Niuw… Niuw…. Niuw…
Suara ambulance dengan keramaian di pinggir jalan adalah pemandangan yang saat ini terjadi, seorang pria tampak memangku kepala bersimbah darah seorang wanita yang kini memejamkan mata.
Sementara itu petugas yang berdatangan mengusir kerumunan dan mengambil alih tubuh korban kecelakaan siang ini.
Ya, di jalanan dengan pertokoan di sepanjang jalan ini sedang terjadi kecelakaan, tepatnya seorang wanita muda yang mencoba menyebrang.
Si pria yang melihat kekasihnya dibawa pergi protes, meskipun tidak ada yang mempedulikan dan tetap lanjut menyelamatkan nyawa si wanita saat ini dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Suara berisik dari petugas medis membuatnya semakin cemas, menatap bergantian antara wanitanya—kekasihnya yang sedang ditangani oleh pihak medis dengan pemeriksaan napas dan segala macamnya.
Ia hanya bisa meraung, memanggil nama kekasihnya yang masih memejamkan mata.
“Cha!”
Cha, cha dan cha.
Puluhan kali ia memanggil nama sang kekasih, tapi sayang mata itu tak kunjung terbuka. Hingga akhirnya tubuh sang kekasih dibawa ke dalam ambulance dan ia turut masuk ke dalam sana.
Ia memegangi tangan kekasihnya yang dingin, memandangi wajah bernoda darah di hadapaannya sambil sesekali mengecupi. Menatap nanar dress yang kini bernoda merah, menggantikan putih bersih saat ia pertama melihat di tepi jalan.
Ini salahnya, andai saja saat itu ia bisa mencegah kekasihnya untuk menyebrang menghampirinya, mungkin saja ia masih bisa tertawa dengan bahagia bersama wanita yang akan menjadi istrinya beberapa minggu lagi ini.
“Tidak! Please…. Bangun Cha, bangun Sayang.”
Ia meminta dengan sangat sambil menepuki pipi kekasihnya, tapi sama sekali tidak ada respon. Jika saja ia tidak melihat dada itu naik-turun menandakan kegiatan pernapasan, ia pasti akan lebih menyesal seumur hidup.
Please…. Baby come back to me.
Bebebrapa jam sebelumnya.
Seorang wanita cantik dengan dress putih tanpa lengan tampak duduk di sebuah café, menatap jalanan di depannya sambil menerima sebuah panggilan, tepatnya sambungan dari kekasih tampannya yang berkata akan sampai tidak lama lagi.
“Ayolah Sayang. Kamu bilang mau mengajakku menonton, kamu sih sibuk sekali. Huh….”
Bibir sewarna cerry itu mengerucut, menyuraki keterlambatan sang kekasih dan menyindir kesibukan kerja pria yang akan menjadi suaminya tidak lama lagi.
[Maafkan Baby, di sini macet, tunggu sebentar lagi ya. Hanya melewati lampu merah dan aku akan sampai di parkiran seberang café. Oke?]
Penjelasan panjang lebar itu menuai senyum manis si wanita yang dipanggil ‘Baby’ oleh si pria dalam sambungan.
“Baiklah aku tunggu di sini, kamu hati-hati ya. Jangan terabas lampu merah atau kamu akan berurusan dengan polisi lagi, Tian.”
Tian atau Christian Eric Wilson nama kekasih sekaligus calon suaminya yang sangat tampan.
[Yes, Baby. Baiklah hanya sebentar lagi, tunggu aku ya. Love you Baby.]
“Love you, Honey!”
Tut!
Panggilan berakhir, wanita ini kembali menikmati minumannya santai sambil melihat luar sana, tepatnya jalanan dengan kendaraan lalu-lalang yang sama sekali tidak pernah sepi.
Sesekali bibirnya menggumamkan lirik lagu yang sedang diputar di café tempatnya menunggu saat ini. lagu Nano—Sampai Ku Mati.
Tidak lama kemudian, notifikasi pesan singkat masuk di dalam kontaknya. Ia segera memeriksa dan tersenyum kecil melihat teks pemeritahuan, jika kekasihnya sudah ada di pinggir jalan depan café.
Dengan rasa tidak sabar, ia memasukan handphonenya ke dalam tas dan bergegas keluar café setelah membayar tagihan milk shake yang dinikmatinya.
