Inilah hidup! Sebuah pembelajaran yang tak akan pernah usai. Kehidupan bagai kampus namun sukar untuk lulus dengan baik, mungkin lebih baik jadi robot.
Bagi Ramada sepertinya sudah tak ada lagi semangat untuk menjalani kehidupan, bahkan ia sudah lupa cara menikmatinya. Benturan demi benturan membuat hatinya menebal karena luka, sayangnya ia tak pernah menemukan cara untuk menyembuhkannya.
"Sampai kapan kamu mau menyesali diri?." Erin menatap Ramada dengan tatapan khawatir.
"Kamu tak perlu peduli padaku, aku sudah menyerah!." Ramada menjawab namun matanya menerawang entah kemana.
Dengan sedikit kesal Erin mendesakkan nafas, sepertinya sepupunya ini sudah terlalu dalam terjatuh di jurang penyesalan. Kata-kata penyemangat tak lagi menjadi obat mujarab yang bisa membuat dirinya kembali sedia kala.
Setahun yang lalu Ramada mendaftarkan diri untuk menjadi aparatur negara, ia sudah mempersiapkan diri sejak awal untuk mengikuti serangkaian tes dan ujian sebagai persyaratan. Saat itu ia sangat yakin persiapannya sudah sangat matang, bahkan ia begitu optimis bisa lulus tes dan ujian yang dipersyaratkan. Sayangnya karena kepercayaan diri yang terlalu tinggi itu membuat Ramada terhempas dalam kegagalan, skor tes dan ujiannya kurang beberapa point' dari skor yang dipersyaratkan untuk lulus. Sejak itu ia merasa kehidupan ini tak adil untuknya, ia merasa nasib telah mengkhianatinya.
"Lebih baik menjadi robot yang tak punya harapan apa-apa!." Suara Ramada terdengar lirih namun ada nada getir didalamnya.
"Aku tak mampu membantumu apa-apa, bahkan aku sudah kehabisan cara." Erin ingin sekali memeluk Ramada untuk mengurangi beban yang dirasakan sepupunya itu, namun ia tahu Ramada akan menolak karena ia bukan tipe orang yang menyukai perlakuan semacam itu.
"Aku tak pernah memintamu untuk itu, bukan?." Tatapan Ramada sedikit sinis ke Erin.
Ramada kemudian berdiri lalu tanpa berkata apa-apa lagi ia meninggalkan Erin sendirian yang menatap kepergiannya dengan tatapan iba. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, Erin hanya berharap sepupunya itu tau bahwa hidupnya tak semenyedihkan itu.
Keesokan harinya.
Erin yang baru saja hendak berangkat bekerja, tiba-tiba dikejutkan oleh telepon salah satu keluarganya.
"Ada apa?." Tanya Erin dengan sangat khawatir. Biasanya jika ada anggota keluarga yang menelepon tanpa ada pembicaraan sebelumnya akan menginfokan sesuatu yang tidak mengenakkan.
"Kamu belum berangkat kerja, kan?."
"Belum, memangnya kenapa?." Rasa khawatir itu kini bercampur dengan rasa penasaran membuat jantung Erin berdebar tak karuan.
"Sebaiknya kamu segera ke rumah Ramada, sepupumu itu sekarang sedang sekarat. Baru saja ia ditemukan tak sadarkan diri di kamar mandi!."
Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, Erin langsung menutup teleponnya. Ia segera bergegas ke rumah Ramada dengan perasaan campur aduk.
"Kali ini apa lagi yang terjadi kepadamu, Ramada?."