Renol masuk dalam lingkaran skrimit nan rumit setelah mengenal Rosa. Perkenalannya dengan Rosa tanpa disengaja melalui medsos membuatnya seperti seorang buronan bagi Jarko alias Babeh Kumis, seorang PNS disalah satu Kabupaten di Jawa Barat. Padahal Renol tidak mengetahui sama sekali jika Rosa sudah dekat sebelumnya dengan Jarko.
Bukan cinta segi tiga, lebih tepatnya Renol menjadi tameng bagi Rosa, yang terjebak kedalam ancaman Srigala tua yang selalu mengintai gerak-geriknya tanpa rasa malu dengan usianya. Usia Rosa lebih pantas jika menjadi menantu atau anaknya bukan menjadi objek hasrat lelakinya.
Hari itu Kamis pukul 15.00 wib, tugas Renol sebagai production house di radio kelar membuat satu iklan rumah makan, Ia pun iseng-iseng membuka facbook dilayar monitornya. Pelan-pelan ia sroll kebawah, satu persatu status fesbuker dilihatnya.
“Tuhan sampe kapan derita ini berakhir,” tulis status sebuah akun. “Lebayyyy!” gerutu Renol. Adalagi status berbunyi, “Poto status lu otw mulu, utang lu ga lu aplod..!” Renol senyum-senyum sendiri membacanya. ‘Ya ada benarnya juga sih, nggak malu apa punya utang malah pamer terlihat sosialita gitu,’ gumam Renol ikut gemas.
Renol terus men-scroll nya lagi kebawah sampai terhenti pada satu foto seorang wanita cantik bermuka tirus berkulit putih terpampang dengan caption, “Seperti hidup dalam sangkar macan”.
Entah mengapa ada rasa kepo, keingin tahuannya makin menguat. Renol kemudian mencari tahu dengan meng-klik komentar-komentarnya yang tertera berjumlah 20.
"Napa dek" tulis aku bernama Jarwo.
"macan ompong bukan neng" tulis komentar Arifin.
"Sabar Ros, nanti juga capek sendiri" tulis Aki Gaul.
Entah masih banyak lagi komentar-komentar bernada seolah perhatian dan peduli. Sebagai sesama lelaki Renol paham betul kalau komen-komen itu hanyalah "modus" mereka hanya caper alias cari perhatian belaka bukàn peduli. Komentar-komentar itu 99 persen laki-laki.
Renol beranikan diri ikut menuliskan komentarnya, "Jangan takut neng, semua orang punya hak untuk memghindar ataupun menolak." Tanpa ada maksud terselubung Renol menulisnya sepontan. Menurut instingnya, wanita itu sedang bingung dalam suatu tekanan seseorang.
Tak lama kemudian terdengar bunyi "ting" dari komputernya. Rupanya suara pemberitahuan dari facebook. Renol mencoba meng-klik nya, tertera akun bernama Babeh Kumis mengomentari membalas komentar Renol, "Jangan ikut campur bro!"
Renol kaget dan sedikit tersengat amarahnya membaca balasan komentar dari seseorang yang tidak ia kenal. Nampaknya akun tersebut tidak menyukai komentar Renol.
"Apa masalahnya dengan lu bro" tulis Renol sedikit bergetar menahan emosinya.
"Saya suaminya" balas Babeh Kumis.
Renol makin tersulut amarahnya. Dia merasa tak berbuat macam-macam tetapi akun itu seperti mengancam dirinya. Bermaksud membalas lagi namun urung dilakukan karena tiba-tiba ada notifikasi daru messenger. Lalu meng-klik nya, ia baca lebih dahulu pengirimnya, "Rosa Jelita". Deg! Jantung Renol berdetak cepat, ada rasa deg-degan ia membacanya.
"Udah mas, jangan diledinin. Dia orangnya yang mengejar-ngejarku mas. padahal aku memiliki suami dan anak. Sudah biasa dia mah siapa aja lelaki yang komentar langsung dibalasnya." tulis Rosa.
Renol kemudian membalas, "Berarti dia bukan suamimu Ros.. kurang ajar betul orang itu ngaku2 suaminya neng. Tinggal menghindar saja sih," tulis Renol.
Sesaat kemudian Rosa membalas lagi, "Gak bisa mas. Dia itu orang penting di Dinasnya, kalau aku menghindar dia mengancam akan memindahkan aku dinas di desa pelosok."
