hilang, keberuntungan, hidup
~
Apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan pada ku?
Suatu hari, suatu malam... entahlah. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku melihat dunia abu-abu ini. Seakan aku buta dan tidak bisa melihat apapun.
Bahkan tidak ada yang mencariku. Atau... mungkin saja semua orang menghilang. Apa aku sudah mati? Alam bawah sadar? Atau apa?
Padahal aku sudah peduli dengan mereka. Sialnya, aku terlalu percaya pada manusia seperti mereka. Bisa-bisanya mereka mengambil alih dunia ku yang sudah kubuat sedemikian rupa.
Mereka malah mengambil tahta ku! Ini sebuah pengkhianatan terbesar yang mereka lakukan padaku, ratu Emilia!
Aku kehilangan segalanya. Apa yang aku lakukan sekarang? Berjalan kaki.
"Selamat. Kau yang terpilih." Suara itu tak jauh dari tempatku berdiri. "Kau beruntung." Katanya lagi.
Aku berjalan mendekat pada asal suara itu. Berpikir bahwa itu halusinasi, kabut yang tadinya menghalangi kini menghilang. Seseorang yang memakai topeng sedang duduk menyeduh sesuatu di meja nya.
"Aah... akhirnya ada tanda-tanda kehidupan." Kataku. Aku langsung duduk dan bernafas lega.
"Jadi, kau mau sesuatu sebagai pelepas dahaga?" Tawarnya.
"Ya." Jawab ku.
"Apa yang ingin aku tuangkan untukmu?" Tanya nya kembali.
Aku tak melihat bahan apapun sebagai pengganti rasa yang sudah ada. Aneh jika dia menawar sesuatu yang tidak ada. Aku duduk tegap dan membiarkan tanganku di atas meja.
"Apa saja. Apapun itu." Jawab ku.
Lalu dia menuangkan sesuatu yang mirip seperti teh, tapi warnanya seperti kopi. Jika saja indra penciumanku masih ada, aku bisa mencium bau-bau yang ada di sekitar.
"Silakan." Dia menyodorkan segelas minuman penuh air misterius itu. Aku meneguknya tanpa ada rasa curiga. Setelahnya aku berasa ingin muntah.
"Minuman apa ini?!" Tanya ku agak kesal dengan rasanya.
"Itu tidak memiliki rasa. Rasa pahit itu disebabkan oleh kehidupan yang kau jalani." Jelasnya. "Kau tahu istilah 'apa yang kau tuang itulah yang tuai' bukan?" Tanya nya.
"Katanya salah! Begini 'apa yang kau tanam itulah yang kau tuai!' Dan apa hubungannya dengan kehidupan yang aku jalani dengan rasa air ini?!" Tanya ku.
"Coba kita lihat." Lalu dia mengeluarkan sebuah buku kecil di balik jas nya.
"Apa itu?" Tanyaku.
"Oh. Ini daftar kecil dari kehidupan mu sebelumnya." Katanya.
Aku menunggu dia membolak-balikan beberapa lembar buku. Memangnya aku sudah mati? Kita lihat saja apa yang ingin dia sampaikan.
"Ah. Terakhir kali menjadi tirani dan menjajah 2 benua. Mengkhianati saudara sendiri untuk memperebutkan tahta. Setelah itu menyiksa para budak." Jelasnya.
Itu memang kebenaran. Jadi untuk apa aku menyangkalnya? Aku malah cukup bangga akan hal itu. Tunggu, jadi benar aku telah mati?
"Lalu untuk apresiasi, membuat patung dirinya sendiri dan menyebabkan korban 127 budak. Tiga terluka dan sisanya... tewas." Katanya. Lalu dia menutup buku tersebut.
"Lalu?" Tanyaku keheranan. Memangnya apa yang salah?
Dia duduk dan menuangkan teh untuk dirinya sendiri. Aku memperhatikannya. Bahkan saat minum pun dia tidak membuka topeng secara menyeluruh! Dia hanya menyisakan mulutnya terlihat agar bisa meminum teh.
