Resiko menjalani pernikahan kedua adalah bersaing dengan yang pertama, sekalipun yang pertama itu telah bercerai. Inilah yang Grace rasakan setelah menjalani pernikahannya dengan Andre. Dia bukan seorang pelakor, dia menikah karena cinta. Awalnya dia merasa pernikahan ini suatu keberuntungan, hingga ia tiba pada kesimpulan bahwa Andre menikahinya karena kebutuhan bukan karena cinta.
----
Suasana pasar malam yang sangat ramai. Orang-orang berlalu-lalang dengan wajah penuh ceria, berbincang dengan teman atau pasangannya sambil tertawa-tawa, suara musik berdentum-dentum keras mengiringi keceriaan anak-anak yang berlarian ke sana-kemari sambil membawa makanan atau hadiah yang mereka dapat dari memenangkan permainan. Beberapa orang duduk-duduk sambil mengobrol di depan tenda yang menjajakan makanan dan minuman ringan, sebagian lagi sedang menikmati berbagai wahana yang ada. Keseruan yang dapat kita lihat dan rasakan di setiap pasar malam, bukan?
Begitu pula yang dirasakan oleh sepasang suami istri yang baru saja memasuki arena pasar malam dengan wajah penuh bahagia. Grace bergelayut manja di pundak Andre dengan senyum yang selalu menghiasi wajah cantiknya.
“Sayang lihat itu!” tunjuk Grace ke sebuah tenda permainan, “Yuk kita ke sana!” ajaknya lagi.
Pandangan Andre mengikuti kemana telunjuk Grace mengarah, “Sayang… itu kan untuk anak kecil,” ucapnya.
“Gak apa-apa, aku pengen dapet bonekanya, ayolah sayang, kita kan mau bersenang-senang,” rajuk Grace. Tangannya masih bergelayut di bahu Andre.
“Baiklah,” Andre tersenyum menatap istrinya yang sedang merajuk.
Mereka melangkah mendekat tenda bermotif garis-garis merah dan putih.
Hanya sebentar saja mereka di sana karena ternyata permainan itu sungguh kekanak-kanakkan untuk mereka yang sudah sangat dewasa.
Sekarang Grace dan Andre sedang duduk di depan permainan tong setan sambil menikmati popcorn dan sekaleng minuman ringan.
Berbincang hangat diselingi tawa dan senyum malu dari Grace yang terus digoda oleh Andre, mereka menikmati kebersamaan malam itu dengan penuh cinta.
“Sayang lihat itu, ada layanan hipnotis! Kita ke sana yuk,”
“Gak ah! Aku takut dihipnotis. Takut gak bisa sadar lagi,” Grace bergidik.
Andre tertawa sambil mengacak-acak rambut Grace, “Ya gaklah, masa ga bisa sadar lagi hahaha… Ayo!” Andre berdiri, tangannya menggandeng tangan Grace agar ikut berdiri.
Dengan berat akhirnya Grace mengikuti langkah suaminya, hatinya sedikit menciut.
“Selamat malam tuan dan nyonya, selamat datang di rumah hipnoteinment-nya Mr. Hypno!” ucap seorang pemuda berperawakan pendek dengan bersemangat menyambut kedatangan mereka, “Anda sangat beruntung dapat berjumpa dengan Mr. Hypno!”.
“Silakan masuk tuan dan nyonya, kami akan melayani anda dengan baik,” lanjutnya dengan senyum ramah menghiasi wajahnya yang bulat dan sedikit berkeringat, sepertinya dia sudah agak lelah melayani pengunjung sejak siang tadi.
Andre masuk ke dalam sebuah tenda yang ukurannya tidak terlalu besar dengan Grace yang mengekornya dari belakang. Kedatangan mereka disambut oleh suasana tenda yang temaram. Tenda itu dipenuhi dengan benda-benda yang aneh, seperti kerucut pasir, beberapa kepala hewan buruan yang dipasang di dinding tenda menggunakan tonggak agar bisa berdiri tegak, beberapa jenis padi-padian yang dipasang di sisi kanan dan kiri sebuah meja pendek beralaskan kain hitam.
Di balik meja duduk seorang lelaki yang tidak terlalu tua, mungkin umurnya sekitar 40 sampai 50 tahunan. Lelaki itu menyambut kedatangan Andre dan Grace dengan senyum tipis dan tatapan tajam.