Renol makin penasaran. Dinas? Apakah Rosa dan akun Babe Kumis itu ASN? Pertanyaan itu muncul diotaknya. "Aku penasaran nih Ros. Boleh ga kita ketemuan? balas Renol iseng namun penuh harap.
Bukan karena permasalahan Babeh Kumis belaka Renol ingin copi darat, melainkan mencoba memancing respon Rosa yang berwajah tirus berkulit putih itu. Jika mau ketemuan berarti bisa diajak jalan, begitu pikirnya. Ya, ada modus terselubung, ada udang dibalik rantang, begitu kira-kira.
"Kapan..?" balas Rosa.
Yessss..! Renol melonjak berdiri dari kursinya. Kemudian ia menulis balasan, kapan aja, ini nomor WA ku, 0811123☆☆☆. Tak lama Rosa pun menyahutinya dengan stiker jempol dan kata "oke". Chat pun berakhir, Renol pun bergegas mematikan komputernya lalu pulang.
*****
Sabtu, pukul 14.20 wib,
Renol sedang membereskan meja kerjanya, merapikan bebrapa lembar kertas coretan yang berserakan dimejanya ia remas-remas lalu dilemparkan ketempat sampah dibalik pintu. Karena ini akhir pekan jam kerjanya pun setengah hari kemudian setelah semuanya rapih Renol bersiap untuk pulang. Tapi baru saja hendak menyambar hapenya di meja, tiba-tiba, "Tit.. tit..!" hape yang tergeletak disisi keboard komputernya berbunyi. Renol langsung meraihnya lalu dilihat pengirimnya lebih dulu, hmmm.. nomer WA asing, siapa ya.
"Mas aku Rosa, bisa ke stasiun kereta gak sekarang. Aku duduk dibangku tunggu pakai baju dinas batik PKK" Renol tersenyum lebar sembari memainkan jempolnya membalas chat Rosa, "Okay, otw".
Sedikit tergesa Renol bergegas keluar kantor menuju motor maticnya yang terparkir di halaman samping gedung. Ia lantas menghidupkan motornya segera jalan menuju stasiun kereta api yang jaraknya hanya 10 menitan dari tempatnya bekerja, itupun jika lalu lintas tidak padat.
******
Seorang tukang parkir stasiun kereta langsung menyambut kedatangan Renol dengan lambaian telunjuknya mengarahkan tempatnya parkir. Setelah membayar kontan Rp2000 Renol bergegas masuk ke area tunggu penumpang seperti yang dikatakan Rosa.
Matanya sibuk mencari-cari wanita berseragam PKK diantara lalu lalang calon penumpang. "Yesss..! Itu dia". Tak sulit mencarinya karena kebetulan hanya ada seorang wanita yang bersergam batik PKK duduk disudut dekat dengan loket. Namun dia sedikit ragu untuk langsung menyapanya, Renol lantas mengambil hape dari saku celana dan menelpon Rosa.
Beberapa saat kemudian terlihat wanita berseragam PKK itu mengangkat telponnya.
"Halo mas, dimana" kata suara dari telpon.
"Ros, coba tengok sebelah kanan takut salah orang, hehehe.." sahut Renol.
Benar dugaan Renol, wanita berjilbab biru disudut itu lantas menoleh mencari-cari Renol. Renol langsung melambai-lambaikan tangannya menirukan Salamnya Miss Universe yang sedang tren masa itu.
Jantung Renol berdegup kencang, melihat sosok Rosa. Ternyata Rosa benar-benar cantik dengan muka tirus bekulit putih seperti yang dilihatnya di facebook. Melihat Rosa cantiknya asli, hati Renol girang bukan main, bak mendapat runtuhan durian.
Sebab kebanyakan, foto-foto yang berseliweran di media sosial hasil editan. Muka item diputih-putihkan, bahkan yang paling extrimnya lagi muka bergelombang dan berbatu dipoles jadi glowing, hayo ngaku yang merasa, hehehe...
"Hai Ros, udah lama disini?" tanya Renol basa-basi sembari mengulurkan tangannya. Rosa pun menyambut uluran tangan Renol sembari menjawab, "yah lumayan sebentar, ada 15 menitan duduk disini." sahut Rosa sembari mengambil tas yang diletakan di kursi sebelahnya. Rupanya sengaja Rosa sediakan untuk Renol agar tak diduduki orang. Pintar juga nih cewe.
