"Hope World" adalah sebuah buku diary milik ku, yang berisi tentang berbagai harapan yang aku inginkan. aku memiliki mimpi sebagai seorang Penulis. Tentu saja karena aku menyukai membaca novel, komik dan sebagainya. Aku juga menyukai belajar, tetapi tidak terlalu suka dengan pelajaran sastra, meski begitu aku cukup unggul di bidang tersebut.
Aku tidak terlalu menyukai bercerita atau curhat tentang diriku pada orang lain. Aku memilih untuk mengutarakan perasaan ku pada buku diary ku itu.
Suatu hari...
Aku menulis sebuah keinginan yang mungkin sangat umum bagi semua orang, tetapi ini adalah pengalaman pertama dan pertama kalinya aku memikirkan hal tersebut, yaitu "cinta". Di usia ku yang sudah 17 tahun, aku belum pernah membayangkan bagaimana cinta itu ada, bagaimana rasanya, bagaimana suasananya dan bagaimana tindakannya. Dan saat itu, untuk pertama kalinya aku memikirkannya dan menulisnya pada sebuah buku diary ku.
"Suatu hari aku bermimpi bertemu seseorang, yang mungkin hanya ada dalam haluan ku saja. Dan setelah mimpi itu berakhir aku bertemu seseorang yang tidak asing bagi ku, namun aku juga tak mengenalanya. Aku juga merasa ambigu melihat pria itu, dan tanpa sadar aku menatapnya karena penasaran. Setelah sekian lama menatapnya, aku tau mengapa perasaan ku menjadi ambigu setelah melihatnya, dia adalah pria yang di mimpiku. Aku semakin bingung di buatnya padahal aku benar-benar yakin dia adalah pria yang ada di mimpiku. Tetap kali ini aku benar-benar sadar, aku tidak sedang bermimpi seperti kejadian sebelumnya.
Keesokan harinya aku bertemu dengannya lagi di sekolah, ada urusan apa dia di sekolahku, tentu saja aku tidak tau dan tidak mau tau. Aku menghitung hari ini adalah hari pertama pertemuan kami.
Di hari pertama pertemuan aku dan dia .Dia tersenyum padaku dan menyapa lalu mendekatiku, aku hanya menbalasnya dengan senyum singkat padanya. usianya kira-kira mungkin lebih dewasa dariku.
Di Pertemuan kedua, dia mengetahui namaku padahal aku tidak pernah mengatakan apapun padanya.
Pertemuan ke tiga dia terus menggangguku dan terus mengikuti ku. Tentu saja aku merasa risih, tapi feeling ku mengatakan dia tidak memiliki niat buruk padaku. Tapi alasan mengapa dia terus mengikuti ku itu, tentu saja aku tidak tau.
Namun justru aku jadi merasa heran padanya, mengapa dia terus mengganguku dan mendekati ku?.
Karena aku merasa dia semakin mengganggu ku aku jadi bertanya apa alasannya selalu mengikuti ku itu. Lalu dia menjawab "aku menyukai mu"
Itu adalah pernyataan yang tidak terfikirkan dan terbayangkan oleh ku. Bagaimana bisa seorang pria yang memiliki kulit seputih salju, senyum semanis gula, imut seperti kucing, dan tinggi semampai menyukai ku?. Pria yang sesempurna ini menyukai kutu buku seperti ku itu rasanya tidak mungkin. Apa aku belum sadar dalam mimpiku atau karena saat di hari pertama kami bertemu aku menatapnya, jadi dia berpikir aku menyukainya.
Namun setelah hari itu aku menghindarinya karena aku tidak mau menganggap pernyataan itu serius. Aku juga tidak ingin suatu hubungan terjadi antara aku dan dia, karena rasanya sungguh tidak mungkin.
Namun semakin aku menghindarinya semakin dia berusaha untuk terus mendekatiku. Dia selalu menggangguku, marah ketika aku terluka dan sedih. cemburu saat aku bersama atau memperhatikan pria lain. melindungiku saat ada orang yang berniat buruk padaku. Meski aku berterus terang mengatakan aku terganggu oleh sikapnya dan menolak perasaanya, dia tetap tidak menyerah, dia malah semakin menggangguku dan mengatakan "aku tetap menyukaimu".
aku tidak mengerti apa yang ada di pikirannya. Tapi satu hal yang pasti, dia adalah jodoh yang aku inginkan. Alasannya karena aku adalah gadis yang lebih suka diperjuangkan dari pada memperjuangkan, dikejar, dan tidak peka. Dan jika pria itu tidak berusaha sampai aku menyukainya mungkin sampai tua atau mati sekali pun aku tidak akan bisa memiliki pasangan, karena hidupku hanya berkutat pada buku. Aku juga terlalu acuh pada dunia luar, khususnya pencintaan dan pergaulan. Mungkin sebutan untuk diriku adalah gadis kuper.
Aku pernah membayangkan sebuah kisah cinta yang manis seperti di novel dan pria yang sempurna seperti di komik. Tapi untuk mendapatkan kisah cinta seperti di novel itu mungkin mustahil, dan memiliki pria yang tampan seperti di komik juga mungkin mustahil. Tetapi saat bertemu dengannya, semua itu bagaikan sebuah keajaiban. Tetapi aku takut perasaan yang dia berikan padaku itu palsu.
Keesokan harinya aku menerima perasaannya dengan ragu. Selama berhari-hari kami jalani sebagai setatus sebelah. Dia menganggap sebagai kekasihnya tetapi aku ragu, teman bukan dan pacar pun bukan. aku hanya menjalaninya sebagai mana arus membawa hubungan kami.
Tak lama kemudian aku menyadari satu hal besar. Hatiku terkunci untuknya, karena aku memiliki pria idaman lain, lalu aku mengatakan padanya. Seorang pria yang humoris, bebas dan ceria adalah tipeku. Sedangkan dia adalah pria yang cool, seperti tokoh utama dalam novel romantis.
Suatu hari dia pergi dengan perasaan yang lelah dan kecewa. Namun di sisi lain aku juga merasa sedikit lega karena aku tidak perlu berbohong dan menyembunyikan perasaan ku lagi. Tapi anehnya setelah dia pergi perasaan ku berubah menjadi perasaan bersalah, bukannya perasaan yang bebas seperti yang aku inginkan. Meski aku tidak menyukainya, apakah aku pantas mengatakan bahwa aku memiliki pria idaman lain padanya?.
Perasaan bersalah itu terus menghantuiku, sejak hubungan kami berakhir dan dia tidak pernah muncul di hadapanku lagi. Dan aku menutuskan untuk mencarinya. Meski kami pernah memiliki hubungan, ternyata aku memang terlalu acuh. Aku bahkan tidak tau apa-apa tentangnya, bahkan aku melupakan hal yang sangat sepele, yaitu namanya. Jika namanya saja aku tidak ingat bagaimana aku akan mencarinya.
Seakan dia mendengar suara hatiku, dia datang entah dari mana. Dia terlihat sedih dan murung, aku mendekatinya dan meminta maaf.
"Maaf atas segalanya." Kata ku, sambil memandang dirinya yang duduk tertunduk di kursi taman.
Dia mendongak dan menatap dalam mataku. Dia tidak membalas permintaan maafku dan malah mengatakan.
"Aku tetap menyukaimu." dengan mata yang berkaca-kaca seakan akan menangis.
Dia terlihat begitu menyedihkan tetapi kejadian ini terlalu dramatis jika memang terjadi pada kehidupan nyata. Oleh sebab itu aku tidak bisa menyukainya karena hal ini hanya terjadi di buku harian "Hope World" milikku saja.