“Selamat datang tuan dan nyonya di rumah Mr. Hypno!” ucapnya tanpa melepas pandangannya, “Silakan duduk!” dia menunjuk pada dua bantal kecil yang ada di depan mejanya.
Andre tersenyum pada lelaki yang bernama Mr. Hypno itu, sementara Grace masih mengedarkan pandangannya menyelidik isi tenda dengan pandangan ragu.
Andre menarik tangan Grace agar duduk di atas bantal di sampingnya. “Duduklah di sini, sayang,” bisik Andre.
Dengan ragu Grace duduk di samping suaminya tanpa melepaskan genggaman tangannya.
“Tidak usah khawatir nyonya, di sini tidak ada yang perlu ditakutkan,” ucap Mr. Hypno tersenyum pada Grace.
“Eh iya, maaf,” jawab Grace kikuk.
“Kenalkan aku Mr. Hypno, banyak yang datang kemari hanya untuk mengetahui rahasia kecil yang ada di dalam hati. Aku bisa membantu pelanggan untuk mengetahui kegelisahan dan masalah yang tersimpan dalam hati, dan jika kalian percaya aku akan membantu memberi solusinya,” ucap Mr. hypno dengan suara yang berat dan meyakinkan, “Apa yang kalian ingin aku lakukan?” tanyanya.
“Ah tidak ada, aku rasa kami tidak punya masalah, kami ke sini hanya untuk bersenang-senang saja,” jawab Andre, “Iya’kan sayang?” pandangannya beralih pada Grace sambil tersenyum.
“Iya, benar,” jawab Grace.
“Oh… hohoho… kalau begitu mari kita bersenang-senang dengan Mr. Hypno!” lelaki itu tertawa menggema, “Siapa yang ingin melakukan lebih dulu?”
“Ehm, maaf sebelumnya, berapa harus kami bayar untuk layanan ini?” tanya Grace.
“Tenang nyonya, anda tidak perlu khawatir, aku hanya meminta seikhlasnya saja. Anda bisa memasukkan uang anda ke dalam kotak itu,” dia menunjuk pada sebuah kotak yang ada di dekat pintu.
“Sayang, maukah kamu melakukannya?” tanya Andre pada istrinya.
“Ah tidak! Aku takut,” jawab Grace menggelengkan kepalanya dengan yakin.
“Kalau begitu sebaiknya anda yang mencoba nyonya. Percayalah ini tidak menyakitkan dan tidak menakutkan sama sekali,” ucap Mr. Hypno sambil mengeluarkan sesuatu dari balik meja.
“Lihatlah nyonya bola kecil ini,” dia menunjukkan sebuah bola yang di atasnya ada tali, dia menggoyang-goyangkan bola itu di depan wajah Grace, “Anda akan merasa mengantuk karena memandang bola ini, nyonya,” ucapnya lagi.
Tanpa bisa menghindar, Grace mengantuk dan tertidur dengan cepat. Kepalanya bersandar di bahu Andre.
Lelaki itu tersenyum manis melihat Grace yang sudah berada di bawah hipnotisnya, “Tuan apakah yang ingin anda tanyakan dan ketahui dari nyonya?” tanyanya pada Andre.
“Ah apa ya, aku tidak tahu,” sejenak Andre berpikir, “Oh ya, tanya saja apakah dia mencintaiku,” lanjutnya dengan wajah sumringah.
“Hmm… baiklah. Pertanyaan yang klasik,” jawab lelaki itu tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya pada Grace.
“Nyonya, anda akan tidur dan merasa sangat nyaman. Anda hanya akan mendengar suaraku, dan hanya akan menjawab pertanyaanku dengan jujur,” ucapnya.
Andre membelai rambut Grace dengan lembut. Dan dimulailah sebuah pertunjukkan yang membuka sebuah tabir dalam rumah tangga mereka yang baru seumur jagung itu.
------
“Nyonya, apakah anda mencintai suamimu?”
“Cinta? Aku tidak tahu,” jawab Grace, membuat Andre terperangah.
“Mengapa anda berkata begitu? Apakah itu artinya anda tidak mencintainya?”
“Entahlah, aku tidak yakin dengan diriku sendiri.”
“Hmm… baiklah, kalau begitu aku ganti pertanyaannya. Apakah menurut anda suami anda mencintai anda, nyonya?”
