Seindah-indahnya dia, aku lebih suka melihatnya sebagai bintang yang bertebaran, bersinar menghiasi langit di kala senja. Lebih kucinta ketimbang sebagai kejora di pelupuk mataku kala kuterpejam. Seindah-indahnya, aku enggan menggapainya, hingga meninggalkan ruang yang kosong di konstelasi tempatnya berpijar; mencuri cahayanya untukku sendiri.
Seperti itulah rasaku padanya...
Lebih dari tiga ratus enam puluh lima hari, waktu berlalu dengan suka dan duka, tangis dan tawa silih berganti, dan semuanya kembali seperti semula; seperti saat sebelum kumengenalnya dan saat pertama kumengenalnya. Yang kubagi di masa itu hanyalah perhatian, kepedulian, dan ketulusan. Ketiganya jua yang tersisa kini dari diriku untuknya. Sedang kasihku telah pupus, sudah tak ada lagi. Ia memohonkan segala yang terbaik baginya, sebelum sekejap memudar di hadapan hatinya yang teguh.
Adakah ini sesayat luka akibat penyesalan? Apalah kiranya makna di balik ketidakberartian, kisah yang aku dan dia masih terus jalani hingga sesaat yang lalu? Jawaban misteri itu masih kutelusuri demi menebus sebingkai harapan dalam anganku, sembari menanti saat perjumpaan dengannya -berdua saja-.