Pagi-pagi, temanku sudah mengeluh.
"Pagi yang menyebalkan! Sudah hujan pula lagi. Padahal kita semua harus bersyukur di pagi hari bukan? Dari tadi aku diganggu oleh kedipan mata darinya!" Katanya.
Apa yang dia lakukan? Tanyaku.
Mungkin saja jawabannya adalah 'berkedip padamu' dengan seksama. Aku tahu kalau itu adalah jawaban yang pasti diucapkan olehnya. Kedipan yang menggoda siapa saja yang tak sanggup memalingkan wajahnya.
Bahkan diriku. Pasangannya yang telah dia pilih. Apa kedipan itu memang untuk ku?
Sejak pagi dia melakukannya pada Nefitra. Entah apa yang dia pikirkan, tapi ini sudah mengganggu ku. Bahkan saat pelajaran sedang berlangsung, sempat-sempatnya dia berbalik dan berkedip padanya.
Sadarlah! Kau itu sudah punya belahan jiwamu sendiri. Itu aku!
Saat jam makan istirahat.
"Hei~ kau perlu bantuan untuk membawanya?" Katanya. Sien namanya.
Aku memperhatikan Nefitra tengah membawa kertas yang perlu diberikan pada pak guru. Nefitra bertugas piket kali ini.
"Tidak, terimakasih!" Ucapnya tegas.
"Ah, ayolah. Nefitra..." kata Sien merajuk.
"Urus saja pacarmu itu!" Katanya menatap tajam pada Sien.
"Tsk... baiklah. Sampai jumpa sepulang sekolah!" Katanya berlari sambil melambaikan tangannya.
Dasar aneh. Pikirku.
Waktu berjalan cepat. Nefitra masih baik-baik saja meski di ganggu oleh Sien. Ya, mereka teman baik. Namun, sekarang wajah Sien berbeda 180° dari sebelumnya.
"Ah! Diens, apa kita pulang bersama?" Tanyaku.
"Aku ada urusan dengan si cebol ini. Cepat turun dan temui aku di minimarket di seberang jalan." Katanya dengan wajah amarah.
"Hei, kau tak perlu kasar, kan?" Kataku memarahinya.
"Tsk... cepatlah." Katanya dan langsung membawa tasnya pergi menjauh melalui pintu kelas.
Lalu dia pergi.
"Hei, Nefitra. Ada apa?" Tanyaku.
"Aku pun tidak tahu." Kata Nefitra mengangkat bahu.
Saat di gerbang sekolah.
"Sebenarnya apa masalahnya padaku? Bukannya dia itu pacarmu?" Tanya dia melampiaskan kekesalannya.
"Entahlah. Aku tidak pernah melihat dia semarah ini." Jawab ku.
"Benarkah? Kalau begitu temani aku kali ini... boleh?" Tanya Nefitra.
"Wah... tidak bisa. Hari ini ibuku ulang tahun. Aku ingin mengejutkan nya dengan kakak-kakak ku." Katanya. "Kalau kau masih ada waktu, kau bisa mengajak kakak mu datang ke rumah kami. Kami menyambut kalian." Jelas ku.
Selama aku mengenal Nefitra, aku jadi tambah percaya diri. Berkatnya aku menemukan cara agar tidak terlalu gugup menghadapi seseorang. Bahkan Sien yang langsung menembak ku.
"Huff... jalan rumah kita saja berbeda. Aku harap, aku juga bisa datang dengannya." Keluhnya.
"Baiklah... aku pergi ya? Dah...!" Kataku dan berjalan menjauh. Dia melambaikan tangannya.
Esoknya.
Pada akhirnya Nefitra tidak datang dengan kakaknya. Yah, tak apa. Aku masih menyisakan kue untuk mereka berdua. Mereka hidup bersama tanpa kedua orang tua mereka. Tapi, kenapa... pagi ini sangat heboh?
Kenapa dengan mereka? Saat aku datang dan langsung menatap mereka, mereka memandang rendah pada seseorang. Saat aku masuk ke dalam ada yang menghalangi pintu.
"Hei. Kau lihat ini." Katanya sambil berbisik.
Aku langsung menutup mulut. Tak ku percaya bahwa dia, Nefitra melakukan hal itu tanpa sepengetahuanku. Sien dan dia berciuman. Tampak sangat menikmati.