Renol melirik Rosa, tepatnya mencuri-curi pandang, "Memang cantik," gumam Renol dalam hati. Otak kotornya langsung membuai angannya terbang ke langit tujuh.
Rosa memiliki bentuk mata bulat dengan bulunya yang lentik, hidungnya mungil tapi mancung serasi dengan bibirnya yang tipis dipoles lipstik merah marun makin menambah gairah Renol untuk mengenalnya lebih jauh dan mendalam.
"Eh, mas pindah yuk gak enak kelamaan duduk disini tapi nggak naik-naik kereta, tuh dari tadi diliatin terus sama Polsuska, hehehe.." kata Rosa membuyarkan Renol yang sedang terbuai dengan alam kotornya.
"i..i..iya, hayu," jawab Renol sedikit gugup. Bukan Renol namanya kalau tak bisa menguasai keadaan, lantas ia nyeletuk, "ah itu sih saking aja Polsuska nya pengen liat orang cantik," kata Renol mulai melancarkan jurus andalannya.
Cerletukan Renol direspon cubitan gemas jari lentik Rosa pada lengannya, "bisa aja. sempet-sempetnya merayu baru ketemu juga," sergah Rosa manja.
"Oh, Tuhan... Mengemaskan sekali ini cewe, kena nih, kena nih," begitu kata hati Renol mendapat respon manja Rosa.
Wanita mana sih yang nggak senang dipuji-piji. Mungkin Renol salah satu yang mengikuti anjuran Ari Lasso pada salah satu lagunya berlirik, "Sentuhlah dia tepat di hatinya, agar dia jadi milikmu." Ya, harus kita akui jurus itu memang ampuh sebagai pemikat awal kepada wanita, hehehe.. (dont try, yah).
"Kamu makan belum," tanya Renol setelah hilang gugupnya.
"Belum sih, tapi jangan makan lah ngebaso aja yuk," jawab Rosa.
"Boleh, kamu naik apa Ros kesininya," tanya Renol lagi.
"Aku bawa motor mas," jawab Rosa.
"Yah, nggak bisa boncengan dong," sahut Renol terlihat kecewa.
"uuuuuhhh, belum apa-apa udah ada maunya," ujar Rosa yang disusul ketawa-ketawa kecil keduanya penuh makna.
Keduanya lantas meninggalkan stasiun kereta menuju ke pusat jajanan yang tak jauh dari stasiun. Rosa dibiarkan berada didepan karena biasanya kaum hawa yang paling hafal baso mana yang rasanya paling enak. Walau menurut kaum adam, namanya baso rasanya pasti begitu-begitu aja dari dulu, hihihi...
Rosa memarkirkan sepeda motornya disebelah gerobak baso yang bertuliskan, Baso Tulang Tetelan Solo. Rosa langsung menuju ke tukang baso untuk memesan sedangkan Renol mengambil posisi duduk yang nyaman dipojokan.
Emang sih ya, kalau lelaki punya maksud terselubung pasti sukanya yang mojok-mojok, hehehe...
Setelah memesan, Rosa langsung menuju dimana Renol duduk. "Aneh ya, kok kita kaya temenan udah lama tapi baru ketemu lagi gitu," kata Rosa sambil duduk disebelah Renol. Renol hanya tersenyum kecil tidak meresponnya, Renol malah mengalihkan tema pembicaraan.
"Aku sih heran banget Ros, kamu masih muda kok sepertinya manut dan takut banget sama orang yang bernama Babe Kumis itu, kenapa sih," sahut Renol, tak bisa menahan rasa penasarannya yang sedari tadi mengganjal dihatinya.
"Iya mas, dia itu atasanku. Dia Kepala Dinas. Sudah punya cucu malah. Kalau aku nggak nurut, dia selalu mengancam akan memindahkan dinas ke pelosok desa yang jauh dari rumahku," tutur Rosa.
"Ngapain takut, kalau terus-terusan begitu selamanya kamu akan tertekan terus Ros. Kamu harus keluar dari cengkraman si buaya darat itu," kata Renol meyakinkan.
"Iya juga sih, tapi mau gimana lagi mas, aku stres kalau ngadepin dia. Dia tak segan-segan bertindak kasar apalagi kalau melihat aku ngobrol dengan laki-laki. Padahal suami bukan," kata Rosa terlihat gamang.
