Tidak perlu perkenalkan terlebih dahulu, disini saya kan membuat sedikit karang cerita tentang seorang gadis malang yang merasa dirinya adalah paling bodoh.
Tapi saya mohon kepada kalian, Ini hanya sebuah karangan saja dan tidak maksud apa-apa, aku hanya ingin menceritakan kisah hidup Gadis malang itu.
Namanya Pivi, si gadis cantik yang berbadan Sedikit besar, pipinya yang cabi dan matanya yang sedikit sipit, tingginya mungkin bisa di perkirakan 150 cm ke atas, dia hidup bersama kedua orang tuanya dan satu neneknya.
Rumahnya terbuat dari bilik dan sebentar lagi akan runtuh, meski dirinya hidup berkecukupan, Pivi ada gadis yang sangat baik dan murah hati, Setiap ia bertemu orang tidak pernah meninggalkan senyuman manis di wajahnya, kulitnya yang putih membuat orang pada iri padanya.
Pivi wanita polos yang sangat tidak menyukai berdandan dan sekali berdandan ia tidak ingin melihat dirinya sendiri, dia pernah berkata, "Bahwa dirinya seperti ondel-ondel saat di dandani, tapi beda dengan mata orang lain, melihat Pivi berdandan membuat semuanya tidak mengenali itu Pivi. Sungguh sangat ampuh skincare tersebut.
Balik lagi pada kehidupannya, Dirinya pernah bersekolah SMA dengan bantuan kartu KIP, ketika Pivi baru menginjak kelas 10 dan belum lama bersekolah, Dirinya melihat sesosok pahlawan besarnya merasa kelelahan mencari nafkah.
Ya siapa lagi kalau bukan kedua orangtuanya yang di maksud Pivi itu, Dia melihat keduanya sedang meratapi nasibnya, yang kini harus membayar SPP Pivi dan kedua adiknya Pivi yang masih duduk di bangku SD dan yang paling kecil baru berumur 3 tahun.
Ketika Pivi melihat mereka, hati Pivi terasa tergoncang ingin membantunya, namun apalah daya Pivi yang masih belum bisa membantu kedua orang tuanya.
pikiran nya masih seperti kanak-kanak, sampai-sampai dirinya ketika ingin menumbuhkan rasa dewasanya dia memilih mempunyai pacar, tapi sangking kanak-kanak nya ia memutuskan pacarnya dengan alasan yang tidak jelas.
Dalam pikirannya ia berpikir bertindak seperti itu, hanya akan mengundang setan ke jalan yang panas, tanpa rasa malunya Pivi tekad mengatakan kata-kata putus untuk Seorang pacarnya yang baru saja 2 bulan lebih bersama.
Namun karena Pivi merasa tidak nyaman dengan keadaan seorang laki-laki di hidupnya, ia lebih memilih menjomblo hingga Allah memberikan jodohnya dengan sendirinya.
Ia ingin menjadi seorang wanita yang kuat, sabar, dan tidak lemah seperti apa yang orang lain katakan, Ketika Pivi masih di kelas 10 Pivi sempat sakit yang sangat lumayan lama, sekitaran 1 bulan lebih, tapi karena Pivi malu untuk bersekolah kembali, akhirnya Pivi memutuskan untuk ikut ke Alo nya yang bekerja sebagai penunggu toko.
Dengan rasa sedih yang ia bawa dan rasa takut yang selalu ada di hatinya, membuat dia tekad untuk ikut bersama alo nya untuk kerja ke Bandung, sebagai penjaga toko dan bersih-bersih.
Tanpa meminta surat kemunduran sekolah Pivi lebih baik diam dan pergi tanpa teman dan gurunya tahu bahwa dirinya pergi bekerja untuk membantu kedua orang tuanya.
Tidak sampai memakan waktu 1 Minggu, Pivi merasa tidak nyaman dengan pekerjaannya, ia merasa sangat kelelahan dengan majikannya yang tuhtih, suruh ke sana ke mari, belum selesai ngepel udah di suruh ngelap kaca, Lagi ngelap kaca di marahin salah ngelap nya, apalagi kalo udah ngepel itu punggung sakit banget, tapi majikan itu tidak merasakan bagaimana perjuangan Pivi sebagi pejuang rupiah.
Namun saat ke dua harinya ia menelpon ibunya dan menceritakan tentang majikan nya yang sangat memperlakukan dirinya sebagi robot mesin, yang tidak pernah mengenal capek.