Cring!
“Sampai jumpa! Terima kasih atas kunjungannya!”
Kalimat perpisahan bernada ceria itu diangguki olehnya, kemudian melangkah keluar dengan senyum lebar terulas.
Ia tidak sabar untuk bertemu kekasihnya yang tampak keluar dari sebuah mobil di sana.
Sedangkan di sisi si pria—Christian, tampak menolehkan kepalanya ke segala arah dan menemukan keramaian serta laju kendaraan yang sedang maupun kencang.
Ia bergegas menutup pintunya, kemudian berjalan memutari mobil untuk berdiri di trotoar dimana tempat penyebrangan berada.
Lampu lalu lintas masih berwarna merah dengan simbol pejalan kaki yang masih berkedip, di larang.
Senyumnya juga terulas, ketika dari kejauhan tampak seorang wanita—kekasihnya yang cantik dengan dress tanpa lengan berwarna putih.
Ia sangat menyukai saat surai itu terbawa angin seiring langkah kaki si wanita yang mendekat ke arahnya.
“Tian!”
Seruan dari seberang sana membuatnya tersenyum kecil, ikut melambaikan tangan dan mengangkat tangan dengan maksud untuk kekasihnya menunggu di sana.
“Tunggu di sana, Sayang!”
“Hah!”
Teriakan Christian sepertinya tidak terdengar jelas oleh si wanita di sana dan ia tanpa ragu mengulanginya lagi.
“Chantika, tunggu aku di sana!”
Wush!
Angin dari laju kendaraan yang melaju cepat itu kembali membuat seruan Christian tidak mampu didengar si wanita yang dipanggilnya Chantika.
“Apa! Ih…, aku tidak dengar,” gumam Chantika sebal.
Hingga akhirnya lampu berubah warna, di sana tidak ada yang menyebrang kecuali keduanya. Lalu Chantika yang melihatnya segera menyebrang, sedangkan Christian mengikuti sambil menggelengkan kepala.
“Dasar,” gumamnya kecil.
Keduanya melangkah sambil menyunggingkan senyum, Christian semakin dibuat jatuh cinta dengan pesona sang kekasih.
Ia menambah laju langkahnya, semakin dekat dengan Chantika yang juga semangat melangkah ke arahnya.
“Cha!-
Tin! Tin!
Deg!
Sebuah suara klakson membuat keduanya membeku di tengah jalan, menatap ke arah mobil yang bergerak kanan-kiri seakan kehilangan control.
Tin! Tin!
Kejadiannya seakan lambat, saat keduanya saling menatap dengan Christian yang berlari menghampiri Chantika yang berdiri kaku di tempatnya tanpa bergerak seinci pun.
Ckittt!
Bruag!
Brugh!
Brakh!
Dan yang terakhir terdengar adalah sebuah decitan ban, serta dua tubuh yang tertabrak bagian depan yang akhirnya berhenti saat menabrak tiang listrik di sana.
Para pejalan kaki atau bahkan mobil yang melintas di sana seketika membentuk kerumunan, memanggil polisi dan ambulance ketika melihat dua korban kecelakaan bersimbah darah di sana.
Saat ini…
Suara roda dari sebuah brangkar yang didorong oleh para petugas itu menjadi pemandangan biasa bagi yang bekerja di sana.
Seorang wanita tampak berbaring di atasnya dengan mata terpejam dan darah yang masih mengalir. Sedangkan seorang pria tampak mengiri dengan wajah cemas.
“Cha! Sayang! Please, jangan tinggalkan aku!”
Ia meraung di sepanjang jalan, tidak peduli saat para medis mengatakan menuju ruang operasi atau meminta untuk rekan lain menghubungi dokter ahli.
Yang menjadi fokusnya saat ini adalah kekasihnya yang masih memejamkan mata dan sama sekali tidak menyahutinya.
Ruang operasi di depan sana, ia tidak bisa ikut ke dalam dan seketika bersimpuh di depan pintu sana.
Tangisannya menjadi, tidak peduli dengan tubuhnya sendiri yang ikut berdarah dari kedua tangan dan kepala.
“Tuhan! Jangan ambil Cha dariku, kumohon…..”
