Kost Pak Lee, kost paling biasa saja dengan penghuni kelewat luar biasa. Tujuh pemuda dengan DNA saling menolak namun anehnya sangat akur berkumpul di ruang tengah dengan formasi later U sesuai dengan sofa yang tersedia.
Ketujuh orang itu saling memandang dalam diam. Menunggu seseorang memulai pembicaraan serius ini.
"Oke, diskusi kita mulai." Ucap Namjoon selaku moderator.
"Saudara Agus, silahkan curahkan keluh kesah anda sebagai penghuni paling depresi." Agus bersiap-siap mengeluarkan segala uneg-uneg yang selama ini tertahan.
"Tolong ya, Gue tau kalian semua emang agak nggak bener, tapi Gue mohon sangat nih. Bisa nggak sih kalian nggak usah nunjukkin kegoblokan kalian di depan publik. Ya minimal nggak bikin Gue malu lah di depan warga komplek." Ucap Agus.
Agus membayangkan kejadian seminggu lalu ketika dirinya dan Seokjin sedang berbelanja di toko kelontong dan Seokjin dengan pikiran anehnya menyelutukkan argumennya. Waktu itu keduanya seperti biasa, semua masih normal sampai Seokjin tiba-tiba berucap dengan suara seperti orang putus asa. "Gus."
"Apa?" Tanya Agus kala itu.
"Gue nggak ngerti deh, dikit-dikit nangis, dikit-dikit nangis. Kenapa sih Bayi baru lahir nggak bisa bersikap dewasa?" Ucapnya seolah marah, cukup keras disaksikan beberapa orang yang kebetulan belanja. Agus membuka mulutnya dengan mata melebar. Ini cara berfikir Seokjin bagaimana sih?
Dan sejak seminggu yang lalu sampai sekarang Agus benar-benar trauma berbelanja dengan Seokjin.
Lanjut sesi diskusi yang sedang ketujuh pemuda itu jalani.
"Oke, saudara Agus ada lagi yang ingin anda keluhkan?" Tanya Namjoon.
Banyak, banyak sekali sebenarnya. Tapi mungkin akan memakan lima puluh ribu huruf hanya berisi keluhan saja. Lebih baik di skip. Agus menggeleng mempersilahkan yang lainnya untuk berkata sepatah dua patah kata.
"Yang lain?" Tanya Namjoon.
"Gue!" Ucap Jimin dan Jungkook secara bersamaan.
"Gue duluan!" Jimin merasa paling dahulu tidak terima.
"Gue duluan!" Ucap Jungkook.
"Gue aja." Ucap Taehyung ikut-ikut.
"Gue!" Jimin masih ingin mempertahankan egonya.
"Gue yang lebih tua." Tambah Jimin.
"Gue yang lebih muda, ngalah dong."
"Gue tengah-tengah." Ucap Taehyung.
"Nggak bisa!"
"Gue duluan pokoknya."
"Gue Napa sih? Gue aja udah."
Dan inilah sebabnya, seharusnya Agus mengeluhkan keluh kesahnya lebih panjang agar dua manusia itu tak berebut bicara.
"Oke, sesi diskusi kita lanjut part dua." Ucap Agus sebelum melenggang pergi.