Kriingg… Kring… Kring.. Aku langsung mematikan alarmnya karena aku gak betah mendengar bunyi alarm. Aku bangun dan menuju kamar mandi, tiba tiba hp ku bunyi, sarah meneleponku, “Ren lo dimana sih, gue dan nunggu lo dari tadi.” astaga aku lupa, aku ada janji dengan sarah untuk berangkat bareng, dan janjinya jam 06:30 sekarang dah jam 06:45 “Maaf maaf gue lupa, lo mending ke rumah gue aja dulu” “Ah lo ini, ya udah deh gue kesitu dulu”.
Setelah aku selesai mandi dan siap siap berangkat sekolah, aku turun dan melihat sarah di ruang tamu dengan muka marah, aku ingin tertawa saat melihat sarah marah karena kalo sarah marah mukanya sangat lucu, tapi aku juga merasa bersalah karena sudah phpin dia. “Ngapain lo senyam senyum” bentak sarah melihatku tersenyum. Kita langsung berangkat sekolah.
Oh ya namaku rena dan sarah sahabatku dari smp, dan kita sekarang di smk dan jurusan yang sama.
Sesampainya di sekolah gerbang sekolah akan ditutup “Pak pak sebentar pak” teriak sarah. “Darimana saja kalian, kalian sudah gak boleh masuk” kata pak satpam. “Aduh pak gimana sih, kita tadi udah sampai, tapi kita pulang dulu karena buku saya ketinggalan” kata sarah berbohong, sarah memang jago kalau ngebohongin pak satpam itu, aku sendiri ingin tertawa saat sara mencari cari alasan. “Lalu kenapa kalian masih membawa tas” “Ya… Oh iya kenapa ya ren kita masih membawa tas” kata sarah sambil mengedipkan matanya padaku “Oh iya ya rah” ucapku sambil senyum senyum. Tiba tiba ada anak yang terlambat juga, dan dia sangat tidak asing bagiku, ya dia adalah deva orang yang sangat nyebelin di sekolah ini, “Eh nak deva ayo masuk” pak satpam langsung menyuruh deva masuk, karena deva adalah anak kepsek di sini. Saat kita mau masuk juga pak satpam menghalanginya “Loh pak kok gitu sih, kita mau masuk, kalau kita gak boleh masuk kita aduin ke kepsek” kataku yang sudah marah karena kepanasan. “Sudahlah pak izinkan mereka masuk” kata deva. Pak satpam langsung mengizinkannya. “Eemm makasih ya, karena kalau gak ada lo mungkin kita masih di depan gerbang” kataku. “Ya” kata deva cuek. Aku marah karena aku gak suka kalau dicuekin.
Sampainya di kelas aku marah marah di depan sarah “Ihh ada aja ya orang seperti si deva itu nyebelin banget” kataku “Sudahlah ren” “Masa gue ngomong dia hanya jawab ya dan langsung pergi sih”.
Bel istirahat berbunyi, karena aku suka baca buku aku pergi ke perpus sendiri karena sarah sedang ke kantin dulu. Setelah aku pinjam buku aku mau langsung ke kantin. Di depan perpus brruukkk aku tabrakan dengan deva, “Eh lo kalo jalan yang bener dong” bentak deva “Eh lo tu yang jalan gak lihat lihat” bentakku juga. “Awas lo” katanya sambil pergi. Sampainya di kantin aku menceritakanya pada sarah.
Akhirnya bel pulang sekolah berbunyi juga. Di jalan tiba tiba motor sarah mati dan kita terpaksa mendorongnya. Di jalan ada mobil yang melaju kencang di genangan air di depanku, dan otomatis airnya membasahiku dan sarah, mobil itu berhenti “Rasain lo” kata si pengendara mobil itu yang tidak lain adalah deva. “Dasar lo, gue gak akan maafin lo, awas lo” teriak gue dan sarah hampir bersamaan karena kita memang benar benar marah.
Sampainya di rumah aku ganti baju dan menelepon sarah. “Halo sarah, sekarang lo bisa gak ke rumah gue.” “Ok, emang ada apa” aku langsung mematikan teleponku tanpa menjawab pertanyaan sarah, karena aku masih kesal dengan dava.
Akhirnya sarah sampai juga di rumahku, “Ada apa ren” “Ayo ke kamarku dulu”. Sesampainya di kamarku, aku langsung menjelaskan kenapa aku menyuruh sarah ke rumahku. “Gini rah, aku sekarang masih marah dengan deva, aku mau besok dia kita kerjain, gimana pendapatmu” Kataku “Ok, baiklah besok kita kerjain dia.”
Aku dan sarah kali ini tidak terlambat lagi masuk sekolah karena kita sekarang sangat semangat. Semangat untuk mengerjai deva. “Ren kebetulan tu si deva bawa motor” kata sarah sambil menatap deva dengan tajam, aku juga tak kalah tajam menatap deva.
