Suara alarm yang sangat bising membangunkan Marisa yang sedang tidur pulas. Tangannya meraba sekitaran tenpat tidurnya untuk mencari benda pipih yang sedaritadi menjerit itu.
KLIK!
Suara bising itu berhasil mati dan perlahan mata Marisa terbuka. Membiasakan cahaya yang masuk melalui retina matanya. Dengan malas perempuan itu memulai aktivitas paginya.
Hari ini Marisa akan pergi ke tempat kerja barunya. Beberapa hari yang lalu dia lolos tes masuk serta interview. Setelah semua persiapan selesai, Marisa segera bergegas menuju kantornya. Jarak antara kos dan kantor tempatnya bekerja tidak terlalu jauh. Bahkan bisa hanya berjalan kaki untuk sampai di sana.
"Selamat pagi, salam kenal. Saya Marisa, pekerja yang baru training mulai hari ini. Mohon bantuannya," ucap Marisa memperkenalkan diri.
"Salam kenal, Marisa. Aku Grey, kamu bisa duduk di meja sebelahku. Aku yang akan membimbingmu," kata seorang wanita cantik bernama Grey.
Marisa mengangguk dan segera mengikuti langkah Grey. Lalu wanita itu menjelaskan beberapa pekerjaan yang harus Marisa kerjakan.
"Paham?"
"Paham, Mbak."
Grey tersenyum dan mengangguk, kemudian dia melanjutkan pekerjaannya dan Marisa juga mulai mengerjakan pekerjaannya.
Namun, tiba-tiba Marisa merasa harus pergi ke toilet. Akhirnya dia meninggalkan meja kerjanya untuk pergi ke toilet. Beruntung jarak toilet itu tidak terlalu jauh dari ruang kerjanya. Suara ribut menghentikan langkah Marisa seketika. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari sumber suara ribut itu.
"Mama!" panggil seorang anak laki-laki kurang lebih berusia 4 tahun.
Entah datang dari mana bocah itu dan tiba-tiba memeluk Marisa.
"Eh?" Kaget Marisa.
Marisa bertanya-tanya, kenapa bisa ada anak kecil berkeliaran di perusahaan seperti ini? Masuk dari mana bocah ini? Bagaimana bisa lolos dari security dengan wajah sangar yang selalu berjaga di depan?
"Kevan!" panggil seseorang, membuat Marisa maupun bocah yang sedang memeluk kakinya ikut menoleh ke sumber suara.
Kernyitan di dahi Marisa timbul melihat sosok tinggi dengan setelan jas rapi, juga rambut yang tertata rapi. Sempat terpesona oleh ketampanan pria di depannya itu, tapi seketika Marisa tersadar.
"Kevan! Kembali ke ruang Papa sekarang!" perintah pria itu. Sementara yang dipanggil dengan nama 'Kevan' malah bersembunyi dibalik tubuh Marisa.
"Pak, jangan galak-galak sama anak kecil. Kasihan dia takut tuh," celetuk Marisa.
Mendengar celetukan Marisa, pria tampan itu seketika tersadar bahwa tidak hanya ada Kevan di sini. Pria itu sempat terdiam dengan ekspresi kagetnya setelah melihat wajah Marisa. Lalu pria itu berjalan mendekat pada Marisa. Membuat Marisa mundur beberapa langkah bersama dengan Kevan yang masih setia bersembunyi dibelakangnya.
"Ayo ikut Papa!" ucap pria itu langsung mencomot Kevan dan membawanya ke dalam gendongan.
Mereka berlalu begitu saja tanpa mempedulikan Marisa yang masih bengong ditempatnya. Namun, Kevan masih menyempatkan diri melambai pada Marisa seakan berpamitan.
Marisa masih bingung dengan kejadian barusan, kejadian aneh menurutnya. Setelah menuntaskan niat awalnya tadi, dia segera kembali ke ruang kerjanya. Grey yang sadar Marisa sudah kembali pun menyeret kursinya mendekat pada meja rekan barunya itu.
"Kamu ke toilet sebelah mana? Kenapa lama banget?" tanya Grey lirih.
"Toilet depan, Mbak. Lama karena tadi ada kejadian aneh," jawab Marisa. "Mbak, itu siapa sih?"
"Mana?" tanya Grey mengernyitkan dahi.
"Itu yang jalan mau masuk lift, gendong anak kecil," tunjuk Marisa, matanya masih tidak lepas pada pria yang dia temui tadi.
"Oh, dia Pak Kevin," jawab Grey.
"Dia siapa? Kenapa bawa-bawa anak? Memangnya boleh bawa anak ke tempat kerja?"
"Khusus dia boleh. Orang dia yang punya perusahaan," jawab Grey kembali pada mejanya.
Sementara Marisa hanya bisa melongo setelah mendengar jawaban dari Grey. Mendadak Marisa ingat bagaimana pertemuan mereka tadi. Dia menutup wajahnya merasa sangat malu. Bagaimana bisa dia tidak mengetahui siapa pemilik perusahaan ini?
"Yyaa, wajar. Gue, kan, baru di sini," gumam Marisa bermonolog.
"Paling juga dia nggak inget gue, karyawan dia banyak di sini. Nggak mungkin ada waktu buat inget satu-satu wajah karyawannya," lanjutnya berusaha menghibur diri.
"Tapi tetep aja, kesan pertama itu sangat penting dan gue ancurin kesan baik itu," ucap Marisa menutup wajahnya.
💮💮💮