Hana punya stereotip kalau orang yang mempunyai tato itu preman, jahat. Pokoknya yang buruk-buruk. Karena itu ia selalu menjauhi pria bertato.
Ada pria yang bernama Joshua yang berusaha mendekati Hana. Tetapi Hana selalu menolaknya mentah-mentah. Karena Hana benci pria bertato.
Saat ada rekan kerjanya yang juga menyukainya, Hana menerimanya. Karena ia tidak bertato.
Mereka dekat dan dekat. Pria itu ingin "menyentuh" Hana. Tapi Hana menolaknya.
"Sebelum kita melakukannya, kita harus menikah dulu."
Hana sudah sering mendengar cerita tentang wanita yang dicampakkan begitu saja setelah melakukannya. Hana tak ingin hal itu terjadi padanya.
Tetapi Kevin, kekasih Hana tidak kurang akal. Ia menaruh obat tidur di minuman Hana. Ia lalu menuntun Hana menuju hotel dengan maksud jahat.
Joshua yang selalu mengawasi Hana dari kejauhan melihat gelagat tidak baik dari Kevin.
Ia langsung memukul Kevin dan membawa Hana.
Joshua membawa Hana ke rumahnya karena tidak mungkin ia membawa Hana kembali ke rumah Hana dalam keadaan tidur. Bisa-bisa ia dipukul orang satu kampung.
Ia meletakkan Hana di ranjangnya. Menyelimutinya. Joshua sendiri tidur di sofa di ruang tamu.
Hana terbangun dan terkejut melihat ia bangun di kamar yang asing baginya. Ia berusaha mengingat kejadian kemarin malam.
Kemarin aku begitu mengantuk lalu Kevin membawaku ke hotel. Hotel?
Hana tahu Kevin merencanakan sesuatu yang buruk.
Tapi siapa yang menolongku?
Hana keluar dari kamar. Ia melihat Joshua yang sedang melakukan push up di lantai.
"Kau sudah bangun? Kalau lapar, ada makanan di meja."
Hana menuju ke meja makan. Ia memakan sup hangat buatan Joshua.
Hati Hana ikut menjadi hangat. Ia melihat ke arah Joshua.
Josh ...
Ternyata kau tidak seburuk yang ku kira.
Bahkan kau jauh lebih baik dari Kevin yang ku anggap bagai malaikat itu.
Hana mendekati Joshua dan berkata "Terima kasih ..."
"Terima kasih aja? Kurang ..."
"Kau mau apa?"
"Ciuman ..." Joshua hanya bercanda. Ia tau Hana sangat tidak mungkin menciumnya.
"Cup ..." Satu kecupan dari Hana mendarat di pipi Joshua.