"Aku seperti penjahat diintrogasi loh mas, setelah mas ikut komentar itu. Nanya-nanya mas Renol terus. Dikiranya sudah kenal lama gitu. Katanya dia ingin ketemu kamu mas," kata Rosa bernada cemas.
"Permisi mas, mbak...," obrolan keduanya terhenti sejenak oleh tukang baso yang mengantarkan dua mangkuk pesanannya.
"Udah yuk, dimakan dulu ntar keselek baso lagi. Mendingan juga keselek basoku," seloroh nakal Renol yang memancing respon Rosa.
"Idihhh, baso cuma dua aja bangga, nih di mangkuk banyak," ujar Rosa, keduanya pun tertawa lepas.
*****
Dari pertemuannya dengan Rosa, Renol menjadi paham situasi dan kondisi yang sedang dialami Rosa. Tapi apa mungkin tanpa ada sebabnya si Babe Kumis seolah-olah merasa memiliki Rosa jika sebelumnya tak terjadi apa-apa. Minimalnya ada kedekatan atau ada yang diperbuat keduanya sehingga membuat Babe Kumis timbul cemburu buta seperti kesetanan.
"Kenapa situasi ini harus aku yang alami. Kini aku layaknya seorang buronan yang sedang dicari-cari intel saja, hihihi," gumam Renol dalam hati.
Lagi-lagi, ini tentang Utusan Tuhan Dijaman Modern, mungkin Renol orang yang diutus Tuhan dijaman modern ini untuk menyelesaikan masalah Rosa. Ya, Rosa memang sangat membutuhkan pertolongan agar dapat melepaskan diri dari cengkraman Buaya Darat. "Tapi bagaimana caranya?" Sekian lamanya Renol termenung sembari berfikir keras namun tak kunjung ketemu solusinya.
Hari ini, Rabu 17 Agustus bertepatan dengan hari Kemerdekaan RI, di alun-alun Pendopo Kabupaten sedang ramai menggelar aneka ragam perlombaan. Pesertanya dari berbagai dinas dan instansi pemerintahan yang datang dari berbagai kecamatan.
"Engkaulah bidadari surgaku... engkaulah bidadari surgaku... engkaulah..." nyanyian itu berulang-ulang terdengar dari hape Renol disaku celananya. Rupanya itu dering panggilan telponnya.
"Halo assalamualaikum Ros.." Renol mengangkat telpon.
"Halo mas, kètemu yuk mas. Kebetulan aku sedang ada kegiatan di alun-alun nih," sahut Rosa dari seberang telpon.
"Ketemu dimana," kata Renol.
"Nanti aku sherlok ya tempatnya," sahut Rosa lalu menutup telponnya.
Waduh, bakal masuk kandang macan nih, gerutu Renol. Area Pendopo sedang ada kegiatan para ASN (Aparatur Sipil Negara) pastilah si Babe Kumis juga ada disitu. Entah malaikat apa yang membantu Renol sehingga membuatnya tetap maju tak gentar meskipun dia tau akan berada di wilayah kekuasaan Babe Kumis. Apalagi dengan status Renol yang sedang dicari. Gawat!
Genderang perang sudah terlanjur ditabuh oleh Renol sendiri. Setelah berdandan dan berkaca melihat t-shirt putih serta jeans belel cukup keren, Renol bergegas mengeluarkan sepeda motornya dari dalam garasi.
"Mau kemana Ren," tanya ayahnya yang sedang menyirami tanaman di halaman depan.
"Ke Kota dulu Yah, ketemu teman," jawab Renol sambi men-starter motor metic nya.
"Yadah, hati-hati ya," kata ayahnya.
"Siap, yah.., Renol berangkat, assalamualaikum..." Renol berlalu meninggalkan rumahnya.
Butuh waktu 25 menitan menuju lokasi yang di share Rosa. Waktu tempuh itu didapatnya dari google maps yang sesekali dilihatnya sembari berkendara.
Setelah melewati lampu merah simpang lima, Renol melajukan motornya belok ke jalur paling kanan sedikit memutari bunderan yang ada patung tiga mangga tersebut. "Udah dekat ning, 5 menitan lagi," kata Renol dalam hati setelah melihat google maps di hapenya.
Tak lama kemudian Renol menepikan motornya mengikuti perintah Google Maps karena sudah sampai lokasi tujuan. Sebuah rumah makan sederhana dengan konsep pedesaan terlihat didepannya. Ia pun meluncur menuju parkiran.