Apa-apaan?! Batinku.
"Apa kau merasa tidak nyaman saat memakai topeng? Bahkan saat minum pun?" Tanyaku.
"Tidak." Jawabnya sembari tersenyum. Dia menutup lagi topengnya.
"Aku tak mengerti. Apa kau penggemar topeng atau apa?!"
"Ini hanya sebagian dari pekerjaan ku."
Aku hanya bisa menghela nafas. Tenggorokan ku terasa kering. Aku haus. Tapi, yang aku dapat hanya minuman busuk.
"Bisa aku minta minuman lain?" Tanyaku memegang tenggorokan.
"Tentu. Dengan syarat, tolong habiskan minuman anda." Katanya.
Aku mendecak. Aku sudah tidak kuat lagi ingin meminum air. Mau bagaimana lagi? Sekali tegukan. Tak ada cara lain. Setelahnya aku menahan muntahan ku.
"Bagaimana rasanya?" Tanya dia dengan enteng.
"Sangat buruk! Seperti meminum darah bangkai manusia!" Kataku.
"Memang." Katanya.
"Apa?!" Teriak ku memukul meja.
"Itulah kehidupanmu sebelumnya," Katanya. "Kau adalah orang yang terpilih. Mengakui atau hukuman. Pilih yang mana?" Lanjutnya.
"Hukuman." Kataku. "Memang seperti apa hukuman itu? Tidak ada aturan aku tidak boleh menghindar bukan?" Tanya ku menantang.
Dia menuangkan sesuatu lagi. Lagipula aku sudah mati. Jadi aku tahu rasa sakit yang lebih parah itu seperti apa.
"Silakan." Katanya. Aku mengambil gelas itu.
Hampir seperti air putih. Aku tak merasakan apapun.
Aku lega.
Hanya... kenapa perutku terasa sakit? Lalu dadaku sesak. Setelahnya aku merasakan tubuhku di remuk oleh benda berat yang menghantam begitu saja.
"A-aww..." aku meringis kesakitan.
Sangat sakit! Jarum berdatangan menusuk tubuhku. Padahal tidak terlihat ada jarum sama sekali. Aku memegang seluruh tubuhku. Akupun terjatuh dari kursi.
"Bagaimana rasanya?" Tanya nya padaku.
"S-sakit!" Aku berusaha bersuara.
"Ambil obat ini." Dia menyodorkan satu pil obat di sarung tangannya. Aku langsung mengambil dan menelan nya tanpa minum. Aku tidak merasakan sakit lagi.
"Obat itu adalah jiwa dari orang yang ingin meminta maaf padamu." Jelasnya setelah menghirup udara dengan normal.
"Apa kau memberiku racun?!" Tanyaku dengan kesal setelah bangkit.
"Mengakui atau hukuman. Mana yang kau pilih?" Dia sudah duduk lagi seperti tak terjadi apa-apa.
"Mengakui! Setelah ini kau akan memberi ku minuman layak, kan!?" Aku memukul mejanya lagi.
"Kalau begitu," dia menuangkan segelas minuman yang kini bisa aku cium. "Cobalah." Aku menerimanya dan meneguknya secara perlahan.
Harum.
Aku memang merasakan sakit di dadaku. Air mataku mengalir begitu saja. Aku tidak mengerti. Aku menangis karena apa? Mengapa? Bagaimana?
"Kau ingin tahu kenapa?" Tanya nya seakan membaca pikiran ku. Dia mengeluarkan buku kecil tadi. Menatapku sejenak dan membaca buku itu agar aku bisa tahu apa isinya.
"Halaman ke sembilan. Rasa kepedulian yang tinggi. Rendah hati. Dermawan. Jenaka namun, sopan." Katanya.
"Halaman ke 57. Simpati. Naif. Polos. Mengabdi pada keluarga." Lanjutnya.
"Halaman ke 145. Hah..." helaan nafasnya cukup berat. "Kekecewaan. Pengkhianatan. Muak. Kegilaan." Lalu buku itu ditutup lagi.
