku menaik turunkan alisku secara cepat.
“Padahal aku ingin makan hotpot ikan asam pedas! ” ucapnya kecewa.
“Makan saja dulu!” ucapku sembari memberikan mangkuk ke arahnya.
“Baiklah!” Ia mulai memakannya.
“Bagaimana?”
“Indah! Rasanya Indah...” Ia menatap mangkuk di tangannya.
“Indah?”
“Benar, rasa gurih kaldu ayam beraroma wangi bunga chrysanthemum dengan rasa yang ringan benar-benar indah...”
Aku menatapnya aneh, beberapa bulan setelah kami makan bersama, baru kali ini aku melihatnya tidak bersemangat.
“Kau tidak suka?” terkaku.
“Tidak... Hanya saja aku ingat sesuatu...”
“Jika kau tidak suka katakan saja, aku tidak keberatan.” Aku tersenyum ke arahnya.
Ia menggeleng lalu tersenyum. Jemari lentiknya mengambil bihun dari dalam panci berhiaskan kelopak bunga Chrysant kemudian di letakkannya ke dalam mangkuk kecil.
“Hei Daniel, wanita seperti apa yang menjadi tipemu?” Ia menatapku sembari memasukkan bihun itu ke mulutnya.
“Tidak terlalu banyak, hanya putih, tinggi dan langsing haha!”
“Aku tahu siapa yang cocok untukmu!”
Padahal aku berharap orang itu adalah kau.
“Siapa?”
“Bihun!” Ia mengangkat sumpit yang menjepit mie putih itu, “lihat! Ia putih, langsing dan tinggi!”
Aku spontan terbatuk dan tertawa sekerasnya.
“Hahahahaha! Benar juga! Hahaha!”
Dan malam itu, kami menghabiskan malam dengan tawa bahagia.
*****
“Hei Daniel! Kau pasti akan merasa kesepian sekarang!”
“Ha? Apa maksudmu?” aku menatap teman priaku itu.
“Jangan-jangan kau tidak tahu kalau Borami akan berhenti berkuliah?”
“Tunggu! Bagaimana kau tahu ia akan berhenti kuliah?”
“Saat aku berada di gedung rektor, aku tak sengaja mendengar percakapannya.”
Tanpa pikir panjang aku segera berlari menjadi Borami ke gedung rektor.
Apa yang akan dia lakukan! Berhenti kuliah?
Aku telah mencarinya keliling kampus, dari kantin hingga ke gudang tapi tidak menemukannya sama sekali.
Borami ke mana kau?
*****
Sebulan setelah kepergiannya, aku memutuskan untuk menjalankan rencana berlibur ke Korea Selatan yang telah aku persiapkan dari tahun lalu.
Aku sudah tidak dapat menemukan di mana kiranya keberadaannya, bahkan para pemilik restoran hotpot yang biasa kami kunjungi di dekat kampus tidak memberikan kabar sama sekali. Berat rasanya, tapi aku tidak mau membiarkan rencana yang sudah kususun sejak lama hancur tak berbekas.
“Selamat datang di-“
‘’Jangan bergerak! Pesawat ini saya bajak!”
tiba-tiba seseorang bertopeng menodongkan senjata api ke arah pramugari yang tengah bertugas.
Semua orang mulai panik melihat kejadian itu. Aku yang berada tak jauh dari tempat sang pembajak berdiri berusaha untuk melumpuhkannya.
Tapi seseorang telah terlebih dahulu bergerak dan meringkusnya, tak lama suara tembakan terdengar.
Tiba-tiba semua diam dan berubah menjadi abu-abu seolah warna dalam dunia ini menghilang.
“Daniel...” suara seseorang yang kukenal terdengar.
“Borami!” teriakku saat perlahan sosoknya berjalan mendekatiku.
“Daniel... Hari ini adalah hari terakhirku melihatmu...”
Tanpa pikir panjang aku berlari dan memeluknya.
“Borami kau ke mana saja! Aku sangat merindukanmu! Bagaimana bisa kau keluar di akhir semester!”
“Apa kau lupa aku memiliki misi!” ia mengedipkan sebelah matanya.
“Lalu setelah misi itu selesai apa kau akan kembali kuliah?”
“Setelah misi ini selesai? Hmm... Siapa yang tahu?”
Aku memeluknya dengan erat, sangat erat.
“Borami! Aku mencintaimu! Aku tidak peduli kau robot atau bahkan siluman! Aku ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu!”
Perlahan Borami, memegang kedua tanganku.
“Kau tahu, aku sudah bersyukur sekali dapat merasakan apa yang disebut dengan kehidupan. Karena jantung ini,” ia meletakkan tangan kananku di dadanya, “jantung yang akan menemanimu sampai kapanpun.”
“Apa maksudmu?”
“Kau tahu ini jantung siapa? Ini jantungmu! Aku seorang android yang menggunakan darah sebagai alat transportasi tenaga seperti layaknya manusia dan aku menggunakan jantungmu!”
“A-apa jantungku?”
“Benar dan aku kembali ke masa lalu untuk menolongmu dari kekacauan ini. Aku ingin menyelamatkan pemilik jantung ini sebagai rasa terima kasihku. Mungkin setelah kau selamat, aku akan menghilang dari dunia ini.”
“A-apa?”
“Kau tahu efek domino?” ia tersenyum.
“Kejadian yang bersangkutan dengan sebab-akibat?”
“Iya dan karena kau selamat jadi aku tidak akan tercipta.” Ia kembali tersenyum.
“Tunggu! Aku belum bisa mengerti semua!”
“Selamat tinggal Daniel Tang!” Ia menjauhiku secara perlahan.
“Borami! Jangan tinggalkan aku! Borami!”
Tak lama sesuatu yang menyilaukan memaksaku untuk menutup mata.
*****
“Tuan Daniel Tang!”
Seseorang berjubah putih yang sama putihnya dengan rambutku menghampiri.
“Ada apa?” tanyaku sembari bangun dari meja kerjaku.
“Android Borami V.02.1 berhasil lulus uji coba.”
“Baiklah kerja bagus!” aku menempuk bahunya dan berjalan menuju lab.
Borami... Akhirnya kita akan bertemu lagi...