Baru saja Reno hendak menelpon Rosa, sebuah suara terdengar memanaggil namanya dari sebuah saung yang terletak disudut sebelah kirinya.
Emang ya, salah satu cirinya orang sedang kasmaran itu selalu memilih tempat yang pojok-pojok. Nggak Renol, nggak juga Rosa, keduanya memang saling berhasrat, hehehhe...
"Mas Renol mau makan apa, ada nasi goreng ikan bakar, sop, ayam goo..." tawaran Rosa terhenti.
"Nasi goreng aja Ros, simpel dan biar cepat, hehehe.." ujar Renol sembari menempelkan telunjuknya ke bibir Rosa.
Pipi Rosa langsung merona merah diperlakukan begitu oleh Renol. Renol tau kalau perlakuannya itu membuat Rosa senang, lantas ia pun meraih jemari Rosa. Digenggamnya erat, "kamu cantik banget hari ini Ros," ucap Renol lembut.
Biasa jurus mematikan kaum buaya darat sedang dilancarkan Renol, nih. Diusap-usapnya punggung telapak tangan Rosa dengan penuh kasih sayang. Ada desiran nikmat dirasakan Reno manakala mengusap tangan Rosa.
Rosa hanya tersipu dan menundukan kepalanya. Entah sedang menahan gejolak pergulatan antara berdosa pada suaminya ataukah sedang menikmati sentuhan Renol.
Keduanya sama-sama terhanyut kedalam perasaannya masing-masing. Tiba-tiba romantisme itu buyar seketika oleh dering telpon milik Rosa.
"Ssssttt...! Babeh Kumis.." kata Rosa ngasih kode kepada Renol sebelum mengangkat telponnya.
Deg..! Jantung Renol serasa mendadak berhenti berdetak mendengan nama Babeh Kumis menelpon Rosa. Sedikit ciut juga nyali Renol, ia terlihat gugup padahal hanya sekedar menelpon. Firasatnya mengatakan, bakal kejadian nggak beres nih.
"Aku lagi makan pak, sebentar.." kata Rosa menjawab suara dari telpon.
"Iya, iya nanti aku kesana pak.." ujar Rosa yang langsung menutup telponnya.
"Babeh Kumis nyari-nyari aku mas. Tapi biarin aja lah..," kata Rosa menenangkan Renol. Rupanya Rosa tau Renol kelihatan gugup dan cemas.
Suasana tegang pun berangsur mereda setelah pesanan dua porsi nasi goreng datang.
"Yuk makan mas, udah jangan dipikirin. Tapi mas," ucapan Rosa terhenti, dia terlihat mendadak cemas.
"Tapi apa Ros..!" sela Renol penuh penasaran.
"Dia tau tempat ini.." ujar Rosa seperti baru tersadar dari mimpinya.
Detak jantung Reno kian kencang, "benar firasatku, bakal terjadi sesuatu nih.." kata Reno dalam hati.
"Udah, udah sekarang cepet kita makan terus pergi mas," kata Rosa mengingatkan.
Beberapa saat keduanya terdiam. Merasakan kecamuk gundah gulana yang ada di hatinya masing-masing. Reno membayangkan apa yang bakal terjadi jika Babe Kumis bemar-benar datang.
Ternyata Rosa pun berfikiran sama seperti Renol. Ia khawatir Renol diapa-apakan sama Babeh Kumis karena ia tau persis karakternya yang kasar.
Nasi goreng dipiring Reno dan Rosa baru sepermpatnya disantap, tiba-tiba terdengar suara knalpot motor sport nampak sengaja diraung-raungkan dihalaman parkir. Alhasil, semua pengunjung rumah makan itu menoleh tertuju pada sumber suara.
"Gawat..!" Pekik Rosa.
"Babeh Kumis..?!" Sahut Renol tersentak.
"Udah, mas Renol disini aja biar aku kesana menemui Babeh Kumis," kata Rosa menenangkan.
Rosa lantas beranjak dan bergegas menghampiri seorang lelaki diatas motor sport diarea parkir. Lelaki itu berbadan tinggi besar dengan perut buncit dan kumis tebal dengan muka nampak marah, matanya menatap tajam langkah demi langkah Rosa yang sedang menuju kearahnya.
Tanpa basa-basi, lelaki bernama Babeh Kumis itu dengan kasarnya menarik tangan Rosa saat mendekat, "Ngapain sih kamu! Disana lagi ada kegiatan malah enak-enakkan disini..! Hardik Babeh Kumis penuh amarah.