Sedangkan di dalam sana tampak ruang operasi dengan alat-alat penopang hidup yang terhubung dengan sebuah monitor pemantau.
Para dokter melakukan banyak cara menyelamatkan nyawa seorang wanita dengan wajah pucat, karena kehilangan banyak darah.
Berjam-jam berlalu, hingga akhirnya operasi berhasil dan lampu hijau di atas pintu membuat Christian yang menunggu akhirnya bisa bernapas lega.
Terima kasih, Tuhan….
Beberapa saat kemudian…
Ruangan dengan infuse menetes adalah tempat Christian saat ini berada. Ia memegangi tangan terkulai lemas kekasihnya dengan sesekali mengusap dan mengecupinya.
Tatapannya sendu, berharap bisa melihat lagi bola mata cantik Chacha kesayangannya yang dari kemarin tertutup.
Hingga akhirnya suara pintu terbuka dengan seorang wanita paruh baya memasuki ruangan.
Ceklek!
“Mah!”
Ia memanggil si wanita yang bukan lain adalah mama kekasihnya dengan senyum kecil terulas.
“Kamu masih saja tertidur, Cha. Tidak kasihan apa dengan Chris?”
“….”
Tidak ada jawaban, Chris yang mendengarnya menunduk muram dan hanya bisa menggenggam tangan, ketika sang mama akhirnya sibuk mengganti bunga dan mengusap pipi kekasihnya yang masih terpejam.
“Kamu beruntung sayang, Tian melindungimu dengan sangat baik saat itu,” bisik sang ibu dengan Tian yang mengangguki.
“Itu sudah tugasku, Bu. Cha calon istriku, aku mencintainya.”
Selanjutnya hari-hari masih sama seperti kemarin, kekasihnya masih memejamkan mata dan betah sekali membuatnya menunggu dalam kesepian.
Christian saat ini sedang berjalan-jalan di sekitar rumah sakit, ia bertemu dengan seorang pasien yang duduk sepanjang hari di taman rumah sakit.
Ia berpikir, apakah pasien itu tidak punya kerjaan lainnya selain duduk seperti itu. Tapi, kenapa sama sekali tidak ada yang mengajaknya berbicara dan membiarkan pasien itu duduk di tengah dan ditinggal sendiri?
“Entahlah, aku tidak tahu.”
Christian memutuskan untuk kembali ke dalam kamar dan tersenyum kecil saat melihat wajah damai kekasihnya yang masih berbaring di ranjang sana.
Ia berjalan perlahan ke sana dan duduk di samping ranjang.
“Hei, Baby! Tidakkah merindukanku?” bisik Christian lirih di di telinga Chacha yang sama sekali tidak meresponnya.
Hanya dadanya yang naik-turun teratur sebagai tanda jika kekasih hatinya masih hidup. Ia menghela napas dan setelahnya menelungkupkan kepala di lengan putih sang kekasih.
“Cha…. Aku mencintaimu,” bisik Tian lirih.
Setetes air mata tiba-tiba saja mengalir dari sudut mata wanita yang dipanggilnya Cha, tapi Tian tidak tahu itu.
Ia sudah lebih dulu memejamkan mata, dengan suara berisik dari luar sana berdatangan ketika mendengar monitor yang menunjukan tanda vital dari si pasien di atas ranjang.
Beberapa hari kemudian….
Sepasang mata akhirnya terbuka, melihat langit-langit di atas sana dengan kedipan pelan dan menoleh ke samping dengan seorang ibu yang menatapnya lega.
Ia mengenyit saat pandangannya buram dan membiarkan tangannya digenggam oleh sang ibu yang mengecupinya.
“Bu….”
“Cha…. Akhirnya kamu sadar, Sayang. Syukurlah…”
Sang ibu segera menghubungi keluarganya yang ada di kantin dan di rumah, mengabarkan jika putrinya dan keluarga yang ditunggu bangunnya kini sudah membuka mata.
Sedangkan seseorang yang baru saja memasuki ruangan tersenyum semringah, ketika mendapati sang kekasih yang kini menatapnya lagi dengan linangan air mata.
“Tian,” bisik Cha menatap pintu di sana dengan linangan iar mata.