“Aku rasa tidak,” jawab Grace, dan jawaban ini membuat Andre benar-benar terkejut. Bagaimana bisa dia berpikir begitu, pikirnya.
Lelaki itu menatap Andre sekilas, lalu kembali menatap Grace.
“Bagaimana anda bisa berpikir kalau suami anda tidak mencintai anda, nyonya? Coba ceritakan padaku.”
Grace diam. Dia tidak berkata apapun.
“Anda tidak perlu khawatir nyonya, aku akan menjaga rahasia ini dari suamimu.”
“Hmm… Begini, aku jelaskan ya,” ucap Grace pelan, “Anda perlu tahu tuan, bagi kami perkawinan ini adalah perkawinan kedua. Istrinya meninggalkannya demi lelaki lain. Lalu kami menikah dan tinggal di rumahnya. Sudah satu tahun kami menikah. Dan apakah anda tahu tuan, di rumahnya tak ada satupun fotoku terpasang di dinding, semua masih foto istrinya yang dulu. Tempat tidur, selimut, semua masih memakai yang dulu bekas dia dengan istrinya,” Grace menghela nafas berat, kemudian dia melanjutkan, ”Di lemari di kamar kami, tak satupun bajuku tersimpan di dalamnya. Tapi baju istrinya yang dulu masih tergantung dan terlipat dengan rapi di sana. Dia juga sering bermimpi tentang istrinya yang dulu. Dan tuan, apakah ini akan meyakinkan anda dan setuju dengan pendapatku kalau dia tidak mencintaiku, di dompetnya masih terpasang fotonya dan aku yakin dia sering memandangi foto itu di kala sedang sendiri,” di sudut mata Grace keluar air bening yang perlahan turun membasahi pipinya.
“Jadi menurut anda itu menunjukkan bahwa suami anda tidak mencintai anda?”
“Ya, tentu saja!”
Lelaki itu menatap Andre cukup lama sebelum dia kembali mengarahkan pandangannya pada Grace, “Ungkapkanlah unek-unek yang ada di hati anda nyonya, aku akan mendengarkan.”
“Awalnya aku merasa keberuntungan besar berpihak padaku ketika dia menyatakan cinta dan ingin menikahiku, tapi belakangan aku menyadari bahwa dia tidak benar-benar mencintaiku tuan, dia hanya butuh aku untuk bisa menyalurkan hasrat biologisnya,” akhirnya isak Grace terdengar pelan.
“Tapi aku melihat anda dan suami anda sangat mesra, nyonya,” ucap lelaki itu.
Grace terdiam, tangannya mengusap pipinya yang basah.
“Tuan, aku telah berniat dalam hati aku tidak ingin gagal lagi untuk kedua kalinya. Aku ingin bahagia dengan perkawinan ini. jadi aku mencoba untuk tidak mau tahu dan tidak berpikir keras untuk hal ini,” jawab Grace pelan.
“Tapi nyatanya anda tidak bahagia, bukan?”
Grace terdiam dalam tangisnya.
“Sudahlah nyonya, anda tidak perlu bersedih. Percayalah bahwa suami anda sangat mencintai anda,” ucap lelaki itu dengan mata menatap tajam pada Andre.
“Nyonya, dalam hitungan tiga anda akan terbangun dan melupakan percakapan kita ini. Satu dua tiga!” lelaki itu menjentikkan jemarinya.
Grace terbangun dengan perlahan, mengusap pipi dan matanya yang agak basah. Dia menegakkan tubuhnya yang tadi bersandar di bahu Andre. Matanya menatap Andre seolah bertanya ada apa?
Andre tersenyum tipis menatap balik istrinya, “Tidak apa-apa sayang,” tangannya mengelus rambut Grace. Ada rasa bersalah di sudut hatinya.
“Minumlah nyonya,” lelaki itu menyodorkan sebotol air mineral pada Grace.
“Ayo sayang kita pulang, sudah malam,” ajak Andre setelah Grace menghabiskan minumannya.
“Terima kasih tuan atas kunjungannya. Sedikit saran dari saya perbaikilah sebelum terlambat,” ucap lelaki itu pada Andre.
Andre hanya diam. Mengenggam tangan istrinya lalu pergi keluar dari tenda setelah memasukkan selembar uang ke dalam kotak.
…
Simple Hayati
Oktober 2021