Dalam telpon itu Pivi bersedih ingin pulang ke keluarganya, namun seorang ibunya yang tak kalah membuat hati Pivi luluh dengan perkataannya yang membuat otaknya kembali mengingat keringat yang bercucuran dari Kepala kedua orang tuanya.
"Pivi, Coba saja dulu, udah biasa kalo pertama kerja pasti gak nyaman dan gak betah, coba kamu sabar dulu sampai tiga harinya, jika sudah tiga hari masih tidak nyaman, pulang saja, tidak apa, mungkin rejeki mu bukan di sana, sudah kamu jangan menangis kuatlah dan tenangkan hatimu" Lirihan seorang ibu yang membuat Pivi merasa terbangkit semangat lagi, meski masih ada rasa yang terus menyatat hatinya sedikit demi sedikit.
Dengan tekad yang Pivi kuatkan dan masa depan yang ia cita-citakan ia berani menerjang lelah itu dengan senyuman, Namun saat ketiga harinya ia bekerja ia mengalami teguran dari majikannya.
Pivi tidak tahu bahwa ember tempat air pel nya itu, ember yang belum sempat di pakai, hingga majikannya memarahi Pivi dengan sangat menyaring di telinganya, meski kata-katanya tidak terlalu menyakitkan tapi rasa lelah itu membuat si air mata itu jatuh seketika ketika mengingatnya kembali kata-kata itu.
"Itu ngepel nya bukan gitu. Kamu bisa gak sih ngepel pake pelan. atau kamu gak biasa pakai pelan yang ada gagangnya ini. mungkin kamu sering pel pake lap kotor kan. ya udah ganti pake lap yang ada di WC aja biar bersih"
Ucapan yang selalu di ingat oleh Pivi, saat kata-kata itu terus muncul di pikiranku dan tidak memberi ruang untuk otaknya istirahat. hatinya terus kesakitan beradu sedih dengan otak, membuat rasa tidak nyaman itu muncul kembali dan meyakinkan dirinya untuk menghentikan pekerjaannya itu.
Pivi menangis saat teringat kata-kata itu lagi, ia menangis di kamar mandi dengan mencoba menahan guyuran air mata yang terus membasahi pipinya, namun mata Alo nya tidak bisa berbohong, ia melihat Pivi mengeluarkan air mata dan memancing rasa sakit itu semakin menjadi.
"Pi, pasti kamu sakit hati ya!!, sabar ya. dulu aku juga kayak gitu namun aku sabar aja"
"Mau sabar gimana Lo, aku gak tahu kalo ember ini jarang di pakai"
Ucap cepat Pivi sambil terus menahan air mata itu yang terus mengguyurnya. Alo nya merasa sedih melihat Pivi ia terus mengusap punggung Pivi dengan terus mengatakan, "Sabar Pi, sabar". Ketika pekerjaan segera siap kembali, Pivi dan alo nya bergegas menunggu pembeli di tokonya.
Dengan pandangan yang terus menunduk, Pivi menguatkan langkahnya yang sangat sudah tidak kuat untuk berdiri tegak karena sangat tersayat sekali hatinya.
Majikan itu tidak menyadari bahwa Pivi sudah menangis, dengan sangat datarnya majikannya itu memberikan uang 20.000 untuk uang jajan masing-masing.
Ketika Sholat Dzuhur sudah di tunaikan Pivi merasa sedikit tenang dan ingin bangkit kembali, namun lagi-lagi hatinya di buat sakit dengan ucapan majikannya itu yang sangat pedas, kena kepada Pivi yang cepat sekali mengeluarkan air mata, baperan dengan cepat tangannya berpura-pura menggosok matanya perih, padahal sebenarnya ia ingin menangis namun menahannya.
#Flashback#
Jam dinding di sebuah toko itu sudah menunjukan pukul 9 malam. Dan ini saatnya para pekerja di toko itu pulang bertugas, masih terdiam mendengar perkataan majikannya yang sekarang lumayan tidak membuat hatinya sakit, Pivi hanya mengangguk dan tersenyum di setiap pertanyaan majikannya.
Ketika Pivi bersama alo nya berjalan untuk pergi, alo nya mengajak Pivi untuk membeli minuman Tea untuk penyegar pikiran nya, Pivi hanya mengangguk dan sedikit tersenyum.
