"Gongjunim! Gongjunim."
Beberapa asisten kerajaan memanggilku. Ya-- pagi ini aku ingin melarikan diri dari istana. Semua gara-gara ayahku. Kaisar ingin menjodohkan aku dengan pria pilihannya. Siapa? Bahkan aku tak mengenalnya. Oleh sebab itu, aku lebih memilih kabur dari istana.
Aku berlari melewati istana barat, sebelum keluar dari pintu gerbang barat. Melewati beberapa pengawal kerajaan yang terbengong melihatku berlari dengan menjinjing gaun panjangku.
Aku terus berlari menuju pepohonan yang rimbun sambil menoleh, melihat seberapa jauh gerombolan dayang itu mengejarku. Tapi naas, aku tersandung sebuah batu dan tanpa sengaja tercebur ke dalam danau.
Air danau itu tenang, namun terasa sangat dingin. Dengan segera kakiku tak merasakan apapun. Kram! Aku melambaikan tanganku meminta bantuan. Namun mereka terlalu jauh untuk dapat melihatku. Dan aku tenggelam begitu saja tanpa berdaya.
Aku merasa pasrah, tak ada lagi yang bisa kulakukan. Bahkan badanku tak dapat kugerakkan karena air yang begitu dingin menusuk ke tulang.
Namun tiba-tiba sebuah tangan yang kuat menggapai pinggangku dan menarikku ke atas permukaan air.
"Ah!!" Aku masih dapat mendengar napasnya ketika menyeret tubuhku ke pinggir danau. Ia menekan dadaku berkali-kali hingga aku terbatuk dan memuntahkan air.
"Apa kau gila? Kenapa kau melompat begitu saja!" Pria itu menegurku.
Aku melihat sekelilingku. Mengapa hutan ini berubah menjadi begitu ramai. Dan begitu banyak kendaraan dengan lampu berwarna merah yang berkedip di jalanan. Mengapa baju mereka berbeda.
Semuanya terlihat membingungkan.
"Dimana aku?" tanyaku pada pria berseragam yang menyelamatkan aku. Pria itu membalut tubuhku dengan selembar handuk.
Pria itu tertawa. "Jembatan Mapo. Kau ingin bunuh diri? Nona, sadarlah. Hidup terlalu indah untuk kau akhiri dengan cepat."
"Bagaimana bisa aku ada ditempat ini?" Aku benar-benar heran.
"Rumahmu dimana, Nona? Biar aku antar pulang." Pria berseragam itu membimbingku ke mobilnya.
Sebuah mobil dengan lampu berkedip di atasnya. Dia menarik tali mobilnya untuk mengikatku. Benar-benar aneh. Apa dikiranya aku akan kabur ketika dalam perjalanan pulang nanti. Sudahlah... aku sudah pasrah seandainya ayah akan menikahkanku dengan pemuda jelek idiot ataupun seorang tua yang berbau.
"Rumahmu dimana, Nona?"
"Istana." Aku menjawab singkat. Tak mungkin dia akan salah mengantarku karena hanya ada satu istana di negara ini.
Tapi mata pria itu membulat. "Nona, ini tidak lucu. Tak ada seorangpun yang tinggal di istana saat ini."
"Tapi ayahku mencariku. Pasti dia sedang menghukum para dayang karena ulahku." Aku menyesali diri.
Keanehan lain kurasakan, mengapa ada jalanan seperti ini di kerajaan? Gedung tinggi dan sebuah layar bergambar. Aku mengeluarkan kepalaku dari mobil, menikmati suasana hiruk pikuk yang tak pernah aku rasakan.
"Nona, jangan bertindak bodoh. Masuklah." Pria itu tampak begitu gugup. Aku mengalah dan kembali menutup jendela. Semuanya begitu aneh.
Aku mengalah dan masuk kembali ke dalam lalu menutup kaca jendela kendaraan itu. "Lalu kau akan mengantarku kemana? Sebaiknya kita kembali ke Sungai Han. Aku rasa hanya itu jalanku untuk kembali pulang."
Pria itu mengikuti keinginanku. "Nona, berhentilah bertingkah aneh. Melompat dari jembatan, mengatakan bahwa kau seoramg puteri dan tinggal di istana. Jika.semua ini didengar oleh orang lain, mereka akan mengiramu gila dan mengurungmu di rumah sakit jiwa."
"Seonsaengnim!" panggilku. "Gyeongchal. Apa itu seperti pengawal kerajaan?"
"Bisa juga seperti itu." Pria itu menghentikan kendaraannya di pinggiran sungai Han. Sungai yang malam itu terlihat indah dengan penerangan lampu sorotnya.
