Semua orang pasti memiliki dua sisi yang berbeda. Ada sisi baik dan buruk. Kebanyakan dari mereka selalu menampakkan sisi baik mereka. Sisi baik yang selalu disenangi oleh orang lain. Sisi buruk akan tersembunyi di belakang sana. Sebaik mungkin seseorang akan menyembunyikan sisi buruk mereka. Namun nyatanya, adapula yang menampakkan sisi buruk mereka.
Seperti halnya seorang Dika, siswa SMA yang baru duduk di kelas sebelas. Dia lebih senang menampakkan sisi buruknya dari pada sisi baik. Dika lebih senang jika orang-orang mengenalnya sebagai anak yang nakal dan sulit diatur.
PYARR!
Suara pecahan kaca mengagetkan beberapa orang di tempat ini, sebuah minimarket yang sedang ramai pengunjung. Tubuh Dika melayang menghantam jendela kaca minimarket membuat kaca itu pecah tak beraturan.
Penyebabnya tak lain karena Dika sedang dikejar oleh beberapa preman. Entah apa yang dilakukannya hingga preman-preman itu naik pitam. Kini, Dika masih terkapar di lantai minimarket dengan pecahan kaca berada disekelilingnya. Ada darah yang mengalir dari tangan juga kakinya. Orang-orang di sana maju mundur hendak menolong. Sementara para preman itu melarikan diri.
Namun, tanpa disangka seorang anak perempuan maju selangkah. Dia memberikan kantong plastik berisi perban serta obat merah. Dika yang tadi memejamkan mata karena merasakan pening serta sakit disekujur tubuhnya, spontan membuka mata.
"Siapa?" tanya Dika lirih.
Anak perempuan itu tidak menjawab, ia berjalan menjauh dari sana. Dika hanya dapat melihat punggung mungil itu berjalan menjauh darinya.
Ingin rasanya Dika mengabaikan anak perempuan serta pemberiannya. Namun, bayang-bayang punggung mungil itu terus menghantuinya. Dengan bodohnya, Dika selalu menunggu kedatangan anak perempuan itu di depan minimarket. Berharap anak itu akan kembali datang ke minimarket lagi.
"Tempat nongkrong lo pindah sekarang?" tanya salah seorang teman Dika.
"Diem lo," bentak Dika, matanya memandang lurus pada jalanan didepannya.
Mata tajamnya membulat sempurna ketika melihat sosok yang dia tunggu-tunggu lewat. Hanya lewat di depan minimarket, tapi dapat membuat Dika spontan berdiri dan mengejar sosok itu. Langkah lebarnya berusaha mengimbangi langkah anak itu. Lagi-lagi hanya punggung mungil itu yang dapat Dika lihat.
"Tunggu!" panggil Dika.
Namun, jalanan yang cukup ramai oleh pejalan kaki membuat suara Dika tertelan oleh ramainya suara bising dari orang-orang itu.
Sial! Umpat Dika spontan. Anak itu kehilangan jejak. Punggung mungil itu sudah naik ke dalam angkutan kota dan sudah tidak mungkin dapat terkejar lagi. Lagi, Dika hanya bisa memandangi punggung itu.
🌿🌿🌿