Aku sudah memperhatikan nya sejak sebulan yang lalu. Tapi entah kenapa, belakangan ini sikapnya berubah. Dia jadi begitu kasar dan pemarah, khusus nya pada hewan peliharaannya, Mogu. Seekor kucing yang sangat imut.
Lihat, itu dia. Dia baru saja pulang dari sekolah. Dan itu Mogu, yang langsung berlari ke arahnya. Seperti biasa, Mogu sudah kelaparan karena menunggu Rangga pulang dari sekolah.
" Mogu!! Minggir sana!" Perintah Rangga pada Mogu yang menghalangi jalannya.
Tapi Mogu tidak menyingkir begitu saja, ia terus menempel pada Rangga, dan itu semakin membuat Rangga kesal.
Rangga menatap tajam pada Mogu, terlihat jelas bahwa saat ini ia sangat kesal pada Mogu. Tatapannya pada Mogu membuat ku merinding.
Dengan tatapan yang mematikan Rangga mengambil Mogu lalu mengangkat nya setinggi mungkin. Aku heran, apa yang sedang ia lakukan, aku terus memperhatikan nya dengan seksama dari pintu rumah ku. Hingga dapat ku lihat dengan jelas bahwa saat ini Rangga menggenggam Mogu dengan kuat hingga membuat Mogu kesakitan.
Secepat mungkin aku berlari ke arahnya, aku khawatir Mogu mati saat itu juga karena genggaman itu benar benar kuat.
" Rangga lepas!" Ucapku sembari memegang lengan Rangga. Dia tidak mendengarkan ku sama sekali.
'Mogu bisa mati!" Ucap ku sembari mempererat genggaman ku pada lengan Rangga. Dia menoleh ke arah ku. Lalu dengan perlahan ia menurunkan tangannya.
Segera ku ambil Mogu darinya, aku tak kuasa menahan air mata ku saat melihat Mogu merintih kesakitan. Mogu memejamkan mata nya sembari menggerakkan tubuhnya dengan perlahan. Ia merintih kesakitan, air mataku mengalir semakin deras. Ku peluk Mogu dengan erat.
" Maaf Mogu... maafkan aku...hiks... seharusnya aku menghentikan dari tadi...hiks...." Aku menangis tepat di hadapan Rangga.
" Jangan minta maaf... aku yang salah." ucap Rangga sembari menundukkan kepalanya.
Aku hanya menatapnya dengan kesal.
" Apa uang tabungan mu sudah habis?"
Rangga mengangguk. Aku membuang nafas ku dengan kesal.
Dua bulan yang lalu orang tua Rangga pergi ke kampung halamannya untuk menjenguk nenek Rangga yang sakit parah. Mereka pergi tanpa berpamitan pada Rangga, saat Rangga pulang dari sekolah, rumah nya sudah sepi. Ia hanya menemukan sebuah surat yang terletak di meja makan.
Isi surat itu menjelaskan bahwa Rangga harus tinggal sendiri untuk beberapa waktu, orang tua nya tidak meninggalkan uang karena mereka tahu Rangga mempunyai uang tabungan yang cukup untuk biaya hidupnya sebelum mereka kembali.
" Aku tidak bisa menelepon mereka, tidak ada jaringan di sana...aku stres...aku pusing memikirkan bagaimana aku bisa bertahan hidup. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak lagi merawat Mogu, aku tidak pernah lagi memberikan dia makan sejak dua minggu yang lalu. Aku juga bersikap kasar pada Mogu. Semua itu ku lakukan untuk menghemat biaya hidup ku. Tapi Mogu tidak mau pergi. Aku kesal pada Mogu aku juga marah pada orang tua ku. Tapi...aku lampiaskan semua kemarahan ku pada Mogu. Maafkan aku...Mogu..aku salah.
" Tapi tanpa kau sadari kau juga telah melukai makhluk hidup lainnya. Kau juga menyiksanya, seperti yang dilakukan oleh orang tua mu pada mu. Mogu....juga makhluk hidup. Mogu juga punya hati yang bisa terluka, sama seperti kita manusia. Oleh karena itu, ketika kau memutuskan untuk memelihara Mogu, kau wajib bertanggung jawab atas hidup Mogu. Memelihara nya dengan baik itu juga sudah jadi tanggung jawab mu. Mogu bukan barang yang bisa kau buang dan kau pungut sesuka hati mu. Karena dia makhluk hidup sama seperti kita. " Aku menatap Rangga, berharap ia mengerti dengan apa yang ku ucapkan.
" Jika kau mengalami kesulitan minta tolonglah pada ku. Kita tetangga, sudah sewajarnya kita saling tolong menolong."
"Baiklah, kedepannya akan ku lakukan."
" Bukan kedepannya, tapi harus di mulai dari sekarang." Ucapku menuntut.
Rangga tersenyum, kini tergambar kesedihan di matanya.
" Baiklah, tolong bantu aku merawat Mogu." Ucap Rangga dengan mata yang berkaca-kaca.
Aku tersenyum.
" Baiklah, aku akan membantu."
" Terima kasih."
" Ayo kita bawa Mogu ke dokter hewan. Ia masih kesakitan. " Ajak ku pada Rangga.
" iya, terima kasih Nana."
.....
Tamat🌴