"Ingat hari dimana semua bermula?" Tanya Fisma.
"Wah... sepertinya aku lupa. Hehe." Kata Merous sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Hah... dasar. Waktu hampir bunuh diri saja kau tidak tahu." Katanya mengeluh.
"Ya... dirimulah yang ingin bunuh diri, bukan? Ups..." kata Merous mengangkat bahu dan kaku setelah mengatakan kebohongannya.
"Astaga... kau berbohong ya?!" Kata Fisma mendengus kesal. Kali ini lebih keras.
"Ya, maaf. Ingat kok. Sangat jelas malah. Waktu itu... ya... tak seperti biasanya kau datang ke jembatan bukan untuk menikmati angin. Tapi melompat ke dalam sungai." Katanya.
"Yah... banyak masalah yang terjadi."
Sebelumnya,
Hari yang jelas sudah tidak bisa Fisma tahan lagi.
Sekolah sudah menghina nya tanpa alasan. Teman sekarang tak berpihak padanya. Orang-orang memandangnya sebelah mata. Rumah baginya penuntut prestasi. Keluarga tidak ada yang mendukung. Gosip aneh selalu ada disampingnya.
Dan setelah satu tahun lamanya ia bertahan, di akhir diam nya yang semakin menjadi-jadi, semuanya akan berakhir disini. Luka fisik dan luka mental, siapa yang akan tahan semua itu?
Selama ini dia telah melakukan yang terbaik yang dia bisa. Tak ada yang menghargainya. Dianggap salah jika pekerjaannya selesai.
Semua itu bukan dilebih-lebihkan tapi, kenyataan yang setahun ini sudah dia terima.
Angin berhembus, air sungai yang sebenarnya indah saat senja datang. Sungai itu mungkin akan dianggap tercemar oleh orang yang bernama Fisma itu.
"Sudah jadi mayat pun masih mencemari nama keluarga. Apalagi sungai indah ini. Pasti kotor sekali!" Itulah yang ada di benak Fisma.
Beberapa menit, beberapa detik tubuhnya kini siap meluncur dari atas jembatan yang jauh dari air itu.
Syuut... grab!
Seseorang menangkapnya dengan erat.
"Lepaskan." Katanya dengan nada melemah.
"Tidak!" Kata seseorang itu.
"Lepaskan!" Fisma meronta-ronta meminta untuk melepaskan dekapan di perutnya itu.
"Jangan!" Lalu mereka hampir terjun bersama.
Hampir. Itu karena tangan seseorang itu memegang kaki bawah jembatan.
"Apa kau sudah gila?!" Teriaknya.
Fisma berpikir. Kalau korbannya hanya dia itu tak masalah. Tapi kalau ada korban selain dirinya, maka itu bukan lagi sesuatu yang akan berakhir. Dia akan merasa bersalah tentunya.
"Sebaiknya kau menurut sekarang." Katanya lagi.
Dengan pasrah Fisma menurut. Lalu dia naik dan Fisma menerima uluran tangan dari seseorang itu. Kejadian yang tidak disangka oleh Fisma sendiri. Jika dia menyelamatkannya maka, Fisma akan kembali tersiksa.
"Hah... ternyata aku menyelamatkan wanita penuh gosip." Katanya.
"Dan ternyata yang menyelamatkan ku adalah sang pencuri malam di blok B. Sekarang dia tengah berpindah ke blok C dan D karena hampir dicurigai melakukan serangkaian kejahatan yang dimana semua itu masih samar-samar. Tentu, karena kurangnya bukti." Kata Fisma panjang lebar.
"Hei!" Teriaknya. "Tidak sopan. Itukah yang kau ucapkan pada seorang penyelamat mu?!" Tanyanya.
"Kau mencoba membunuh ku perlahan dengan menyelamatkan ku dari akhir yang bahagia." Jelasnya.
"Kau sebut itu kebahagiaan?! Kau... gila. Ternyata mereka benar. Kau malah lebih gila dari bayangan ku." Katanya.
"Oh. Maaf Sergio malam. Aku tak bermaksud." Ucapnya dengan cepat. Fisma mengangkat kedua bahunya.
