Kalau boleh aku ingin menukar kebebasanku dengan ketentraman. Karena kebebasan itu tidak pernah ada, yang ada hanyalah kebebasan semu. Seakan-akan terasa bebas, hingga tanpa sadar rantai tekanan dan kekangan sudah terpasang di leher, kedua tangan dan kaki. Terus dan terus mencari kebebasan, mencoba melepaskan diri dari rantai-rantai itu, tanpa mengetahui kebebasan itu sendiri yang sudah merantainya.
Di saat mencoba menggapai kebebasan yang kuinginkan, tangan dan leherku ditarik sebelum sempat ujung jariku menyentuhnya. Kalaupun memaksa, aku harus rela terjungkal, terpelanting, dan tercekik. Menangis, mengerang, dan memekik sampai urat leherku putus pun, aku tetap harus menuruti apa mau kebebasan, bukan sebaliknya. Dengan memilih untuk 'bebas', aku telah membayar dengan harga yang mahal, kebebasanku yang sesungguhnya direnggut, digantikan oleh rantai dan kekangan.
Mereka yang mendambakan kebebasan tidak lebih dari seorang anak kecil, kita semua begitu. Namun ironi, kebebasan (tanpa tipu daya) tidak akan ditemukan di mana-mana di dunia ini.