Ketika Tuhan jadi yang kedua, lalu siapa yang pertama?
°°°°°
Maaf ya Nad, aku sibuk. Kamu bisa kan berangkat sendiri?
Aku memutar bola mata jengah membaca pesan terakhir yang Kevin kirim pada ku. Sibuk? sibuk menjadi sahabat Rahel? gadis kaya raya yang sangat di idolakan di kampus?
Aku merasa benar-benar kehilangan sosok Kevin yang dulu. Pria yang tumbuh bersama ku sejak kami masih sangat kecil di panti asuhan. Semua berubah sejak bulan lalu, sejak gadis bernama Rahel masuk ke dalam kehidupan kami.
Kevin dan aku sama-sama hidup susah sejak kecil. Kami melaluinya bersama hingga bisa kuliah di jurusan yang kami inginkan.
Kevin pria yang humoris. Ia tak pernah menyerah meski hidup mempermainkan nya dengan amat keras. Bersama anak-anak panti seusia kami, tahun lalu kami semua berburu beasiswa.
Aku memasukkan beberapa buku ke dalam tas. Hari ini, aku ada kelas sore. Bukan itu yang menyebalkan, tapi Kevin yang ingar! Kemarin malam, sebelum memasuki kontrakan kami masing-masing, ia berjanji akan berangkat bersama.
Sekarang? Cih! Bahkan aku tak melihat batang hidungnya sejak tadi pagi. Memang tak ada garansi orang yang baik dalam satu hal juga akan baik dalam hal lainnya.
Jalanan kota yang ramai dengan kendaraan, memaksa ku beberapa kali berhenti agar tidak tertabrak mobil. Kontrakan dan kampus, jaraknya tidak terlalu jauh.
Tin!tin!
Aku menggerutu, apa jalan selebar ini tak cukup untuk sebuah mobil dengan kap yang terbuka lewat tanpa harus menyuruh ku yang sudah minggir lebih minggir lagi?
Kota ini seolah mengatakan pada ku, bukan kota jika tidak ramai. Tipikal sesuatu yang sangat benci pendatang yang sulit menyesuaikan diri. Ya, contoh nya aku.
Aku memandang keseluruhan bangunan megah di depan ku. Tak percaya rasanya aku kini adalah seorang mahasiswa di salah satu kampus ternama di Jakarta. Setelah sidang skripsi, aku akan benar-benar menjadi seorang sarjana.
Orang-orang akan menaruh gelar (S.S) di belakang nama ku. Membayangkan nya saja membuat ku kesulitan bernafas.
Aku melangkah memasuki area kampus. Helaan nafas pendek keluar dari hidung ku ketika melihat Kevin bersama Rahel dengan segelas minuman berkafein di tangannya. Kaki ku seperti tidak ingin beranjak dari tempat ku berdiri.
Ini memang salah ku. Aku tidak akan merasa kehilangan jika tidak merasa memiliki. Hati ku seperti kaca yang sudah pecah, tapi pecahan beling nya tetap saja membuat ku kembali berdarah.
Rasanya tidak percaya Kevin meninggalkan ku dan pergi bersama Rahel. Terlebih lagi, itu ia lakukan karena uang. Ia seperti seekor lebah kecil yang terus berada di dekat bunga. Takut akan keberlangsungan hidupnya.
Tidak ada lagi Kevin yang bekerja paruh waktu hanya demi bisa membeli buku baru. Karena ia menganggap jika uang bisa di cari dengan cara mudah, kenapa kita harus memilih cara yang susah?
Di zaman sekarang, uang itu seperti Tuhan. Kejam, tapi memang itu sebuah kenyataan. Dunia memang berputar karena uang, tapi tidak akan ada dunia jika tidak ada Tuhan.
Sungguh, Tuhan, kau memiliki saingan!
Mereka menuhankan uang, dan menomer duakan Tuhan. Tapi tak masalah, toh bukan Tuhan yang membutuhkan mereka, tapi mereka yang membutuhkan Tuhan.
Netra mata kami berdua --Kevin dan aku-- tak sengaja bertemu. Ia langsung berpaling, seolah tak mengenal ku sama sekali.
Aku tertawa sinis, berapa kecepatan yang di miliki uang agar bisa mengubah seseorang? Jika aku bisa menghitungnya, mungkin Kevin masih bisa ku selamatkan.
Sayangnya, itu tidak bisa di hitung. Relatif untuk semua orang. Lagi pula, aku tidak ingin sok-sokan menghitung karena jurusan yang ku ambil sangat minim dengan hal-hal yang berbau hitungan.
Kevin berlalu bersama Rahel. Meninggalkan ku yang masih diam di tempat. Sibuk memprotes cara kerja Tuhan hingga tak sadar aku akan tertinggal kelas jika Mega teman dekat ku yang lain tak segera menepuk pundak ku.
"Kesambet lo" ujar nya.
Kami berdua berjalan bersama. Karena seperti apa pun keluhan ku, hidup tetap harus berjalan. Dunia juga tidak kau berkompromi untuk berhenti berputar meski sedetik saja.
Setidaknya untuk memberi ku jeda agar bisa mengumpulkan segenap ketegaran. Karena di lukai karena sahabat sendiri itu terlalu menyakitkan untuk ku yang bisa menangis tersedu-sedu hanya karena terbawa alur sebuah novel.
°°°°°
Hanya kisah klasik tentang seorang sahabat yang kehilangan sahabatnya di tengah-tengah perjalanan mereka mewujudkan cita-cita.
Ketika rintik hujan terdengar, kadang mereka hadir membawa cerita.
Cerita di atas hanya fiksi😊
Bunyi Hujan: 11/10/21