Renol tertegun melihat Rosa diperlakukan kasar oleh lelaki itu. Sifat laki-lakiannya tiba-tiba timbul dan ingin cepat-cepay membawa Rosa lari dari tempat itu, tapi bagaimana caranya..?!
"Mana teman lakimu..!" Hardik Babeh Kumis.
"Teman laki siapa? Aku sendirian pak!" teriak Rosa yang mulai menangis.
Renol sudah tak tahan lagi melihat Rosa sampai menangis. Hatinya mula berontak tak peduli badannya lebih kecil dari badan Babeh Kumis. Dia lekas beranjak dari tempat duduknya bermaksud melerai.
"Sudah pak, Rosa hanya makan disini! Apa itu salah?!" bentak Renol.
"Oh, kamu teman lakinya iya?!!" Hardik Babeh Kumis, yang langsung merangsak bermaksud menghampiri Renol. Tapi langkahnya terhalang oleh cegahan Rosa yang berdiri diantara keduanya.
Renol terlihat sudah bersiap dengan kuda-kudanya menerima serangan Babeh Kumis. Rasa takutnya sudah hilang, berganti keberanian bak Ksatria pembela kebenaran.
"Renol, cepat pergi! Jangan ladenin dia..!" Teriak Rosa diiringi tangisannya.
Rosa terus menghalangi Babeh Kumis yang berusaha merangsak kearah Renol. Renol masih tertegun gamang, apakah meladeni Babeh Kumis atau menuruti permintaan Rosa untuk pergi.
Sementara itu para tamu rumah makan nampak pada mulai mendekat mencoba ikut melerai pertikain itu.
Renol memutuskan menuruti permintaan Rosa agar situasinya tak berlarut-larut. Dia berjalan santai menuju sepeda motornya dan menstaternya, sejenak ia menatap Rosa yang terus mengibas-ngibaskan tangannya meminta Renol cepat-cepat pergi.
Nampak ekspresi tak tega dari raut wajah Renol ketika pergi meninggalkan Rosa masih dalam cengkraman Buaya Darat tersebut. Renol berlalu meninggalkan sejuta perasaan yang tak menentu.
"Entah apa yang terjadi pada diri Rosa, semoga Rosa baik-baik saja," gumam Reno dalam hati.
****
Keesokan harinya, begitu sampai di meja kerjanya, Renol langsung membuka facebook di komputernya. Dia cari akun bernama Babeh Kumis, setelah ketemu langsung memblokirnya.
Pasti dia akan mencari tahu leberadaannya, begitu pikir Renol. Rupanya hubungan batin dengan Rosa sudah terpaut, baru saja Renol memikirkannya, Rosa menelponnya.
"Halo, Ros.. Kamu nggak papa kemarin..?" Tanya Renol Cemas.
"Gak papa mas, cuma dimarahi habis-habisan.. Sahut Rosa pelan. "Dia penasaran sekali dengan kamu mas, sedang mencari tau keberadaanmu. Dia tanya kamu orang mana, aku jawab kalau kamu kuliah di Jakarta. Orangnya jarang ada disini." Kata Rosa diseberang telpon.
"Terus aku haris gimana Ros," tanya Renol.
"Udah tenang aja, gak bakal ketemu meski dia meminta bantuan temennya yang Reserse juga. Senin depan aku pindah dinasnya mas," kata Rosa.
"Di pelosok? gila juga buaya darat itu ya Ros," ujar Renol menimpali.
"Gak papa mas, yang penting nantinya nggak lagi berkomunikasi langsung soal kedinasan dengan dia. Benar kata mas Renol, harus siap beresiko kalau ingin lepas dari cengkramannya. Makasih ya mas, sekaligus aku meminta maaf atas keterlibatan mas Renol," kata Rosa mengakhiri telponnya.
Disadari atau tidak, Renol menjadi orang yang "Diutus Tuhan" untuk mengakhiri penderitaan Rosa. Bertahun-tahun Rosa hidup dihantui sosok monster kasar yang mengekang kehidupannya tanpa mampu melawannya sendirian.
Mungkin saja tanpa adanya peristiwa yang melibatkan Renol, kondisi Rosa takan pernah berubah dan terlepas dari "Cengkraman Buaya Darat" sampai sekarang.
*********