Angin yang berhembus menerbangkan rambutku yang sengaja kugerai pada sore hari ini, tidak membuatku ingin beranjak dari tempat ini. Tempat yang sangat spesial juga berkesan bagiku. Aku di sini seorang diri, menunggu seseorang yang sudah lama tidak aku jumpai. Bagi kebanyakan orang, menunggu adalah hal yang membosankan dan sia- sia.
Namun bagiku, menunggu adalah hal yang menyenangkan. Selama menunggu, aku dapat memperhatikan sekitar. Memperhatikan hal- hal yang menarik perhatianku. Orang- orang yang lalu lalang juga tidak luput dari perhatianku.
Menunggu juga memberiku harapan. Berharap jika seseorang itu akan cepat datang kemari. Namun, aku hanya manusia biasa yang juga memiliki titik jenuhnya sendiri. Seperti halnya hari ini, aku merasa jenuh. Harapanku yang selama ini selalu ada, mendadak memudar. Harapan yang tak kunjung datang membuatku hampir kehilangan. Ada air mata yang berkumpul di pelupuk mata.
“Aku lelah,” gumamku lirih.
Langit mulai menggelap, semburat cantik berwarna jingga sudah menghilang digantikan gelap. Aku memperhatikan sekitar, di mana hanya ada aku di tempat ini. Sepertinya penantianku hari ini masih belum membuahkan hasil.
Aku memutuskan untuk pulang dan melanjutkan penantianku esok hari. Bangkit dari duduk dan kubersihkan pasir yang menempel pada pakaianku. Angin berhembus makin kencang hingga tanpa sadar tubuhku mendadak merasa dingin. Ada rasa kecewa dalam diri ini. Namun, pikiran positifku terus berusaha mendominasi. Suara dering benda pipih yang berada di saku celana, membuatku terkejut.
“Halo?”
“Pulang sekarang! Untuk apa kamu menunggu orang yang sudah mati?” ucap suara dari seberang sana.
“Tidak! Dha Un belum meninggal, dia masih hidup! Aku akan menantinya di tempat ini. Dia pasti datang kemari, ini tempat kami berjanji dulu,” kataku dengan suara meninggi.
Aku tidak terima ada orang yang menyebut Dha Un telah meninggal. Dha Un masih hidup, dia hanya lupa akan tempat ini sehingga terlambat datang.
“Terserah kau saja!”
Panggilan itu terputus setelah bentakan terdengar dari seberang sana. Aku kembali menyimpan ponselku.
Kuputuskan untuk menunggu Dha Un lebih lama hari ini. Aku sangat yakin jika dia akan datang hari ini. Kembali duduk di atas pasir dan menatap air dengan deburan ombak, ditemani langit malam dengan hiasan bintang yang berkelip indah.
“Dha Un, aku di sini. Selalu menunggu kehadiranmu di tempat janji temu kita dulu,” gumamku masih menatap lurus ke depan.
Sayup- sayup kudengar sebuah suara beserta langkah kaki mendekat. Spontan aku menoleh dan berdiri. Secercah harapan itu sedikit kembali, harapan jika yang datang adalah sosok yang selama ini kunanti.
“Bay Am!” panggil seseorang.
Mataku memicing untuk melihat siapa sosok yang baru saja memanggil namaku. Beberapa saat kemudian sosok itu terlihat dengan jelas oleh netraku. Kecewa, itu yang kurasakan saat ini.
“Bay Am, mereka menemukannya. Mereka menemukan Dha Un,” ucap sosok itu, seorang teman yang datang menemuiku malam ini.
“Di mana Dha Un?” tanyaku menoleh ke kanan dan kiri.
“Ayo ikut aku. Kita bertemu Dha Un. Sekarang sedang ada di rumah sakit S untuk diperiksa….”
“Dha Un sakit?”
“Bay Am! Sadarlah! Dha Un sudah tiada beberapa bulan yang lalu, beruntung orang- orang itu dapat menemukan jasadnya. Jadi, ayo temui dia.”
Aku menggelengkan kepala dengan air mata yang bercucuran, masih belum mau menerima kenyataan itu. Akal sehatku sudah hilang semenjak Dha Un pergi dari sisiku.
“Aku akan tetap di sini menunggu Dha Un kembali,” ucapku dengan tatapan tajam.
🍂🍂🍂