"Pemenangnya adalah Kujo-sama!" seru sang Dealer.
Gadis berambut panjang gelombang hitam yang sudah tidak memiliki apapun itu, hanya menggertakkan gigi sambil mengepalkan tangan. Semuanya sudah dipertaruhkan, uang saku selama setahun habis dalam sekejap, karena kalah taruhan dalam game judi. Ya, gadis itu adalah Hana Okima.
Awalnya, Hana mendapat beasiswa masuk kampus terkenal karena kepintarannya, akan tetapi kampus yang dimasukinya, tidaklah seperti kampus pada umumnya. Kampus yang mengharuskan seluruh mahasiswanya wajib melakukan game judi setiap hari, masalah nilai akademik sudah diurus dengan cara mengganti nilai ranking pemain yang sudah melakukan game judi.
Dan mahasiswa terkuat yang saat ini menduduki peringkat teratas adalah Kujo Tenichi. Lelaki dengan ketampanan luar biasa yang membuat penghuni kampus menghormati dan menakutinya. Sebab, ia adalah salah satu anak dari konglomerat terkaya yang berpengaruh di negaranya.
"Mulai sekarang kau adalah budak-ku," kata Kujo tenang dengan tatapan dingin.
"Heh? Apakah kau sengaja melakukannya?" tanya Hana tersenyum remeh.
Semua orang tahu, selain Hana, tidak ada yang berani membantah perkataan Kujo apalagi berbicara dengan nada dan raut wajah seperti itu. Mungkin karena itulah, Kujo mengambil tindakan dengan menantangnya bermain game judi sebagai balasan yang kalah menjadi budak. Tapi, hal itu salah.
"Aku hanya merasa bosan, selain itu, budak seperti dirimu harus dijinakkan," kata Kujo.
Tidak ingin mendengar lelaki itu membuatnya kesal, membuat Hana dengan terpaksa menerima dirinya sebagai budak dari seorang Kujo, tidak tahu sampai kapan ia menjadi budak dari lelaki dingin itu.
....
Hari pertama saat Hana menjadi budak (Day 1).
"Blurr!"
Hana memejamkan mata setelah air itu mengenai wajahnya. Sudah kesekian kalinya, Kujo menyirami wajahnya dengan jus, karena tidak sesuai dengan cita rasanya.
"Hei! Kau pikir wajahku ini tempat pembuangan begitu? Menyiramiku sesuka hati!" kesal Hana.
Kujo menyiramnya sekali lagi, membuat Hana semakin kesal.
"Apakah begitu cara budak berbicara kepada tuannya?" tanya Kujo tenang.
Hana mengerutkan alis sambil nyegir dengan tangan mengepal. Ia lupa, kalau saat ini dirinya adalah budak. Harus berperilaku baik kalau dirinya ingin lepas dari hukuman itu.
"Setidaknya jangan menyirami wajahku, pakaianku sudah basah, aku tidak akan merasa nyaman kalau Anda seperti ini," kata Hana lembut.
Ini pertama kalinya semua orang melihat Hana berbicara seperti itu, sementara Kujo hanya terdiam dan tampak biasa saja.
Saat itu juga, Kujo langsung menyuruh bawahannya untuk memesankan satu set pakaian khusus wanita. Diperlakukan seperti, siapa yang tidak iri? Bahkan jika itu budak, semua gadis akan senang jika tuannya seperti itu.
Hari demi hari mulai berlalu, saat Hana mencoba menahan kesabarannya. Harus di suruh membeli makanan, membersihkan loker milik Kujo, memegangkan payung untuk Kujo saat cuaca panas ketika lelaki itu jalan-jalan di sekitar kampus, mendampingin Kujo saat melakukan game dengan mahasiswa lain, dan lebih parahnya, semua kebutuhan Kujo diatas oleh Hana.
"Arghh! Aku sudah tidak tahan lagi!" kesal Hana membanting sapu ke dedaunan yang baru saja ia sapu.
Ponselnya berbunyi, tanpa diberitahupun gadis itu sudah tahu. Ia pasti mendapat panggilan dari alam lagi. Dengan kasar, ia menerima panggilan tersebut.
"Aku ingin kau pergi ke toko kue seberang jalan, waktumu cuma 5 menit," kata Kujo diseberang telepon.
"K-Kue? Untuk apa? Maksudmu kue ulang tahun itu?" tanya Hana.
"1 menit,"
Mendengar ucapan Kujo yang menghitung waktu, membuat Hana segera berlari ke luar. Tanpa gadis itu sadari, Kujo ternyata memandanginya dari jendela sejak tadi, saat gadis itu menggerutu.
Timbul senyuman di bibirnya, melihat Hana keluar sambil membawa box kue. Tapi, anehnya gadis itu menitipkan box tersebut ke orang lain dan kembali menuju ke arah toko.
Entah kenapa, perasaan Kujo tidak enak.
"Bugh!"
Matanya membulat besar melihat Hana sudah terbaring di jalanan, lebih kagetnya gadis itu mengeluarkan darah yang banyak. Entah karena sadar ato tidak, Kujo langsung membuka jendela dari lantai 2 dan melompat ke bawah.
Semua orang mematung melihat hal itu. Seorang Kujo, melompat dari lantai 2 sambil menghampiri seorang gadis yang merupakan budak dari kemenangannya.
Kujo langsung menghubungi ambulans dan jika ambulans itu telat 1 detik saja, maka Kujo akan menutup rumah sakit tempatnya berasal.
•Rumah Sakit•
Hana langsung mendapat perawatan, sambil salah satu orang menghampiri.
"Kujo-sama, ini box yang Hana titip tadi padaku,"
Kujo meraih box itu dan membukanya.
"Dasar bodoh, padahal besok adalah ulang tahunmu, tadinya berniat memberimu kue ini, dan kau memberiku balasan seperti ini?" tatap Kujo ke ruangan penanganan.
Lelaki itu hanya berharap semoga gadis yang ada di dalam sana itu segera pulih.
"Sadarlah dasar bodoh, aku menyukaimu, karena itulah aku selalu menyusahkanmu," umpat Kujo dalam hati.