Bel istirahat berbunyi kita langsung ke kantin untuk melakukan misi kita. Kebetulan deva sedang di kantin, aku dan sarah menuju meja yang kosong, dan sarah langsung duduk sedangkan aku memesan makanan. Aku memesan bakso dan jus jeruk, setelah aku meletakan bakso di meja kami, aku langsung mengambil jus jeruknya, aku sengaja lama lama saat mengambil jus jeruk, karena aku ingin menunggu sampai deva berdiri, kebetulan deva berdiri karena ingin memesan jus jeruk juga, aku tidak membuang kesempatan ini, aku langsung berjalan cepat dan menabrak deva sehingga jus jeruknya tumpah di bajunya, aku pura pura gak tau dan meminta maaf. “Heh lo tu ya, jalan lihat lihat dong,” deva sangat marah “Eemm ma, maaf aku gak sengaja,” aktingku. “Dasar lo ya gue selalu apes kalau deket lo” “Eh tapi kebeneran lo kan mesen jus jeruk, ni udah datang, tapi kayaknya jus jeruknya juga benci deh sama lo, karena jus jeruknya memilih tumbah di baju lo” kataku mengejeknya, seraya anak anak yang di kantin pada tertawa. “Diam, diam kalian semua” ucapnya dengan nada marah, “Kenapa mereka disuruh diam” ucapku pura pura polos, “Awas lo, awas gue bakal balas ini semua” Katanya sambil pergi dari kantin. “Lo tu yang harus awas, awas nanti dimakan semut” teriakku sambil diiringi anak anak yang tertawa. Aku mengkampiri sarah yang sedang tertawa puas.
Saat pulang sekolah kita akan melanjutkan kembali misi kita. Kita ke parkiran untuk mencari motor deva, tapi sayangnya ada deva sedang duduk di motornya. Kita memikirkam bagaimana caranya untuk ngempesin ban motornya, tapi sialnya deva malah pulang duluan.
3 hari sudah berlalu sekolah kita akan mengadakan camping dan yang ikut hanya kelas 11 saja. Aku dan sarah menuju ke papan pengumuman. “Apaa, kita satu kelompok sama anak itu” ucap aku dan sarah hampir bersamaan karena kaget.
Hari itu pun tiba, hari dimana aku harus satu kelompok dengan deva. Setelah sampai di tempat tujuan, dan kita sudah mempersiapkan semuanya untuk nanti malam, aku dan sarah jalan jalan di hutan, hari sudah sore dan kita akan kembali ke tempat dimana kita berkumpul. Tapi kita sudah jalan sangat jauh dan tidak menemukan tempat perkemahan kita aku sangat takut “Duh bagaimana kalau kita tersesat” kataku takut, “Tenang lah kita tidak akan tersesat, aduhh tidak ada sinyal lagi di sini” sarah menenangkanku, kita berjalan dan terus berjalan sampai hari mulai gelap, untungnya aku menemukan sebuah gubuk kecil dan kita beristirahat disana, hujan pun turun. Tiba tiba ada suara kresek, kresek, aku sangat takut. “Hah apa itu” kataku kaget “Hust diamlah”. Tiba tiba ada orang yang mendekati gubuk kami, dan orang itu sangat aku kenal, ya deva. “Ngapain kalian disini” kata deva, “Tersesat” ucap aku dan sarah bersamaan.
Satu jam sudah kita bertiga disana, dan aku mulai menggigil, dan bersin bersin, tiba tiba “Nih pakai dari pada lo sakit nanti gue yang repot lagi” kata deva sambil memberikan jaketnya padaku, “Gak usah” jawabku “Nanti lo sakit gue yang repot” jawabnya sambil tetap memberikan jaketnya, “ren pakai nanti lo sakit” ucap sahabatku khawatir, aku lalu manerima jaketnya, “Makasih” Kataku, dia menganggukan kepalanya.
Pagi pun tiba kita berjalan terus dan akhirnya menemukan seorang petani dan menanyakan dimana letak perkemahan. Akhirnya kita sampai juga, mereka sangat menghawatirkan kita.
Saat pulang aku masih menggunakan jaketnya. Sesampainya di rumah aku ganti baju dan tidur, aku melihat jaketnya yang aku gantung di pinggir tempat tidurku, “Kenapa aku memikirkanya, apa aku mencintainya, ah tidak mungkin”
Keesokan harinya aku mengembalikan jaket deva. Semakin hari aku dan deva semakin dekat, sekarang kita selalu bersama, seperti daun dan batang. Akhirnya aku mulai sadar akan cintaku, saat aku sedang sendirian dan melamunkan rasa cintaku pada deva, tiba tiba deva menghampiriku. “Hey melamunin aku ya” kata deva mengagetkanku. “Iihh kamu ini” kataku, tiba tiba sarah datang dan memberikan buku yang dia pinjam “Ciee udah aku kamu nih, ni bukunya makasih ya” katanya “Apaan sih lo” “Ya udah lanjutkan gue tinggal dulu, daaa” katanya dambil meninggalkan kami berdua. “Rena” panggilnya “Ya” “Aku, aku suka sama kamu, mau kan kamu jadi pacar aku”, aku menganggukkan kepala “Aku juga suka dan cinta sama kamu”.