Sebuah percobaan di laboratorium ayahku mengalami kegagalan. Ayah memintaku untuk segera datang menolongnya memperbaiki beberapa bagian elektrical yang merupakan basic pendidikanku.
Tahun 2237, tempatku hidup saat ini. Dunia yang serba modern dan semuanya otomatis. Aku segera berlari ke sebuah panel, tempatku biasa melakukan teleportasi menuju ke laboratorium ayah.
"Mr. Patrick. Nathalie sudah tiba!" seru asistennya menyambutku yang turun dari panel. Semua yang hadir di dalam lab terlihat panik. Termasuk ayahku. Suara sirine peringatan berbunyi dengan nyaring.
Tanpa banyak bicara, aku segera mencoba memperbaiki segala kekacauan yang ada. Aku mencoba mematikan sistem. Namun celaka. sistem otomatis telah terkunci. Aku menjadi panik.
"Daddy, aku akan mengambil jalan pintas. Bersiaplah akan kemungkinan terburuk yang terjadi."
Aku melihat ayahku terakhir kalinya. Dia melambaikan tangannya, mencoba untuk melarangku melakukan usaha terakhirku. "No! Nathalie, no!"
Aku mencabut kelistrikan yang mengaliri seluruh mesin di ruangan itu. Namun setelah itu semuanya menjadi gelap dan tiba-tiba saja tubuhku seperti berputar-putar di sebuah black hole yang menyedotku entah kemana.
Aku terbangun di sebuah tempat hijau yang luas. Karena aku tak mengenal tempat ini, baiklah ku sebut antah berantah. Sebuah negeri yang indah, dengan banyak pohon dan rumput yang hijau.
Dengan bahagia aku melangkah di atas rerumputan yang empuk di bawahku. Hingga aku menginjak sebuah genangan air, dan tubuhku terlempar jauh.
Saat aku tersadar, aku melihat seseorang. Mirip seperti ayahku, dengan pakaian yang terlihat aneh. Tipis dan tak modis sama sekali.
"Kau sudah sadar?" tanyanya sambil tersenyum padaku. Ruangan yang kecil dan hangat dengan perangkat kuno yang pernah kulihat di musium saat aku masih sangat kecil.
Aku mencoba mengangkat tubuhku. "Dimana aku?"
"Kau aman. Kau ada di rumahku," jawab pria itu dengan ramah.
Aku menatap sekeliling ruangan itu. Sebuah lemari kayu, sebuah meja dan kursi yang terlihat antik. Dan
astaga, apakah aku tak salah melihatnya. Kalender itu menyatakan bahwa sekarang aku berada di tahun 2010!
"Tahun berapa sekarang?" tanyaku memastikan.
Pria itu terlihat bingung dengan pertanyaanku. "2010. Ada yang salah? 1 Juni 2010."
"Dan bagaimana caraku kembali ke duniaku?" Pertanyaan yang membuat pria itu tertegun.
"Duniamu?"
"Seharusnya saat ini adalah tahun 2237. Aku lahir pada 5 Oktober 2220. Saat pembukaan wisata ke Mars pertama kali diluncurkan," sahutku.
Pria itu semakin tercengang. Ia berdiri dan menyentuh keningku. Wajahnya terlihat keheranan.
"Tapi kau tidak apa-apa. Kenapa perkataanmu sangat aneh?" tanyanya.
"Aneh? Mengapa aku aneh?"
"Sebaiknya kau tak mengatakan apapun kecuali kau ingin dimasukkan ke rumah sakit jiwa," katanya lirih.
"Apa itu rumah sakit jiwa?" tanyaku.
"Tempat orang-orang yang mengalami gangguan mentalnya," jelas pria itu.
"Astaga. Di duniaku sudah tak ada orang yang menderita seperti itu. Semua sudah dapat disembuhkan dengan sistem hipno. Mesin itu diketemukan pada awal tahun 2200," sahutku.
"Stop. Jangan katakan tentang negerimu, berlakulah layaknya manusia normal. Siapa namamu?" tanyanya.
