"Mama sama papa bercanda ya, masa iya aku harus nikah sama pria buta itu sih!" protes Arini pada Ayahnya Nurdin dan ibunya Arimbi.
"Sayang, Salim itu anak orang kaya. Dia tampan dan masa depannya sungguh menjanjikan!" bujuk Arimbi sang ibu.
Nurdin juga ikut membujuk Anaknya agar mau merawat Salim selama berada di rumah mereka.
"Tuh, harus ngerawat orang buta pula, males banget. Arini gak mau pokoknya!" ucap Arini.
"Ya ampun Arini sayang, kalau soal itu kamu tidak perlu cemas, kan ada si Nurul tuh. Anak gak berguna itu..."
Sebelum Arimbi selesai dengan kalimat nya lebih dulu Nurdin menyelanya.
"Ma..." tegur Nurdin.
Bagaimana pun juga Nurdin sebagai paman kandung Nurul tidak senang jika Arimbi menjelekkan keponakannya itu, anak dari adik kandungnya yang telah meninggal sejak Nurul berusia lima tahun.
Setelah membujuk Arini dengan segala macam rayuan akhirnya Arini setuju bertunangan dengan Salim. Setelah pertunangan sekalipun tinggal di rumah Arini, karena kedua orangtua Salim sedang keluar negeri untuk mencari pendonor mata untuk Salim.
Beberapa hari sudah Salim tinggal di rumah Arini, dia sangat penasaran kenapa selama ini ketika merawatnya dan membantunya, Salim tidak pernah mendengarkan suara Arini.
"Apa aku boleh bertanya padamu?" tanya Salim.
"Hm.." jawab Nurul setelah selesai membantu Salim makan siang.
"Apa kamu terpaksa bertunangan denganku?" tanya Salim.
Tidak ingin membuat masalah dan membuat Salim curiga, terpaksa Arini membuka suaranya.
"Tidak, kenapa berfikiran begitu?" tanya Nurul.
Salim tersenyum lega " syukurlah, aku sempat mengira kamu hanya terpaksa bertunangan denganku, dan bukan kemauan mu. Aku bisa mengerti karena memang aku kan buta!" ucap Salim terdengar menyedihkan.
"Jangan bicara begitu, sebentar lagi kamu juga akan bisa melihat!" ucap Nurul menyemangati Salim.
"Sekarang aku permisi dulu ya!" pamit Nurul sopan.
Malamnya Arini mengetahui dari sang pembantu kalau Nurul sudah bicara pada Salim. Arini mengamuk dan menyiram Nurul dengan air putih yang tadi di bawa Nurul bermaksud untuk memberikannya pada Salim.
"Siapa menyuruh mu bicara, hah?" tanya Arini membentak Nurul.
"Lancang sekali!" bentak Arini lagi.
Arimbi menahan putrinya itu agar tidak memukul Nurul.
"Jangan pukul dia, ayah mu bisa marah! dengar Nurul. Nanti saat Salim sudah operasi berusahalah menghindar darinya dan jangan bicara dengannya lagi, mengerti!" perintah Arimbi yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari Nurul.
"Pergi, rawat Salim dengan baik!" titah Arimbi
Nurul keluar dari dapur, air matanya mengalir deras. Di rumah ini bahkan pembantu saja ingin mencelakakan dirinya. Hanya pamannya Nurdin yang jadi alasan satu-satunya dia tetap bertahan di rumah ini.
Beberapa hari kemudian, orang tua Salim kembali dengan membawa kabar baik. Mereka akan segera mengoperasi mata Salim.
"Orang yang ingin pertama aku lihat nanti adalah kamu! orang yang selama ini dengan tulus menjaga dan merawat ku! saat aku pulang kemari kamu harus berdiri di depan ku ya!" itulah ucapan Salim pada Nurul sebelum dia pergi ke luar negeri untuk operasi.
Hari yang di nanti telah tiba, ini adalah hari dimana Salim dan kedua orang tuanya akan pulang setelah operasi nya berhasil dan Salim bisa melihat lagi.
"Selamat datang..." ucap Nurdin.
Salim menyalami Nurdin dan Arimbi dia lalu menghampiri Arini yang berdiri dengan tatapan terkejut, Salim semakin tampan setelah bisa melihat.
Arini menyambutnya dengan senang hati.
"Akhirnya aku bisa melihat mu! aku bisa melihat orang yang selama ini merawat ku dengan tulus!" ucap tulus Salim.
Sementara Nurul hanya bisa menangis sambil memegangi dadanya kuat-kuat. Perasaan hatinya sungguh sakit.
"Aku disini Salim, dan orang yang telah merawat mu selama empat bulan ini bukan dia, tapi aku!" lirih Nurul.