"Apa?! Ah! Lupakan saja. Kau membuang-buang waktu ku!" Teriaknya dan berjalan kaki menjauh dari Fisma. "Dan namaku Merous, bukan Sergio malam!" Teriaknya.
Fisma berpikir untuk apa dia tahu namanya. Meski tahu bahwa jantungnya berdetak cukup kencang. Dia hanya menghela nafas dan menatap pemandangan sang surya yang kian tenggelam.
"Senja lagi-lagi terlihat menjengkelkan." Ucapnya menggenang air mata.
Esok harinya masih dengan sebuah drama yang tiada akhir. Dia menyesal telah menuruti Sergio malam atau Merous. Tidak bunuh diri dalam jangka panjang adalah kesalahan dan penyesalan terberatnya.
Mungkin?
Sorenya,
Fisma melihat Merous diam-diam mengambil sebungkus cemilan. Ketika pemilik toko lebih memperhatikan pelanggan yang ramah daripada keadaan diluar toko. Fisma mendekatinya.
"Yang mana yang akan kau pilih? Aku bayar." Katanya datar.
"E-eh...!" Merous menatap kaku dan menjatuhkan hasil curiannya yang gagal.
Fisma mengambilnya dan langsung membayar. Wajah yang pemilik toko berikan tak cukup ramah. Fisma kembali dan memberikan cemilan itu pada Merous. Walau tidak yakin, Merous mengambilnya.
Dia berjalan tanpa melihat kebelakang. Merous tak sempat berterima kasih. Lagipula itu bukanlah hal yang perlu baginya. Tapi setidaknya untuk gadis yang putus asa itu, mungkin kata 'terima kasih' saja cukup membuat alasannya tetap hidup.
Malam hari pun datang bersamaan dengan niat keputusasaan terdalam dari Fisma. Melihat bintang sudah tidak dilakukan lagi oleh Fisma sejak setahun yang lalu sebagai tanda rasa syukur.
Merous mengikuti gadis yang bermasalah itu. Padahal yang ada di depan matanya, dia, Fisma tidak bermasalah. Kecuali niat untuk bunuh diri yang selalu muncul ke permukaan.
Untuk jaga-jaga, Merous mengikutinya sampai pada sebuah gedung apartemen. Merous berpikir bahwa dia sudah pulang dan aman. Walau tidak sepenuhnya. Bisa saja dia melakukannya di depan keluarganya. Tentang bunuh diri.
Tapi, matanya terbelalak melihat Fisma yang siap meluncur ke bawah dari atas gedung setelah menunggu beberapa menit di bangku jalanan.
Fisma melihat Merous yang terkaget-kaget. Isyarat dari Merous tidak mempan padanya. Isyarat untuk jangan melakukan hal itu. Fisma hanya tersenyum masam. Baru kali ini dia melihat ada yang mengungkapkan rasa pedulinya seperti itu. Lalu Fisma mundur dan tidak terlihat lagi.
Merous merasakan firasat aneh dalam dipikiranya. Dia bergegas menuju tempat dimana Fisma berada. Di dobraknya pintu atap apartemen itu dan dia tidak melihat apapun disana.
Tak ada seorang pun.
"Hei, gadis aneh!" Teriaknya. "Ehh... Fisma!" Teriaknya lagi dengan keraguan apakah dia mengenal nama yang sering digosipkan itu.
Hanya angin dingin malam yang menjawabnya.
"Dor...!" Seseorang menepuk pundaknya. Merous kaget dan hampir menjatuhkan dirinya dari atas gedung tersebut. "Hahaha...!" Lanjut seseorang tersebut.
Fisma rupanya. Pikir Merous setelah berbalik.
"Apa kau sudah gila?! Bagaimana jika aku mati?!" Teriak Merous. Tampak Fisma kebingungan.
"Apa--" kata Fisma terpotong.
"Kalau kau ingin mati, pikirkan lagi! Dan kalau kau ingin membunuh, jangan aku yang jadi targetnya!" Teriaknya.
Fisma mencoba menahan tawa, tapi usahanya sia-sia. Sekarang Merous lah yang kebingungan. Dia menatap cukup lama pada gadis itu. Cukup lekat sampai Fisma berhenti tertawa dan tersenyum padanya.
Senyum itu langsung hilang setelahnya.