Aku hanya bisa memasang wajah datar saat bertemu dengannya. Dia melakukan hal yang sama pula! Tidak tahu malu. Dengan tatapan yang seakan putus asa itu, dia kaget melihatku duduk. Bangku kami memang tak jauh.
Dia mendekat dan memberi penjelasan seakan dia tahu apa yang membuatku terganggu.
"Aku menuju tempat yang Sien tunjuk. Saat aku kesana tidak ada siapapun. Minimarketnya pun tutup. Aku tahu minimarket itu pasti buka pada waktu malam. agar terlihat masih bekerja." Ceritanya.
Tapi, aku tak bertanya tuh. Batinku.
"Saat dia memanggilku, aku berteriak dan dia melayangkan tinjunya padaku. Lalu mereka datang bergerombol. Aku lari tapi, mereka menendang kaki ku." Katanya dengan marah.
"Mereka... mengancamku. Alasan Sien melakukan semua itu karena kalah taruhan. Dan hukuman itu... menciumku. Untung saat itu hujan. Mereka pergi." Lanjutnya.
"Aku tidak percaya." Ucapku dengan tatapan kosong.
"Tolong percaya padaku..." dia memohon.
Lucu. Semua orang tahu bahwa hubunganku dengan Sien cukup romantis. Tapi kenapa... bisa-bisanya dia melakukan itu padaku. Aku hanya diam menanggapinya.
"Baiklah... kau memang tak percaya. Kukira kita sahabat. Tapi, hanya sebatas teman. Kini teman mu telah tiada. Anggap saja begitu." Katanya dan pergi.
Penampilannya cukup berantakan. Seperti ada orang yang menyakitinya. Disana lah aku mulai sedikit percaya. Apa pipi lebam itu dibuat-buat? Tanyaku.
Kemudian, dia dipanggil ke kantor guru.
Hanya berselang beberapa menit ada yang mengirimku sebuah video. Lebih tepatnya di grup kelas.
Sikapnya sangat berbeda. Kukira dia akan menyangkal habis-habisan. Ternyata dia mengatakan bahwa lebih baik dia tidak ada daripada menerima kenyataan itu.
"Lebih baik kakak mengurungku saja. Siksa saja aku. Siksa aku sampai aku memohon untuk mati." Itulah yang ia katakan dalam video.
Setelah diketahui bahwa perkataan itu benar adanya, ada yang keluar sekolah karena malu. Sebagian menetap. Aku masih tak percaya mereka masih punya muka. Terutama Diens.
Para guru tak memandangnya atau mengabaikan karena malu akan kejadian di kantor tersebar luas video guru yang memihak salah satunya dan bukannya menelusuri kebenarannya.
Dan itu menjadi kesempatan dia membalas. Dia melempar cutter dengan mengatakan 'aku tak sengaja' pada targetnya. Tidak lupa sampah dan lain sebagainya.
Sepulang sekolah,
Aku melihat dia puas mempermainkan orang-orang seperti itu. Ah... seharusnya sebagai teman aku menolongnya. Sien berlari menyusul Nefitra. Aku tidak mengerti lalu memutuskan menyusul mereka. Secara diam-diam
Diens menangkap tangan Nefitra.
"Maafkan aku!" Teriaknya.
"Oh. Laki-laki sepertimu pantas untuk di maafkan? Apalagi, apa kau pantas mendapatkan Julia yang baik hati?!" Teriak Nefitra.
"Aku tahu! Aku minta maaf." Katanya. "Aku mendekatinya bukan karena menginginkan dirinya. Tapi, aku memang telah jatuh cinta padamu." Jelasnya.
Degh!
Dadaku sakit. Kukira... hubungan kita spesial. Batinku.
"Lepas." Tangan Nefitra semakin kuat di cengkram. "Lepaskan k*p****!" Teriak nya.
Dia melepaskannya dan pergi menjauh. Saat itu mata Nefitra bertemu denganku.
"Kau... apa sekarang kau percaya?" Tanya Nefitra.
"Bisa jadi itu dibuat-buat. Bisa jadi kalian masih saling cinta." Ucapku dengan tatapan kosong.
Tidak. Bukan ini yang ingin aku katakan.
