Hidup adalah waktu yang terus berjalan, meskipun lelah kau harus menjalaninya.
Tak pernah lagi kudengar suaramu di pagi hari, siang hari, sore hari, dan malam hari. Tidak lagi aku lihat wajah lucumu dan marahmu lagi. Tidak lagi kurasa kehadiranmu yang selalu mengiringi setiap langkahku.
Aku sudah kehilanganmu.
Sosokmu yang nyata sudah jauh menghilang, sosok yang menganggap dunia sebagai perjuangan hidup untuk bahagia. Kau yang hanya menganggap dunia hanya kumpulan luka, kumpulan luka yang kau sembuhkan dengan caramu. Sekarang kau sudah menghilang. Ya, kau sudah menghilang dan aku merindukanmu.
Hari itu tidak seperti biasanya, kau mau menemani ku tidur di samping ku, kata ibukku kau menatapku kala aku tidur tak lelah kau pandangi wajahku yang menjengkelkan bagimu karena aku suka mengaturmu, dan melarangmu ini itu.
Sungguh kulakukan itu karena aku menyayangimu, dan kau tau itu. Hari itu tiba tiba kau jatuh sakit, apa aku telat menyadarinya saat kau tidak mau makan dan minum beberapa hari yang lalu?
Sudah 3 hari kau sakit aku tak tega melihatmu terus muntah dan mengeluarkan darah, ingin ku bawa kau ke dokter tapi aku tidak memiliki uang dan memilih merawat mu dirumah dengan penuh perhatian dan kasih sayang, tapi aku tidak mampu membawamu kedokter.
Pagi harinya aku bangun pagi pagi untuk memastikan apa kah kau masih bernafas atau tidak, kau hanya diam saja, seperti bukan sosok yang aku kenal, kau tampak begitu hampa tak bernyawa. Berat badanmu turun drastis membuat ku bingung kau terus terusan muntah, aku pergi ke apotik membeli obat, tapi saat aku pulang tubuh mu sudah tergeletak lemah.
Aku membawamu keluar rumah menggendongmu untuk merasakan panas matahari, saat hendak ku beri obat ayahku datang dan berkata "kamu harus mengikhlasnya" dan saat itu kau memandangi kami satu persatu aku menggeleng cepat.
Ku bilang "tidak, jangan tinggal kan aku" aku menangis sejadi jadinya hingga tubuhku lemas.Obat yang akan ku minum kan padamu ku lempar sembarangan arah. Kaki ku sudah tidak kuat lagi berdiri, aku jatuh dan kehilangan untuk ke 4 kalinya, pertama kakakmu lalu ibumu lalu kakakmu dan sekarang kau. Saat nafas mu semakin pendek ibukku membacakan Syahadat. Matamu memandangku untuk terkahir kalinya saat itu juga nafas mu berhenti untuk selama lamanya.
Tega sekali kau meninggalkanku di sini sendirian, aku harus menyesuaikan hidup baru tanpa ada kau di sisiku, sampai saat ini aku masih belum bisa menyesuaikan hidup tanpa ada kau.
Aku mencintaimu yang telah pergi, cinta yang begitu buta sampai sampai aku terlalu fokus denganmu. Terima kasih telah mengisi setengah ruang kosong di hatiku.
Doni terimakasih untuk selama lamanya, aku akan memberi makan setiap kucing yang kutemui, mungkin itu akan mengingatkan ku pada mu.
Kenangan itu akan ku ingat sepanjang masa.
6 Agustus 2021, kepergian mu membawa luka....