Tian segera menghampiri kekasihnya yang menangis, mencoba menghibur dengan tangisan yang justru semakin deras kala sang ibu mendekapnya erat.
“Maafkan aku, Cha. Aku tidak becus menjagamu, aku yang menyebabkanmu sampai kecelakaan seperti ini-
“Cha! Sayang!”
Tian menelan kembali ucapanya ketika mendengar seruan dari banyak orang yang berdatangan. Ia juga menyingkir ketika melihat ayah kekasihnya berdiri di pinggir ranjang dan ikut memeluk Cha kesayangannya.
Bukan hanya itu, ia juga tidak bisa mendekati Cha karena banyak yang datang mengerumuni kekasihnya yang menangis semakin kencang, seakan kehilangan sesuatu yang tidak dimengerti apa olehnya. Padahal saat sang kekasih memanggil namanya, ia menyahuti dengan banyak keluarganya yang memberikan kata penenang.
Dan tangisan itu baru berhenti, ketika Cha kesayangannya kembali ditenangkan oleh injeksi dari dokter.
Tian memperhatikan Cha dengan air mata ikut mengalir, baru bisa berdiri di sisi Cha ketika semua orang yang mengunjungi pergi dan meningalkan Cha berbaring sendiri.
Tangannya terulur untuk menghapus air mata di sudut mata kekasihnya, dengan aliran yang justru kian bertambah.
Ia bingung apa yang dimimpikan oleh Cha, kenapa sampai menangis karena sentuhannya.
“Cha…,” bisiknya lirih sambil memeluk tubuh kekasihnya erat.
Beberapa hari kemudian…
Tian tampak mengiringi langkah tertatih kekasihnya yang berjalan di sampingnya. Meskipun tidak saling berbicara dan wajah kesayangannya masih tampak pucat, Tian sudah senang karena Cha yang akhirnya keluar dari rumah sakit.
Angin membelai lembut wajahnya, Tian ikut berdiri dan setia mendampingi Cha yang memanggil namanya lembut.
“Tian….”
“Hm?”
“Maafkan aku, andai saat itu aku diam dan menunggumu di sana, aku yakin kita pasti akan baik-baik saja,” imbuh Cha dengan sudut mata berair.
Tian diam tidak menanggapi, ia hanya menatap apa yang saat ini ada di depan sana dengan senyum sendu terulas.
“Maafkan aku, Tian. Aku bersalah.”
Brugh!
Tian tidak bisa menangkap saat tubuh Cha ambrug dan bersimpuh di hadapanya. Bahkan saat Cha menangis, ia tidak mampu mengusapnya dan ia hanya bisa mendengarkan saat kekasihnya meminta maaf.
Ia juga hanya bisa mendengarkan kalimat selanjutnya, ketika Cha bercerita tentang sebuah lapangan luas dengan senja merah yang di alam mimpi.
Alam mimpi Cha saat tertidur…
Lapangan luas dengan bunga-bunga berbagai warna dan jenis menjadi pemandangan indah tempatnya saat ini.
Chantika melihat punggung yang kini membelakanginya, sebelum akhirnya membalik dengan wajah familiar terlihat olehnya.
“Hai! Baby….”
“Tian…. Kita di mana?” tanya Chantika alih-alih menjawab sapaan sang kekasih.
Tian tersenyum mendengarnya, ia mengulurkan tangannya yang segera diterima oleh sang kekasih. Ia juga perlahan menarik tangan itu lembut dan menempatkannya berdiri di sisinya.
Lalu Chantika segera mengikuti arah dimana Tian menatap dan menemukan sebuah padang rumput luas, lebih luas dibandingkan taman bunga di belakang sana.
“Apa yang kamu lihat, Tian?” tanya Cha penasaran.
“Tidak ada, aku hanya takjub karena luasnya tak terkira.”
Cha mengangguk mendengarnya, kemudian menatap atas sana dengan kening kembali mengernyit saat mendapati warna langitnya yang berwarna merah dengan gradasi orange, tampak cantik.
“Apakah saat ini senja, Sayang?”
“Senja?” Tian ikut menatap atas sana dan tersenyum, kemudian menggenggam tangan kekasihnya erat. “Bukan senja sayang, tapi langit tempat kita saat ini memang bukan langit biasa,” lanjutnya tanpa tahu membuat sang kekasih bingung.
