Akhirnya sampai juga di separuh perjalanan menyelesaikan tantangan bagi diri penulis sendiri.
Sekali lagi penulis memberitahukan kepada para pembaca ya, bahwa setiap nama tokoh, tempat, alur dan kejadian murni hanyalah karangan dari penulis. Tidak ada maksud untuk menyinggung siapapun juga.
***
"Dia terlambat lagi?" tanya Aska pada Dira.
Dira mengangguk kan kepalanya sambil menoleh ke arah Aska.
"Kenapa dia sering terlambat ya? jika dia sibuk aku bisa pulang sendiri!" ucap Dira kemudian.
"Aku temani kamu menunggunya disini ya!" ucap Aska yang langsung duduk di samping Dira tanpa di komando.
Mereka, Aska dan Dira awalnya tidak saling mengenal. Dira mengenal Aska karena Aska adlah sahabat dari kekasihnya Edo.
Sedangkan selain sebagai sepasang kekasih, Edo dan Dira juga adalah teman sekelas di kampus yang sama.
Saat ini Aska dan Dira sama-sama sedang mengikuti kursus Bahasa Inggris. Kebetulan mereka kursus di tempat yang sama.
Sudah setengah jam keheningan melanda mereka, tak lama kemudian Aska bangun dan berjalan menuju ke sebuah warung kecil tak jauh dari tempat mereka menunggu.
Aska kembali membawa dua botol minuman ringan dan beberapa bungkus kacang kulit.
"Ini, sambil menunggu kita bisa sambil ngobrol kan!" ucap Aska memberikan satu botol minuman dan dua bungkus kacang pada Dira.
Dira tersenyum dan meraih apa yang di berikan oleh Aska.
"Makasih ya, untung ada kamu. Kalo gak aku bisa jamuran nunggu lama sendirian disini!" ucap Dira kemudian.
"Udah lama sahabatan sama Edo?" tanya Dira iseng membuka percakapan karena meskipun menemaninya sejak tadi Aska tidak bicara satu patah kata pun.
"Sejak kami SMP!" jawab Aska singkat sembari mengunyah kacang di dalam mulutnya.
Dira mengangguk kan kepalanya pertanda dia memahami apa yang diucapkan oleh Aska.
"Rumah kalian dekat tidak?" tanya Dira lagi.
Aska saat ini menoleh kearah Dira, Aska bahkan tersenyum.
"Aku kira kamu pendiam lho, ternyata kamu cukup cerewet ya!" ucap Aska.
Alih-alih menjawab pertanyaan Dira, Aska malah mengungkapkan apa yang dipikirkan nya tentang Dira.
"Apa Edo tidak pernah cerita padamu, tentang aku?" tanya Dira penasaran kenapa Aska tidak tahu bahwa dirinya adalah wanita yang cerewet.
Aska menggelengkan kepalanya. Dira terkejut, kenapa eso melakukan itu.
"Aku yang tidak pernah bertanya!" ucap Aska selanjutnya.
Dira menghela nafas lega saat Aska mengatakan itu, dia sudah negatif thinking tadi. Bukan tanpa alasan ada perasaan tidak enak di hati Dira. Karena selain pada Aska, Edo memang belum pernah mengenalkan dirinya pada teman lain yang berbeda kampus dengan mereka. Kalau di kampus sih semua orang juga tahu kalau mereka pacaran.
Aska kembali menoleh pada Dira yang saat ini sedang di sibukkan mengupas kulit kacang yang agak keriput.
"Kamu bahagia tidak pacaran dengan Edo?" tanya Aska tiba-tiba.
Pertanyaan dari Aska itu berhasil membuat kacang yang berada di tangan Dira terjatuh begitu saja.
Kenapa teman dari pacarnya ini menanyakan hal yang bisa di bilang sangat privasi begitu.
Dira masih menimbang-nimbang untuk menjawab atau tidak pertanyaan Aska, ketika suara klakson motor Edo berhasil membuyarkan lamunannya.
"Edo sudah datang, aku duluan ya!" ucap Dira lalu segera bergegas meninggalkan Aska dan menghampiri Edo.
Edo terlihat melambaikan tangannya pada Aska, dan Aska juga sama. Dira tersenyum canggung saat dirinya dan Edo melewati Aska.