"Kita sudah jadi teman selama setahun ini! Tapi kenapa... kau..." katanya.
Lalu tanganku di genggam erat olehnya tiba-tiba. Aku berusaha untuk melepasnya. Tapi, aku juga tidak berniat melepasnya. Karena pertemanan kita masih bisa di selamatkan.
"Kau sudah terlalu tergila-gila pada pria itu. Jadi kumohon tinggalkan dia dan percaya padaku." Katanya.
Tergila-gila. Satu kata yang membuatku sakit. Ditambah dia mengatakan untuk meninggalkan Sien daripada percaya padanya terlebih dahulu.
"Apa aku memang terlihat seperti itu? Tapi, maaf. Aku tidak bisa." Aku menarik tanganku darinya, "Kita memang sudah satu tahun berteman. Tapi, bisa saja ada yang kau sembunyikan lagi bukan?" Sambungku.
"Apa... Julia!" Teriaknya.
Aku pergi menjauh darinya.
"Julia, ini bukan akhir. Tapi permulaan. Targetku selanjutnya adalah..." lalu dia mengangkat tanganya.
"Kau." Dia menunjuk padaku.
Hari berikutnya, hari berikutnya lagi, minggu berikutnya lagi. Dia membullyku. Aku menerimanya. Kenapa? Kurasa... sudah tentu itu adalah hukuman yang pantas bagi orang yang mencampakkan temannya.
Lalu Sien datang menghalangi pandanganku dari wajah amarah Nefitra.
"Cukup. Ini salahku. Kau tak perlu berbuat seperti ini padanya." Kata Sien.
"Wah, wah. Romeo telah beraksi rupanya." Kata Nefitra sambil memainkan nadanya.
Bel berbunyi.
"Ingat uang yang nanti aku tagih? Kalau tidak ingat... akan aku ingatkan dengan si kecil ini ya!" Katanya dan mengusap cutter kesayangannya.
"Ya." Kataku sambil tersenyum lemah. Dia hanya mendecak dan pergi.
Saat perjalanan pulang, aku melihat Nefitra membelikan es krim pada teman kecilnya. Ya, adikku. Dia masih peduli padanya. Itu cukup bagiku.
Itulah mengapa aku punya banyak alasan aku menerima hukumannya.
Saat mereka hendak menyebrang, mobil yang ugal-ugalan mencoba menabrak keduanya. Lampu masih merah dan mobil itu tak berhenti.
Aku berlari mencoba menolong mereka. Tapi, hanya salah satunya yang aku tangkap.
"A-ah..." Aku sulit mengambil nafas. "Nefitra!" Teriakku.
Aku mendekat padanya.
"U-ugh... jadi... kau tahu, uhuk. Uhuk." Kepalanya bocor. Darah mengucur dari mulutnya. "Itu... kau harusnya... tidak melihat... yang tadi..." ucapnya sambil terbata-bata.
"Diamlah!" Teriakku. "Seseorang tolong panggil bantuan! Apapun! Tolong!" Teriakku linglung ke segala arah.
Adikku mencoba untuk mendekat. Tapi, orang dewasa menarik tangannya. Itu cukup. Lalu bagaimana sekarang? Tidak ada yang menelepon ambulan kah?
"Maaf... ya... hah.... jika saja... waktu diputar kembali... apa yang akan kau lakukan? Uhuk. Uhuk." Ucapnya.
Aku tidak bisa merasakan denyut nadi. Bahkan hembusan nafas dari hidung. Tidak ada sama sekali!
"A-aku... tidak akan mencoba melakukan hal yang sama..." kataku sambil menenangkan diri.
Tangisku tidak ku tahan lagi. Lalu sesuatu yang aneh pada sakunya membuatku terpaku.
Aku mematung di kelas. Sejak kapan aku...?
"Pagi yang menyebalkan! Sudah hujan pula lagi. Padahal kita semua harus bersyukur di pagi hari bukan? Dari tadi aku diganggu oleh kedipan mata darinya!" Katanya.
Keluh Nefitra membuatku teringat sesuatu.
Huh? Apa yang terjadi? Ada apa ini?!
End...
Jadi... gimana jelasin nya coba? Hmm... biasanya kalo aku jelasin pun, bakal bingung sendiri. Hihi!
Thanks udah baca~