“Maksudnya?”
“Langit di sini indah kan?” tanya Tian lagi-lagi tidak menjawab.
“Umh…, senjanya cantik.” Cha dengan polos mengangguki, kemudian menoleh ketika sebuah kecupan di pipinya.
“Tapi sayangnya langit senja yang biasa kita lihat di sana lebih indah dari di sini.”
“Huh!? Aku tidak mengerti, Tian,” sahut Cha dengan kepala menggeleng.
“Artinya kamu masih harus melihat senja di sana, bukannya di sini.”
“Ti-
“Sungguh aku merindukanmu, tengok aku Sayang…. Bunga darimu kubutuhkan dibandingkan yang lain.”
Tes!
“Tian.”
“Yang harus kamu tahu adalah aku sangat mencintaimu.”
“Aku pun mencintaimu, Tian.”
“Cha….”
“Iya?”
“Boleh aku meminta satu hal?” imbuh Tian lembut.
“Apa?”
“Tetaplah mencintaiku, meskipun sudah ada penggantiku di sisimu dan hiduplah demi masa depan kita, jaga bayi kita sampai dia besar tumbuh sehat.”
***
Maka itu di sinilah mereka saat ini berada, di sebuah pemakaman sepi dengan awan mendung menggantung di atas sana.
Tian hanya bisa menagis dalam diam saat Cha bersimpuh di sebuah makam dengan namanya.
Christian Eric Wilson
Ia kini tahu kenapa ia tidak bisa mendekati Cha saat yang lain berdatangan, tidak bisa menenangkan Cha ketika mendengar pemberitaan dari keluarga atas kematiannya saat kecelakaan atau bahkan menggandeng tangan kekasihnya lagi saat berjalan di sepanjang menuju ke makam ini.
Ia tidak menyesal mengorbankan nyawanya untuk dua nyawa yang dicintainya, justru akan sangat menyesal jika saat itu ia membiarkan keduanya yang tertabrak mobil itu.
Ia ingat ketika tabrakan itu terjadi, ia melindungi tubuh kekasihnya dan membiarkan dirinya mati memeluk tubuh Cha, demi kesalamatan Cha dan anaknya yang ada di dalam rahim kekasihnya.
Ya, siapa yang menyangka, jika selama ini ia hanyalah roh yang masih belum ikhlas meninggalkan dunia.
Ia melihat ke batu nisan dengan mata terpejam, sebelum berusaha mengusap kepala Cha yang mengangkat segera kepalanya dari tanah sana.
“Tian!”
“Aku di sini, Baby….” Tian menyahuti sambil membelai pipi Cha yang menangis.
Hiks…
Tangisan kembali menjadi, Cha merasakan angin membelai wajahnya. Ia memejamkan mata seakan ada Tian di depannya, kemudian membukanya dengan linangan air mata.
“Bagaimana bisa aku melupakanmu dan menggantikan posisimu di hatiku, kalau caramu meninggalkanku seperti ini, Tian?”
“Maafkan aku.”
“Bagaimana aku bisa menjalani hariku tanpamu, siapa yang akan menjaga kami di sini, Tian?”
“Maafkan aku.”
“Hiks…. Setidaknya dia baik-baik saja atau aku akan menyusul kalian jika sampai aku kehilangannya juga, harta yang paling berharga darimu, Tian.”
“Terima kasih, jaga dia baik-baik, Baby.”
Tian hanya bisa menunduk bersimpuh di depan wajah Cha yang tidak bisa melihatnya, ia memandang sedih perut kekasihnya yang kini bersemayam benih darinya.
“Maafkan Papa, Sayang.”
“Tunggu aku di surga Tian, aku akan selalu menjadikanmu satu-satunya pria yang mengisi hidupku. Aku yang akan menjadi Mama dan Papa untuk calon anak kita, aku mencintaimu, Christian Wilson. Namamu akan tersemat di nama calon anak kita, Sayang.”
Dengan begitu, tubuh Tian perlahan menjadi cahaya. Ia sudah mengikhlaskan diri dengan mengetahui ibu dari anaknya baik-baik saja.
Setidaknya ada anaknya yang akan menemani wanita yang sangat dicintainya sampai mati.
“Good bye my love.”