Ketiak tea itu sudah dua sedot di minum, Pivi masih saja terdiam datar tanpa merasa otaknya terbantu dingin, tea itu hanya mendinginkan perut dan dan badannya, namun tidak dengan otak dan pikirannya.
Drdtt,, Drdtt,,
Handphone Pivi berbunyi panggilan dari mamanya, tentu saja saat melihat barisan nama Mamah di handphone nya membuat hatinya berburu panggilan itu, dengan sangat cepat nya tangannya menggeser gambar telpon berwarna hijau itu ke pinggir dan langsung meletakan handphone nya di telinga.
"Hallo Pi, gimana kamu sehat, sekarang betah gak, mama di sini terus berdo'a semoga kamu bisa betah di sana, (Air mata itu menguyur tiba-tiba ke pipinya tanpa Pivi rasakan, mamanya tidak henti berbicara dan berdo'a untuk anaknya itu, mamanya sangat menginginkan anaknya bisa tenang dan tidak banyak pikiran, namun Pivi tidak bisa berbicara lagi kini dia mengeluarkan isakkan yang membuat mamanya bertanya cemas).
"Pi, kenapa kamu, nangis ya. kenapa kamu gak betah, atau kamu lagi pilek" Isakkan Pivi semakin menjadi membuat alo nya melirik terbengong lalu menghampirinya dan mengusapnya.
Bukannya berhenti menangis, Pivi malah bertambah kencang menangisinya.
"Kenapa" Tanya mamanya lagi sangat khawatir, Pivi dengan sangat berat mengatakannya dan merasa susah karena isakkan itu membuat kata-kata yang keluar dari mulutnya terbata-bata.
"Ma heugg, pengen pulang hikss hikss, pengen pulang hikss hikss"
"Iya kenapa pengen pulang, ceritain dulu sama mama"
Pivi hanya terus mengatakan ingin pulang sambil terisak-isak tidak tahu malu di mana ia menangis dan siap saja yang meliriknya, Pivi dan alo nya terjebak karena hujan sehingga berteduh di kang teh tersebut, sehingga banyak orang yang melihat dan mendengar tangisannya.
Alo nya yang merasa malu terus mencoba menenangkan Pivi namun semakin di bela semakin kencang tangisannya itu, begitupun dengan Pivi ia terus menangis, ketika Alo nya mengatakan.
"Udah Pi jangan nangis terus, malu di liatin orang" Bisik Alo nya langsung menghentikan tangisan Pivi itu, kini hanya isakkan nya saja yang tertinggal, mamanya mencoba bertanya kembali dan di tambah dengan kata-kata yang menguatkan pikiran Pivi.
"Kalo teteh mau pulang pulang aja, terus minta bantu ke bapaknya alo biar di anterin samping terminal, udah jangan nangis ya, mama tutup dulu telponnya, Pivi beresin bajunya kalo mau pulang"
Lalu alo nya terbengong dan bertanya pada Pivi meyakinkan, "Pengen pulang!!" Pivi hanya mengangguk sambil bersedih memegang teh itu.
lalu alo nya mengajak pulang Pivi karena hujannya sudah lumayan reda. Hingga sampai di kost an, Pivi langsung mengganti baju dan tidur tanpa mengobrol sama sekali.
karena di kost an itu terdapat tiga orang, yaitu teteh sepupunya Alo bertanya pada alo nya, kenapa dengan Pivi, lalu alo nya menceritakan dan teteh itu mengangguk dan berbicara pada Pivi, lalu Pivi hanya mengangguk. teteh dan alo membantu membereskan baju ke koper Pivi dan bersiap untuk pulang besok, alo nya menelpon bapaknya untuk menceritakan Pivi ingin pulang.
pagi tiba, Pivi sudah bersiap untuk pulang, bapaknya alo sudah siap mengantarkan pulang sebelum berdagang, lalu bapaknya meyakinkan perkataan Pivi itu untuk pulang, Pivi terus mengangguk dan berdehem yakin dengan pikirannya itu.
Tanpa pikir lama lagi bapaknya alo mengantarkan Pivi ke sebuah elf ke betulan supirnya itu aki Pivi sendiri jadi bapak nya alo merasa tenang meninggalkan nya.
di perjalanan Pivi di perlakukan layaknya seorang anak dari supir padahal supir itu akinya sendiri, namun karena kesenangan sendiri Pivi tidak merasa haus dan lapar sama sekali, ia ingin Cepat-cepat segera pulang ke rumahnya.