"Nathalie." Aku mengulurkan tanganku. Pria itu membalasnya dengan senyuman di bibirnya. "Ethan," jawabnya.
Aku turun dari ranjang dan duduk berhadapan dengan pria bernama Ethan. Pria bermata coklat gelap dengan kulit yang bersih dan tubuh yang tinggi kekar.
"Jadi bagaimana cara aku kembali pulang, Ethan? Apa kalian punya alat untukku berteleport?"
Ethan tertawa. "Tidak ada semacam itu di sini. Kami selalu menggunakan motor atau mobil untuk bepergian."
"Jadi, apa aku tak akan bisa kembali pulang?"
Ethan mengangkat bahunya. Mungkin dia sedang berada di antara percaya atau tidak percaya padaku. Namun aku rasa dia adalah pria baik. Ya, dia bahkan tak ingin aku masuk ke rumah sakit jiwa dengan menceritakan tentang negeriku kepada semua orang.
"Apa kau ingin melihat sekeliling? Aku bisa mengantarmu dengan motorku," kata Ethan.
Sebuah tawaran yang menggiurkan. Setidaknya aku ingin tahu, negeri seperti apa yang akan kutinggali sekarang.
Ethan ternyata adalah seorang pengemudi motor yang handal. Aku benar-benar menikmati perjalanan yang menegangkan ini.
"Kau harus mengganti pakaianmu seperti wanita kebanyakan," teriaknya dari balik helm teropongnya. Dan tak lama, ia memarkir motornya di sebuah toko baju.
Beberapa pramuniaga terkikik melihat gaya pakaianku. Tapi ah-- sudahlah. Memang aku berada di tempat dan waktu yang salah. Ethan mengambil beberapa pakaian dan menyodorkannya padaku.
"Pakailah." Di dorongnya badanku masuk ke sebuah kamar berukuran 1,5 m x 1,5 m dengan cermin di ketiga sisinya.
🌵🌵🌵
Wajah Ethan terlihat aneh ketika aku melangkah keluar dari kamar yang sempit itu. Pandangan matanya benar-benar membuatku risih.
Ia segera membayar belanjaanku dan mengajakku keluar dari tempat itu. Beberapa orang yang berpapasan denganku juga menatapku dengan pandangan aneh. Ah-- sudahlah.
Ethan memacu kembali motor besarnya. Kali ini dia membawaku ke suatu tempat yang indah, hijau dengan banyak pohon dan bunga. Tempat yang begitu indah dan tak pernah kulihat di negeriku.
Aku tersenyum, rasanya sangat bahagia. Aku lepas sepatuku dan merasakan dinginnya rerumputan yang menempel di telapak kakiku. Seekor hewan dengan sayap mengepak seperti burung.
Aku menoleh pada Ethan yang terlihat gugup karena bertatapan secara tiba-tiba denganku. "Dia seekor burung? Cantik sekali."
"Kupu-kupu. Kami menyebutnya kupu-kupu."
Ethan berjalan mendekatiku. "Dia sangat cantik, secantik dirimu, Nath."
"Apa aku secantik itu? Ah-- kau bisa saja." Aku tertawa. Rasanya terlalu berlebihan jika dia membandingkan aku dengan hewan secantik itu.
Tapi tiba-tiba Ethan memegang kedua tanganku. Tatapan matanya terlihat serius dan hanya tertuju padaku.
"Nath, aku harap kau tak pernah kembali pulang. Tinggallah di sisiku, bersamaku selamanya. Jadilah istriku, ibu dari anak-anak kita."
Perlahan-lahan pria itu mendekatkan wajahnya padaku. Dan tak terasa bibir kami bertautan. Sebuah getar perasaan tiba-tiba muncul dalam hatiku.
Mungkinkah adalah takdir bagiku untuk terdampar di negeri antah berantah ini hanya karena dia. Seorang jodoh yang harus aku temui. Asmaraloka yang indah telah kutemukan dan harus kujalani.
Pertemuan dan pertautan dua hati yang tak dapat di pisahkan dengan jarak dan waktu. Jika takdir telah berkata, dan tali jodoh telah terikat maka semuanya akan terjadi begitu saja.