"Aku terbiasa menyeleksi calon pengawal kerajaan. Aku akan melihat apakah kau cocok dengan pekerjaanmu ini." Aku mendekatkan wajahku menatap sepasang iris berwarna coklat gelap di hadapanku. Entah kenapa terasa debaran di dalam jantungku. Debaran yang tak pernah aku alami sepanjang hidupku. Pria itu membuang wajahnya.
"Seonsaengnim, siapa namamu?" tanyaku.
"Taechyun. Lee Taechyun." Pria bermarga Lee itu kini kembali menatapku. Pandangan tajam dari kedua iris berwarna coklat gelap yang membuat sebuah irama yang gaduh di jantungku. Dan tanpa kusadari, kedua bibir kami pun bertautan.
Sebuah letusan kembang api di atas Sungai Han menyadarkan kami. Aku membuka pintu kendaraannya.
"Saatnya aku kembali pulang. Apa kau akan pulang bersamaku?" Aku tersenyum padanya sebelum berlari semakin menjauh mendekati Sungai Han.
Pria itu mengejarku. Ia terus mengkutiku tanpa rasa takut. "Nona, siapa namamu?" Itulah kalimat terakhirnya yang sempat kudengar sebelum ketenangan dan rasa dingin air Sungai Han ini menarikku ke dasarnya. Kegelapan yang pekat aku rasakan dan paru-paruku terasa akan meledak.
Lagi-lagi seseorang menarik tubuhku kembali ke darat. Ia meletakkan tubuhku di rerumputan sebelum menekan rongga dadaku. Beberapa kali aku rasakan dia meniupkan udara ke dalam mulutku.
Aku terbatuk dan mulai membuka sepasang mataku. Hutan! Aku melihat hijaunya Hutan negeriku. Aku berhasil pulang. Dan pria di hadapanku, Taechyun kembali menolongku. Dia mengikutiku hingga ke duniaku berada.
"Gongjunim! Gongjunim."
Aku kembali mendengar beberapa dayang dan pengawal kerajaan memanggilku. Mereka berlari mendekat ketika melihatku. Dengan tatapan aneh yang tertuju pada Taechyun-ku.
Tanpa ragu, aku mengamit lengan Taechyun dan mengajaknya masuk kembali ke pintu gerbang istana barat.
"Gongjunim, ayah anda sedang cemas mencari anda. Sebaiknya anda bergegas menemuinya." Seorang dayang menyampaikan pesan setelah menunduk hormat di depanku.
Aku berjalan menuju kediaman ayah. Aku rasa menurut kebiasaannya, sore ini ia sedang minum teh herbal di kamarnya. Semoga tamunya sudah pergi. Tapi biarlah, seandainya sang tamu masih ada, aku telah bersama Taechyun. Seandainya ayah menolak Taechyun, aku akan meninggalkan kerajaan bersamanya.
Memasuki kediaman ayah, aku melihatnya sedang bercakap dengan seorang tamunya. Mereka sedang menikmati jamuan teh herbal dan beberapa makanan kecil di atas mejanya.
"Aboeji," sapaku sambil membungkuk hormat layaknya diajarkan oleh guru tata krama istana sejak masa aku kecil.
Ayahku menatap kami berdua, "Kau menghilang sejak pagi. Apa kau berniat untuk kabur dari istana lagi?"
"Aboeji, aku tak akan kabur dari istana lagi. Aku sudah menemukan pria yang kusukai. Taechyun. Lee Taechyun. Seorang pria yang menyelamatkanku dari air." Aku membungkuk sekali lagi sebelum menatap wajah pria yang telah membesarkanku dengan penuh kasih.
Pria itu tertawa. Terdengar lebih mirip suatu rasa bangga dalam hatinya. "Bagus anakku. Kau mempunyai suatu pendirian yang kuat. Aku bangga padamu. Dan kurasa sudah saatnya semua kekuasaan ini kuserahkan padamu. Aboeji sudah terlalu tua."
"Han SoRa, menikahlah dan jadilah pemimpin yang baik," lanjut ayahku.
Aku tak pernah menyangka semuanya akan semudah ini. Mendapatkan seorang suami dari negeri antah berantah yang dengan beraninya menyusulku ke negeriku. Dan restu yang dengan mudahnya kuterima dari ayahku.
Banyak orang mengatakan bahwa Jembatan Mapo adalah jembatan keputusasaan, tempat banyak orang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Namun bagiku tempat indah itu adalah saksi bagi kami, awal pertemuan dan tentang indahnya kisah cinta dua dunia.
Kisah cinta dari tepian Sungai Han.
Lee Taechyun 💕 Han SoRa
사랑 해요
salang haeyo