Hingga beberapa kilo meter lagi perjalanan menuju kampungnya, Pivi sangat senang meski tidak membawa uang gajih sedikit pun.
Sangat lucu bukan di bagian ini, Pivi hanya berwisata ke Bandung nya, bukan niat untuk bekerja,hehe.
Hingga sampai di rumahnya Pivi di tertawa kan oleh nenek dan yang lainnya menyambut kedatangan Pivi tanpa membawa apa-apa.
Namun karena titipan dari aki uang 20.000 untuk nenek membuat Pivi tidak sedikit malu, tapi dia kan merasa malu karena gurunya chat langsung Pivi dengan ancaman, "Jika Pivi tidak sekolah lagi, Pivi akan di datangi para guru ke rumah", Karena rasa malu dengan keadaan nya, mamanya menyuruh Pivi untuk bersekolah lagi agar tidak datang guru-guru nya ke rumah.
lalu Pivi melanjutkan sekolahnya yang sempat di katakan bolos dalam 1 bulan. lalu Pivi hanya bisa berdo'a semoga dirinya di limpahkan rejeki yang halal baginya.
Dan Alhamdulillah Pivi lulus tanpa meninggalkan uang SPP, karena bantuan dari KIP, akhirnya Pivi tinggal menunggu kelulusan dan pengambilan ijazah, akibat penyakit yang sedang mewabah ini Pivi memberanikan lagi untuk mencoba bekerja lagi, namun sekarang beda ia ikut dengan kakak dari istri kakak uu nya, Karena sudah merasakan susah bagaimana mencari uang, Pivi menikmati alunan pekerjaan rumah itu, sebagai pengasuh dan beres-beres rumah.
karena masih takut untuk bekerja sendiri, Pivi lebih baik pulang dan berhenti untuk bekerja lagi karena rasa takut itu yang membuat Pivi patah semangat. ketika Pivi sudah nganggur, mamanya memberi modal untuk Pivi berjualan beraneka makanan kuah seperti seblak, mie setan, mietul, dan lainya.
Hingga hampir memakan waktu yang cukup lama dalam usaha kecil-kecilan itu, karena bapak Pivi selalu mengungkit-ungkit uang modal punya nya, sehingga Pivi merasa kesal pada bapaknya yang hanya terdiam tanpa guam memacari uang dan malah enak-enakan nganggur, karena sebal dengan omongan bapak, Pivi mencari solusi untuk menenangkan pikirannya, lalu bertemu dengan aplikasi NOVELTOON, dan Pivi mencoba memainkannya.
Karena ia baru pemula dan tidak tahu denagn novel, ia sering di marahi karena ke salah yang sepele, namun hal itu tidak membuat Pivi putus asa ia terus mencoba dan mengontrakkan ceritanya, alhasil sekarang ia dikontrak oleh mangga toon itu.
Namun baru beberapa hati menjadi author kontrak, Pivi sudah mendapatkan teguran yang sangat membuat hatinya sakit sekaligus malu dan benar-benar malu, dengan kesalahan itu membuat mood Pivi tidak ada, rasa nya ingin curhat, mengeluarkan semua yang ada di pikirannya, namun sahabatnya tidak bisa membantu Pivi karena tidak mengerti Novel.
Namun untung saja Pivi mempunyai teman sekaligus kakak jauh yang sudah Pivi anggap kakak nya itu, yang kenal dari novel toon, Pivi menceritakan semua itu kepada kakak onlinenya, dan Alhamdulillah kakak itu memberikan semangat untuk ku, dan ada juga teman yang datang menyemangati Pivi juga, kini Pivi semakin merasa sedih dengan kebaikannya, tapi dia juga masih tersedih dengan kesalahan nya.
Namun karena ia mempunyai ruang Diary, ia bisa meluangkan semuanya pada Diary itu, dan sekarang pikirannya mulai dingin, tapi tidak tahu jika Pivi mendapatkan balasan yang kurang enak, karena pivi orangnya sanagt baperan dan cengeng, setiap punya masalah sedikit aja pikirannya udah kemana aja, dan sekarang merasa sedikit tenang dan lega.
Semoga saja Pivi bisa tenang permanen dan orang yang ia buat salah segera memaafkannya dan memberi waktu dirinya untuk membalas kesalahan itu.
Kalian semua do'akan Pivi semoga dia bisa selesai dengan masalah nya itu, Aamiin 😔.
"Ih