Hanya memendamnya, itu yang bisa kulakukan untuk saat ini. Aku Ali, seorang mahasiswa di salah satu universitas negeri di Kota S. Ada seorang perempuan yang menarik perhatianku sejak pertama kali menginjakkan kaki di universitas ini.
Namanya Fatimah, nama yang sangat indah. Fatimah bukan dari prodi yang sama denganku. Awal pertemuan kami ketika selepas shalat dhuha. Aku yang kala itu hendak keluar dari masjid mengurungkan niat karena mendengar suara indah lantunan ayat suci Al-Quran.
Hingga saat ini, aku masih ingat dengan suara itu. Suara yang mampu menggetarkan hatiku. Ingin rasanya aku mengenal Fatimah, tapi belum pernah sekalipun aku memberanikan diri bertatap muka dengannya. Kami hanya kebetulan bertemu selepas shalat berjamaah di masjid.
Fatimah akan menundukkan kepalanya ketika dia berpapasan dengan orang-orang. Sikapnya yang ramah itu menjadikan dia banyak dikenal oleh beberapa kalangan mahasiswa sampai dosen.
Tiap malam aku selalu panjatkan doa, serta terus berusaha memperbaiki diriku yang masih banyak kekurangan ini. Aku ingin kisahku seperti Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra. Kisah cinta paling romantis yang pernah kubaca.
"Bro, kapan mau deketin si Fatimah? Keburu keduluan si Rozi," ucap Abu, salah seorang temanku.
"Rozi?"
"Dia anak kedokteran. Tuh, liat mepet terus dia."
Aku mengikuti arah pandang Abu karena penasaran. Di depanku terlihat seseorang yang kata Abu bernama Rozi sedang berbincang bersama Fatimah. Tidak hanya ada Rozi di meja itu, tapi banyak juga teman-teman Fatimah di sana.
Mendadak aku menciut, melihat ada beberapa anak yang ternyata juga berusaha mendekati Fatimah. Semua anak itu kebanyakan dari fakultas kedokteran yang tentu kelasnya berbeda jauh dariku. Aku merenungi nasibku, Al-Quran yang berada dipangkuanku mendadak terabaikan. Namun, beberapa saat kemudian aku tersadar. Tidak seharusnya aku meratapi nasib seperti ini.
"Ya, aku juga harus berusaha," ucapku membulatkan tekad.
Saat ini aku berada di semester akhir yang sedang mengerjakan skripsi. Aku datang ke kampus hanya untuk bertemu dengan dosen pembimbing guna membahas skripsiku. Namun tiap aku ke kampus, pasti bersamaan dengan Fatimah yang juga berada di sana. Entah terkadang di masjid, di perpustakaan, atau kantin.
"Gila! Fatimah nolak semua cowok yang deketin dia," ucap Abu.
Aku hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan Abu itu. Namun, dalam hati aku merasa senang dan merasa mendapat kesempatan.
'Aku akan membuktikan bahwa aku pantas dan aku akan segera datang padamu.' Tekadku sudah benar-benar bulat dan Fatimah adalah motivasiku saat ini.
Aku mulai fokus pada karirku dan aku terus belajar agar menjadi lebih baik. Bukan waktu yang singkat untukku berproses menjadi lebih baik dan aku sempat berpikir semua usahaku sia-sia saat mendengar kabar bahwa Fatimah sudah menikah. Namun aku pasrah, jika berita itu benar berarti kami memang belum berjodoh.
"Nak Ali, mau saya kenalkan dengan seorang perempuan putri dari kenalan saya?" tanya Mbah Maulana, beliau adalah guru spiritualku.
Aku cukup lama terdiam mendengar tawaran itu. Hatiku masih terasa berat untuk melepas Fatimah yang sudah terlanjur singgah. Namun, aku juga tidak ingin terus terbelenggu dalam cinta yang bisa saja nanti malah akan membawa mudarat.
"Baik, saya akan mau," jawabku setelah cukup lama terdiam.
Akhirnya aku menyetujui pertemuan kami. Semoga saja dari pertemuan ini, aku dapat melupakan perasaanku. Aku duduk bersama dengan Mbah Maulana di rumah beliau.
"Assalamualaikum," ucap sebuah suara.
Suara itu membuat punggungku spontan menegak. Mbah Maulana bangkit dari duduknya dan berjalan ke pintu depan untuk menyambut tamu yang datang.
"Waalaikumsalam," jawabku.
Suara langkah kaki mendekat, aku masih belum tahu bagaimana rupa para tamu yang datang. Ada sekat yang membatasi di ruang ini.
"Nak Ali, ayo keluar," pinta Mbah Maulana.
Aku bangkit dari duduk dan berjalan menemui mereka. Tidak banyak yang aku harapkan dari pertemuan hari ini.
"Kenalkan ini Ali, dia salah satu murid kesayanganku," ucap Mbah Maulana memperkenalkanku. "Lalu, kenalkan ini adalah Fatimah...."
Kepalaku yang sedaritadi menunduk, spontan mendongak setelah mendengar nama itu disebut. Jantungku berdebar hebat saat ini melihat paras cantik itu duduk di sana bersama kedua orang tuanya.
🍃🍃🍃