Memiliki pacar yang cuek dan bodo amat ada suka dukanya. Suka karena ternyata si dia juga cuek ke semua orang tidak hanya dirimu. Namun dukanya, kita yang berstatus sebagai pacarnya pun tak akan digubris oleh dia. Padahal sebuah hubungan juga membutuhkan perhatian, saling memperhatikan juga merupakan kunci sukses sebuah hubungan.
"Capek gue," gumam Dini mendaratkan bokongnya di kursi.
"Kenapa? Perasaan nggak ada tugas di makul ini," kata Dina, teman Dini.
"Gue capek sama sikap cueknya Danu. Hubungan gue sama dia nggak kayak orang lagi pacaran, flat banget."
"Putus aja udah," ucap Dina mengompori.
"Mulut lo minta gue tampol. Susah gue luluhin Danu, masa mau putus gitu aja."
Dina hanya mengedikkan bahu. Heran juga dengan temannya ini, sudah tahu hubungan mereka tak sehat, kenapa masih dipertahankan?
Kedongkolan Dini masih terus berlanjut hingga sepulang kuliah. Dia yang seharusnya pulang bersama dengan Danu, malah Doni yang datang. Doni adalah sahabat Danu dari SMP. Entah bagaimana mereka bisa bersahabat selama itu. Danu sosok yang kaku dan bodo amat, sememtara Doni lebih friendly. Sifat yang sangat bertolak belakang itu nyatanya bisa saling melengkapi dan persahabatan mereka awet hingga saat ini.
"Danu ke mana?" tanya Dini.
"Nggak tau gue, gue cuma disuruh dia anter lo pulang. Lo mau langsung pulang?" jawab dan tanya Doni.
"Nggak perlu, gue balik sendiri aja. Lo juga mau aja disuruh sama Danu."
"Nggak! Ayo gue anter lo pulang, gue udah janji sama tuh curut."
Akhirnya Dini pun mengalah dan ikut bersama dengan Doni. Mereka tidak langsung pulang, melainkan mampir ke sebuah cafe dekat kampus. Dini hendak membeli minuman terlebih dulu, juga dia ingin mentraktir Doni sebagai ucapan terima kasih karena telah mengantarnya pulang.
"Buat lo," ucap Dini mengulurkan satu cup berisi es kopi.
"Apa nih?"
"Ucapan makasih dari gue karena lo udah mau jadi tukang ojek. Lain kali nggak usah turutin maunya Danu."
"Gue nggak keberatan anter lo pulang, lagian rumah kita searah. Jadi gue sekalian balik."
Dini hanya mengangguk-angguk saja, tapi dia tetap memberikan es kopi itu pada Doni.
Dini tidak pernah berbicara sesantai ini bersama dengan Doni. Kejadian tempo hari membuat Dini dan Doni akrab. Ternyata Doni adalah orang yang santai dan dapat terus menyambung obrolan. Tidak pernah kehabisan topik pembicaraan.
"Kenapa Doni nggak diajak sekalian?" tanya Dini. Saat ini Danu hendak mengajak Dini makan siang di cafe dekat kampus.
"Ogah. Gue nggak mau jadi obat nyamuk. Gue balik dulu," ucap Doni.
"Ikut sekalian, Don. Gue yang bayar," kata Danu.
Doni menghentikan langkahnya dan berbalik menghampiri dua orang itu.
"Oke, gue ikut," kata Doni.
Mereka bertiga sampai di cafe yang saat ini lumayan ramai oleh para mahasiswa yang nongkrong setelah selesai kelas. Dini memilih tempat duduk yang masih tersisa. Tadinya Doni ingin memisahkan diri karena merasa tidak enak pada dua pasangan itu. Namun sayang, sudah tidak ada meja yang tersisa lagi. Akhirnya mereka bertiga duduk dalam satu meja.
"Kamu pesen apa?" tanya Dini, matanya masih terfokus pada menu yang ada di meja.
"Geprek level empat," jawab Danu yang terfokus pada ponselnya.
"Level empat? Beneran?" tanya Dini memastikan.
Danu hanya mengangguk, membuat Dini mendengus. Pacarnya ini benar-benar membuatnya gemas.
"Sana pesen, nanti gue bantu bawa pesenannya," ucap Doni menawarkan diri.
Beberapa saat kemudian, pesanan mereka telah selesai dibuat. Dini dengan dibantu Doni membawa pesanan mereka. Sementara Danu masih asyik dengan game online di ponselnya. Cowok itu baru meletakkan ponselnya saat makanannya sudah di atas meja. Setelah mencuci tangan, mereka pun menikmati makanan masing-masing. Hanya Dini dan Doni yang banyak mengobrol.
"Habis ini gue langsung balik, ya? Lo kalo mau pinjem buku gue ke rumah aja," kata Doni.
"Oke," jawab Danu singkat, dia kembali memainkan ponselnya setelah selesai makan. "Maaf, Din. Aku nggak bisa anter kamu pulang. Kamu pulang bareng Doni, ya?"
"Kamu mau ke mana?" tanya Dini mengernyitkan dahi.
"Mendadak ada urusan. Gue balik dulu, lo anterin Dini, ya?"
"Kebiasaan lo," ucap Doni mendengus.
Sementara Dini merasa kesal pada Danu. Hubungannya dengan cowok itu terasa makin renggang. Danu yang makin cuek dan hanya diam, membuat Dini berpikiran negatif.
"Jangan-jangan Danu selingkuh," gumam Dini.
"Nggak mungkin si curut selingkuh. Pacaran aja baru sama lo doang," kata Doni yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
"Eh? Beneran?"
Doni hanya mengangguk, lalu cowok itu melanjutkan makannya. Mereka berdua sedang berada di kantin kampus. Dini tidak menyangka jika ternyata dirinya adalah pacar pertama Danu.
Seusai kelas, Dini berencana menemui Danu. Dia ingin membicarakan perihal hubungan mereka, juga ingin menanyakan apa mau Danu sebenarnya. Tadi Dini sudah mengirim chat pada Danu dan cowok itu menyetujuinya. Di sini mereka sekarang, taman kampus. Duduk berdua dan suasana sekitar sepi.
"Aku mau ngomong sama kamu dulu," ucap Danu tiba-tiba.
"Ada apa?"
"Aku mau kita putus," kata Danu.
"Dan, kamu bercanda, kan?" tanya Dini tak percaya, matanya berkaca-kaca setelah mendengar perkataan Danu.
"Sejak awal hubungan ini salah. Maaf, yang sebenarnya cinta kamu itu Doni, bukan aku."
"Apa-apaan...."
"Maaf, aku yang salah. Sekarang kamu bisa terima dia. Dia yang bisa buat kamu bahagia dan merasa nyaman."
"Nggak, Dan! Aku nggak mau kayak gini. Kamu dengerin aku ngomong dulu."
"Maaf, Din."
Danu benar-benar pergi dari sana, meninggalkan Dini yang air matanya meleleh membasahi pipi.
🥀🥀🥀