Fisma meninggalkan Sergio malam yang berisik itu. Merous hanya diam. Tak bergerak.
Apa yang terjadi padaku? Tanya Merous sambil terus melihat Fisma pergi.
Kenapa wajahku panas saat melihat pria itu? Pikir Fisma.
Seterusnya dan seterusnya, mereka saling bertemu dengan penuh tragedi.
Mulai dari Fisma yang berniat bunuh diri berkali-kali. Meski itu hanya memancing Merous untuk keluar. Dia tahu bahwa dia selalu diikuti olehnya. Perasaannya menjadi penuh tanda tanya.
Sementara Merous melakukan percobaan pencurian namun, selalu di gagalkan gadis itu. Fisma. Dan sebenarnya itu tak jadi masalah. Dia tahu perasaan apa yang ada pada dirinya.
Dia jatuh cinta pada gadis itu.
Dan sampai pada hari terakhirnya. Walau dia sudah berusaha untuk bertahan dan menghibur dirinya dari tingkah laku Merous, itu tak membuatnya bertahan untuk terus hidup.
Di jembatan hari itu tak mendung. Fisma menikmati angin sesekali. Fokusnya hilang saat jantungnya berdegub lebih kencang.
"Fisma," Katanya. "Kali ini kau benar-benar serius?" Tanya Merous. Dan Fisma terdiam sesaat.
"Jujur? iya," jawabnya. "Dan cepat sadarlah." Lanjutnya.
Merous kebingungan.
"Maksudnya?" Tanya Merous.
"Sebenarnya, kau sudah mati." Kata Fisma yang masih menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
"Aku disini. Dan aku masih hidup." Tegas Merous. Fisma tersenyum pahit.
"Kau mati. Ya. Setelah kau menyelamatkan ku di jembatan ini. Cepatlah sadar." Lalu Fisma menjatuhkan diri.
Merous berlari dan menangkap tubuhnya. Namun, tangannya tembus dan tak tersentuh. Sekarang dia tahu bahwa dia adalah tidak nyata. Sama seperti yang gadis itu katakan.
Byur!
Fisma tidak selamat. Padahal dia jatuh cinta padanya. Merous mengira bahwa dia masih hidup dan tidak menyangka kalau gadis itu pintar memainkan peran.
Peran sebagai orang yang seolah-olah membuat Merous tetap hidup.
"Hei... aku belum mengatakan... aku mencintaimu... sejak awal kita bertemu..." kata Merous terduduk disisi jembatan.
Pasrah, nada yang menahan tangis. Itulah Merous.
Hanya untuk sesaat.
"Aku juga."
Merous tersentak mendengar suara gadis itu.
"Kau?!" Dia melihat Fisma mendekat dan ikut duduk disisinya.
"Aku memang... sudah... lama... merasakanya. Diawal kau... menyelamatkan ku." Kata Fisma dengan wajah memerah.
"Lalu kenapa kau menipu ku?!" Tanya Merous kesal.
"Aku ingin melihat senyuman darimu." Kata gadis itu terus terang.
Hening.
Mereka masih menyimpan rasa yang sulit diungkapkan itu. Malu atau gengsi? Yang jelas mereka berakhir mati.
"Ingat hari dimana semua bermula?" Tanya Fisma.
...
Iya... aku... nggak ingat juga sih, bagaimana semua ini bermula. Jadi ini berputar-putar? Lalu mana awal? Mana akhir?
Itu tergantung keputusan kalian.
Tapi, ingatlah. Untuk tidak menyerah dalam keadaan apapun. Cerita kalian lah yang menarik. Dimana kalian itu nyata. Dan kalian berusaha untuk melakukan apapun yang hati kalian inginkan.
Ini memang fiksi, disini Fisma berusaha untuk menjadi berguna dan membahagiakan seseorang. Siapapun, makhluk apapun itu. Meski Merous itu arwah.
Tapi, kalian lah yang luar biasa. Ya, kalian!
Berbahagialah kalian meski kalian berkali-kali merasakan sakit. Kebahagian menanti kesabaran kalian dalam melewati ujian kehidupan.
Nuhun atos maca ieu carita!
Terimakasih sudah membaca cerita ini~