"Jadi?" Kata ku sambil mengusap air mata yang tiada henti nya mengalir.
"Kau... kecewa pada dirimu sendiri?" Tanya nya.
"Memang." Setelah mengucapkan hal itu, dadaku semakin sakit.
"Lalu, kau merebut segalanya agar kau tidak kecewa lagi. Apa benar?" Tanya nya lagi.
"I-iya." Kata ku yang dimana dadaku sedikit demi sedikit meminta keluar dari tempatnya.
"Apa kau... merasa bersalah?" Dia melihatku dengan tajam.
"Awalnya, ya. Sekarang? Aku tidak tahu..." ucapku lirih.
"Apa kau baik-baik saja setelah semua hal itu?"
Degh!
Tepat sasaran. Dia menghancurkan bendungan yang telah lama aku bangun. Semuanya tumpah. Aku tidak bisa menahan tangis lagi.
"Ti-tidak..." kataku berusaha menjawab.
Lalu dia menuangkan sesuatu lagi.
"Minumlah. Itu bisa menenangkanmu." Katanya. Aku meneguknya dan mengatur nafas menjadi sedikit lega. Rasa damai menghampiri ku.
"Hah... kenapa aku bisa seperti itu?" Tanyaku padanya.
"Kau tidak tahu bagaimana merasakan atau mendengarkan hati kecilmu lagi setelah semua hal yang sudah kau lalui." Jelasnya.
"Begitu rupanya." Komentar ku.
"Kau harus menemukan dirimu sendiri. Jangan pernah mengandalkan para manusia. Kadang, tanpa sengaja mereka mengecewakan mu dengan terang-terangan." Nasihatnya.
Aku hanya bisa mengangguk dan menyeruput teh yang ia berikan.
"Kau harusnya memilih jalan mu sendiri. Kau tidak perlu ragu untuk mengambil keputusan. Dan sekarang jika kau memang mengambil keputusan, kau malah mengambil banyak hal negatif." Jelasnya.
"Aku... tak punya pilihan. Aku selalu memikirkan opini publik. Saat aku jatuh, mereka memalingkan wajah. Aku lebih baik membalas daripada berdiam diri. Tidak seperti saudaraku yang lain." Kataku mengakui segalanya. Tulus. Tanpa ada keraguan sedikitpun.
Hening. Satu kata untuk saat ini.
"Selamat. Kau lulus." Katanya tiba-tiba.
"Apa?" Tanyaku setelah mendengar keanehan lainnya.
"Kau terpilih menjadi seseorang yang tidak akan di permainkan oleh para dewa lagi. Karena pengakuan yang diterima begitu tulus, maka hadiahnya adalah kebahagiaan sementara." Jelasnya.
Aku tidak percaya dengan perkataannya. Mana ada hal seperti itu ada? Lalu dia pergi berbalik meninggalkan tempat ini.
Hilang begitu saja.
Aku mengejarnya dengan berlari namun, kabut kini menghalangi lagi. Sekarang yang aku lihat adalah pintu biasa. Aku membuka nya dan masuk ke dalam.
"Kau beruntung bisa hidup kembali seperti apa yang kau inginkan setelah masuk ke dalam pintu tersebut." Kata pria bertopeng itu. "Tidak sepertiku." Suaranya agak samar.
"Selamat tinggal." Langkah kakinya menjauh lagi.
Itulah kata terakhir yang aku dengar setelah memasuki pintu ini.
~
"Sekarang siapa pengunjung selanjutnya? Apakah kalian yang sedang membaca percakapan ini?" Tanya pria ber topeng itu.
Pada kalian.
End...
Yuk, guys! Kita masuk ke dunia abu-abu ini agar kita bisa tahu apa-apa saja yang kita tanam dan tuai. Lalu kita masuk ke pintu dimana kita bisa melakukan apapun yang kita inginkan!
Khusus bagi orang yang terpilih, ya!
Canda✌ namanya juga fiksi😚 Thank's! sudah membaca~